Kamis, 05 Februari 2009

Asuhan Keperawatan Klien dengan Asma



BAB I
PENDAHULUAN

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi dan asma terus meningkat tajam beberapa tahun terakhir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan pelayanan kesehatan anak Salah satu menifestasi penyakit alergi yang tidak ringan adalah asma. Penyakit asma terbanyak terjadi pada anak dan berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Alergi dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Sehingga penderita asma juga akan mengalami gangguan pada organ tubuh lainnya. Disamping itu banyak dilaporkan permasalahan kesehatan lain yang berkaitan dengan asma tetapi kasusnya belum banyak terungkap. Kasus tersebut tampaknya sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak, tetapi masih perlu penelitian lebih jauh. Dalam tatalaksanan asma anak tidak optimal, baik dalam diagnosis, penanganan dan pencegahannya.

Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1996, penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan sesak napas seperti bronchitis, emfisema, dan asma merupakan penyebab kematian ketujuh di Indonesia. Berdasarkan SO2RS tahun 1999, penyakit-penyakit tersebut menempati urutan pertama penyebab kematian. Asma yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu kualitas hidup anak berupa hambatan aktivitas 30 persen, dibanding 5 persen pada anak non-asma. Asma menyebabkan kehilangan 16 persen hari sekolah pada anak-anak di Asia, 34 persen di Eropa, dan 40 persen di Amerika Serikat. Banyak kasus asma pada anak tidak terdiagnosis dini, karena yang menonjol adalah gejala batuknya, bisa dengan atau tanpa wheezing (mengi).
Penyakit asma mengenai semua umur meski kekerapannya lebih banyak pada anak-anak dibanding dewasa. Asma lebih banyak diderita anak laki-laki. Pada usia dewasa lebih banyak pada perempuan. Resiko dan tanda alergi atau asma dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandunganpun mungkin sudah dapat terdeteksi. Alergi dan asma dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan tumbuh dan kembang anak secara optimal. Perbedaan prevalensi asma pada anak di kota biasanya lebih tinggi dibanding di desa. Terlebih pada golongan sosioekonomi rendah dibanding sosioekonomi tinggi. Pola hidup di kota besar meningkatkan risiko terjadinya asma baik prevalensi, morbiditas (perawatan dan kunjungan ke instalasi gawat darurat), maupun mortalitasnya. Lingkungan dalam rumah golongan sosioekonomi rendah mendukung pencetusan asma.

Asma adalah penyakit yang mempunyai banyak faktor penyebab. Yang paling sering karena factor atopi atau alergi. Penyakit ini sangat berkaitan dengan penyakit keturunan. Bila salah satu atau kedua orang tua, kakek atau nenek anak menderita asma bisa diturunkan ke anak. Faktor-faktor penyebab dan pemicu asma antara lain debu rumah dengan tungaunya, bulu binatang, asap rokok, asap obat nyamuk, dan lain-lain. Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut, buah-buahan, kacang juga dianggap berpernanan penyebab asma. Polusi lingkungan berupa peningkatan penetrasi ozon, sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksid (NOX), partikel buangan diesel, partikel asal polusi (PM10) dihasilkan oleh industri dan kendaraan bermotor. Makanan produk industri dengan pewarna buatan (misalnya tartazine), pengawet (metabisulfit), dan vetsin (monosodium glutamat-MSG) juga bisa memicu asma. Kondisi lain yang dapat memicu timbulnya asma adalah aktifitas, penyakit infeksi, emosi atau stres.
BAB II
ISI

A. DEFINISI
Asma bronkhiale adalah penyakit jalan napas obstruktif intermitten, reversible, dimana trakeobronkhiale berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronkhiale adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan (The American Thoracic Society).
B. ANATOMI DAN PATOLOGI ANATOMI



Gambar : Asma terjadi karena penyempitan, peradangan
& konstriksi otot bronkus.

C. ETIOLOGI

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhiale.
1. Faktor predisposisi
Berupa faktor genetik, dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena ada bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhiale jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersensitifitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.
2. Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1.) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ; debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
2.) Ingestan, yang masuk melalui mulut ; makanan, obat-obatan.
3.) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ; perhiasan, logam dan jam tangan.
b. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfer yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti : musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dnegan arah angin serbuk bunga dan debu.
c. Stress
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati, penderita asma yang mengalami stress juga perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
d. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya, orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabril asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
e. Olahraga / aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

D. KLASIFIKASI
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhiale dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, sebuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotik dan aspirin), dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti tersebut diatas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernapasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non alergik.

E. PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut ; seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya.
Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brinkhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibodi Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhiolus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhiolus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.

Pada asma, diameter bronkhiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkhiolus. Karena bronkhiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dipsnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru.
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat dalam Bagan Pathoflow (pohon masalah) Asma Bronkhial (terlampir).

F. GEJALA ASMA DAN MANIFESTASI KLINIS
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis. Tapi pada saat serangan penderita tampak bernapas cepat dan dangkal, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta otot-otot bantu pernapasan bekerja dengan keras. Gejala klasik asma bronkhiale diantaranya adalah sesak napas, bunyi mengi (wheezing), batuk dan rasa berat di dada, lendir atau dahak berlebihan, sukar keluar dan sering batuk kecil atau berdehem. Batuk biasanya lama di waktu malam hari atau cuaca sejuk.
Pada serangan asama yang lebih berat, gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : sianosis, gangguan kesadaran, tachicardi. Asma pada anak tidak harus sesak atau mengi. Batuk malam hari yang lama dan berulang pada anak harus dicurigai adanya asma pada anak. Ciri lainnya adalah batuk saat aktifitas (berlari, menangis atau tertawa). Kriteria berat ringannya penyakit asma ditentukan berdasarkan tipe dalam kebutuhan terhadap terapi atau obat-obatan. Kriteria menurut GINA (Global Initiative for Asma) :
Tabel 1. Klasifikasi derajat asma :
NO. DERAJAT ASMA GEJALA GEJALA MALAM FUNGSI PARU
1. Intermitten (Mingguan) - < 1 kali/minggu
- Tanpa gejala di luar serangan.
- Serangan singkat.
- Fungsi paru asimtomatik dan normal luar serangan. ≤ 2 kali sebulan. VEPI atau APE ≥ 80 %.
2. Persisten Ringan (Mingguan) - > 1 kali/minggu, tapi < 1 kali/hari.
- Serangan dapat mengganggu aktivitas tidur. > 2 kali seminggu. VEPI atau APE ≥ 80 % normal.
3. Persisten Sedang (Harian) - Gejala harian.
- Menggunakan obat setiap hari.
- Serangan mengganggu aktivitas tidur. > 1 kali seminggu VEPI atau APE > 60 % tetapi ≤ 80 % normal.
4. Persisten Berat (Kontinu) - Gejala terus menerus.
- Aktivitas fisik terbatas.
- Sering serangan. Sering. VEPI atau APE < 80 % normal.

Asma adalah salah satu manifestasi gangguan alergi. Keluhan alergi sering sangat misterius, sering berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya sesak selanjutnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Bagaimana keluhan yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). Reaksi alergi yang dapat menggganggu beberapa sistem dan organ tubuh dapat menyertai penderita asma.

Organ tubuh atau sistem tubuh tertentu mengalami gangguan atau serangan lebih banyak dari organ yang lain. Mengapa berbeda, hingga saat ini masih belum banyak terungkap. Gejala tergantung dari organ atau sistem tubuh , bisa terpengaruh bisa melemah. Jika organ sasarannya paru bisa menimbulkan batuk atau asma, pada kulit terjadi eksim, pada hidung terjadi pilek. Tak terkecuali otakpun dapat terganggu oleh reaksi alergi. Apalagi organ terpeka pada manusia adalah otak, sehingga dapat mengganggu perilaku.

Tabel 2. Manifestasi alergi lain yang dapat menyertai pada penderita asma :
1. Sering pilek, sinusitis, bersin, mimisan. tonsilitis (amandel), sesak, suara serak.
2. Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
3. Sering lebam kebiruan pada kaki atau tangan seperti bekas terbentur.
4. Kulit timbul bisul, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Sering menggosok mata, hidung atau telinga, kotoran telinga berlebihan.
5. Nyeri otot & tulang berulang malam hari.
6. Sering kencing, atau bed wetting (ngompol).
7. Gangguan saluran cerna : Gastroesofageal refluk, sering muntah, nyeri perut, sariawan, lidah sering putih atau kotor, nyeri gusi atau gigi, mulut berbau, air liur berlebihan, dan bibir kering.
8. Sering buang air besar (> 2 kali/hari), sulit buang air besar (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin.
9. Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat atau dingin. Sering berkeringat (berlebihan).
10. Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata, mata sering berkedip.
11. Gangguan hormonal : tumbuh rambut berlebihan di kaki dan tangan, keputihan.
12. Sering sakit kepala, migrain.

Alergi ternyata berkaitan dengan gangguan sistem susunan saraf pusat dapat menimbulkan beberapa manifestasi klinik, diantara dapat mengganggu neuroanatomi dan neuroanatomi fungsional. Sistem susunan saraf pusat adalah bagian yang paling lemah dan sensitif dibandingkan organ tubuh lainnya. Otak adalah merupakan pusat segala koordinasi sistem tubuh dan fungsi luhur. Sedangkan alergi dengan berbagai akibat yang bisa mengganggu organ sistem susunan saraf pusat dan disfungsi sistem imun itu sendiri tampaknya menimbulkan banyak manifestasi klinik yang dapat mengganggu perkembangan dan perilaku seorang anak.

Dampak Penyakit Alergi pada Fungsi Otak, diamati oleh G. Kay, Associate Professor Neurology dan Psychology Georgetown University School of Medicine Washington. Dampak penyakit alergi pada fungsi otak bermanifestasi sebagai menurunnya kualitas hidup, menurunnya suasana kerja yang baik, dan menurunnya efisiensi fungsi kognitif. Pasien dengan rinitis alergik dilaporkan mengalami penurunan kualitas hidup yang sama dengan yang dialami pasien-pasien dengan asma atau penyakit kronik serius lainnya. Penyakit alergi tidak saja mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan tetapi juga mengganggu aktivitas di waktu luang.

Beberapa studi empiris menunjukkan efek alergi terhadap fungsi kognitif dan mood. Marshall dan Colon tahun 1989 membuktikan bahwa pada kelompok pasien dengan rinitis alergi musiman mempunyai fungsi belajar verbal dan mood yang lebih buruk dibandingkan dengan kelompok pasien tanpa serangan alergi. Pada dua penelitian yang dilakukan oleh Vuurman, dkk dibuktikan bahwa kemampuan mengerjakan tugas sekolah pada murid-murid penderita alergi lebih buruk dibandingkan kemampuan murid-murid lain dengan usia.

Beberapa peneliti lain menunjukkan adanya hubungan antara penyakit alergi dengan gangguan kepribadian seperti sifat pemalu dan sifat agresif. Pada tes kepribadian dapat terlihat bahwa pasien-pasien alergi lebih bersifat mengutamakan tindakan fisik, lebih sulit menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial, dan mempunyai mekanisme defensif yang kurang baik. Jumlah serangan alergi yang dilaporkan oleh pasien ternyata berhubungan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, kesulitan berkonsentrasi, dan kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Reichenberg K mengadakan pengamatan pada anak penderita asma usia 7-9 tahun, didapatkan gangguan emosi dan gangguan perilaku lainnya. Jill S Halterman, dari the University of Rochester School of Medicine di Rochester, New York, melaporkan penderita asma di usia sekolah lebih sering didapatkan perilaku sosial yang negatif seperti mengganggu, berkelahi atau melukai teman lainnya. Juga didapatkan perilaku pemalu dan mudah cemas.

Alergi dengan berbagai mekanisme yang berkaitan dengan gangguan neuroanatomi tubuh dapat menimbulkan beberapa manifestasi klinis seperti sakit kepala, migrain, vertigo, kehilangan sesaat memori (lupa). Beberapa penelitian menunjukkan hal tersebut, misalnya Krotzky tahun 1992 mengatakan migraine, vertigo dan sakit kepala dapat disebabkan karena makanan alergi atau kimiawi lainnya. Strel'bitskaia tahun 1974 mengemukakan bahwa pada penderita asma didapat gangguan aktifitas listrik di otak, meskipun saat itu belum bisa dilaporkan kaitannya dengan manifestasi klinik.

Storfer dkk tahun 2000, melaporkan terdapat kecenderungan terjadi myopia (rabun jauh) 2 kali lebih besar, dalam pengamatan pada 2.720 anak penderita alergi dan asma. Sehingga anak alergi atau asma 2 kali lebih besar untuk memakai kaca mata sejak usia muda. Reaksi alergi dengan berbagai manifestasi klinik ke sistem susunan saraf pusat dapat mengganggu neuroanatomi fungsional, selanjutnya akan mengganggu perkembangan dan perilaku pada anak. Beberapa gangguan perilaku yang pernah dilaporkan pada penderita alergi juga pernah dilaporkan pada penderita asma.

Tabel 2. Gangguan perilaku yang sering dikaitkan dengan penderita alergi dan asma
1. GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur, sulit tidur, malam sering terbangun, duduk, gelisah saat memulai tidur, brushing (gigi gemeretak, beradu gigi), tidur ngorok dan mimpi buruk.
2. GANGGUAN KONSENTRASI : CEPAT BOSAN terhadap sesuatu aktifitas (kecuali menonton televisi, baca komik atau main game), TIDAK BISA BELAJAR LAMA, terburu-buru, tidak mau antri, TIDAK TELITI, sering kehilangan barang atau sering lupa, nilai pelajaran naik turun drastis. Nilai pelajaran tertentu baik, tapi pelajaran lain buruk. Sulit menyelesaikan pelajaran sekolah dengan baik. Sering mengobrol dan mengganggu teman saat pelajaran. BIASANYA ANAK TAMPAK CERDAS DAN PINTAR.
3. EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, suka membantah dan sulit diatur. Cengeng atau mudah menangis.
4. GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIK KAKI DAN MULUT :Tidak bisa BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK sesuai usia. Berjalan sering terjatuh dan terburu-buru, sering menabrak, jalan jinjit, duduk leter W/kaki ke belakang. Terlambat mengayuh sepeda, keterlambatan dan gangguan proses mengunyah makanan.
5. IMPULSIF : banyak bicara / tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain.

G. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
a. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
b. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
c. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
d. Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
2. Pemeriksaan Darah
a. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia atau asidosis.
b. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
c. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm³ dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut :
1.) Bila disertai dengan bronkhitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
2.) Bila terdapat komplikasi empisema, maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.
3.) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat pada paru.
4.) Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
5.) Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
b. Pemeriksaan Tes Kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
c. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :
1.) Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation.
2.) Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBBB (Right Bundle Branch Block).
3.) Tanda-tanda hipoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negatif.

d. Scanning Paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
e. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adreenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20 % menunjukkan diagnosis asma. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.

H. PENATALAKSANAAN DAN PENCEGAHAN ASMA
Prinsip umum pengobatan asma bronkhiale adalah :
1. Menghilangkan obstruksi jalan napas dengan segera.
2. mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma.
3. Memberikan penjelasan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnya.

Pengobatan pada asma bronkhiale terbagi menjadi 2 macam, yaitu :
1. Pengobatan non farmakologik
a. Memberikan penyuluhan.
b. Menghindari faktor pencetus.
c. Pemberian cairan.
d. Fisioterapi.
e. Pemberian oksigen (bila perlu)
2. Pengobatan farmakologik
a. Bronkhodilator
Obat yang melebarkan saluran napas. Terbagi menjadi 2 golongan :
1.) Simpatomimetik / adrenergik (adrenalin dan efedrin)
Nama obat : orsiprenalin (alupent), fenoterol (berotec), terbutalin (bricasma). Obat-obat golongan ini tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan : MDI (Metered Dose Inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (ventolin diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan bronkodilator (Alupent, berotec, bricasma) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus) untuk selanjutnya dihirup.
2.) Santin
Nama obat : Aminofilin (Amicam supp.), Aminofilin (Euphilin Retard), Teofilin (Amilex). Efek teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.
Cara pemakaian : bentuk suntikan teofilin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
b. Kortikosteroid
Kortikosteroid merupakan obat yang secara langsung mempunyai efek terhadap komponen inflamasi dan menghambat pelepasan mediator dari sel mast. Obat ini juga meningkatkan kerja obat beta-2 agonis dengan mesensitisasi beta-2 reseptor. Kortikosteroid sangat efektif untuk mengontrol asma kronik dan obat ini harus diberikan pada asma akut berat karena akan memberikan efek terapi yang jelas serta menurunkan angka kematian.
c. Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama pada anak-anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
d. Ketotifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis 2 x 1 mg /hari. Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral.
e. Selain obat-obat di atas, obat lain seperti antibiotika, mukolitik dan ekspektoran diberikan atas indikasi. Sedangkan pemberian obat penenang tidak dianjurkan karena dapat menekan pusat pernapasan. Antihistamin akan mengentalkan sekret, sebaiknya tidak diberikan kecuali bila jelas ada tanda-tanda alergi.

Penanganan alergi dan asma pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi, tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi dan asma tersebut. Saat ini terapi yang terbaik yang direkomendasikan adalah kombinasi pengobatan dengan long acting β-2 agonis dan kortikosteroid dalam satu bentuk inhalasi. Long acting β-2 agonis ini berguna untuk menstimulasi adenil siklase intraseluler, enzim yang berguna untuk mengubah ATP menjadi siklik AMP, peningkatan AMP ini dapat menyebabkan otot polos bronkus berelaksasi dan menghambat pelepasan mediator hipersensitivitas yang bersifat segera, terutama sel mast. Sedangkan kortikosteroid berguna untuk anti inflamasi dengan manghambat aktivasi dari eosinofil dan menghambat pelepasan mediator inflamasi selanjutnya.
Pemakaian terapi hirupan pada penderita asma khususnya pada anak di Indonesia saat ini masih belum banyak digunakan. Di negara maju terapi ini justru lebih banyak digunakan karena lebih efektif, lebih aman dan relatif murah dibandingkan dengan obat minum. Tetapi di Indonesia orang tua sering menolak kalau sudah diberi anjuran terapi hirupan. Dengan pengobatan hirupan tersebut dianggap asma anaknya sudah sangat mengkawatirkan. Tampaknya sosialisasi lebih jauh tentang penggunaan terapi hirupan pada asma ini harus segera dilakukan.

Bila terdapat riwayat keluarga baik saudara kandung, orangtua, kakek, nenek atau saudara dekat lainnya yang alergi atau asma. Atau bila anak sudah terdapat ciri-ciri alergi sejak lahir atau bahkan bila mungkin deteksi sejak kehamilan maka harus dilakukan pencegahan sejak dini. Faktor resiko yang bisa dikenali sejak lahir adalah gangguan sesak saat lahir (Transient Tachypnea of the Newborn), bayi lahir sangat rendah (prematur) atau bronkopulmunar displasia, Resiko alergi atau asma pada anak dikemudian hari dapat dihindarkan bila kita dapat mendeteksi dan mencegah sejak dini.

Pencegahan alergi terbagi menjadi 2 tahap, yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier.
1. Pencegahan Primer, bertujuan menghambat sensitisasi imunologi oleh makanan terutama mencegah terbentuknya Imunoglobulin E (IgE). Pencegahan ini dilakukan sebelum terjadi sensitisasi atau terpapar dengan penyebab alergi. Hal ini dapat dilakukan sejak saat kehamilan.
2. Pencegahan sekunder, bertujuan untuk mensupresi (menekan) timbulnya penyakit setelah sensitisasi. Pencegahan ini dilakukan setelah terjadi sensitisasi tetapi manifestasi penyakit alergi belum muncul. Keadaan sensitisasi diketahui dengan cara pemeriksaan IgE spesifik dalam serum darah, darah tali pusat atau uji kulit. Saat tindakan yang optimal adalah usia 0 hingga 2 tahun.
3. Pencegahan tersier, bertujuan untuk mencegah dampak lanjutan setelah timbulnya alergi. Dilakukan pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menunjukkan manifestasi penyakit yang masih dini tetapi belum menunjukkan gejala penyakit alergi yang lebih berat. Saat tindakan yang optimal adalah usia bulan hingga 4 tahun. Kontak dengan antigen harus dihindari selama periode rentan pada bulan-bulan awal kehidupan, saat limfosit T belum matang dan mukosa usus kecil dapat ditembus oleh protein makanan.

Ada beberapa upaya pencegahan yang perlu diperhatikan supaya anak terhindar dari keluhan alergi yang lebih berat dan berkepanjangan :
1. Hindari atau minimalkan penyebab alergi sejak dalam kandungan, dalam hal ini oleh ibu. Bila ibu hamil didapatkan gerakan atau tendangan janin yang keras dan berlebihan pada kandungan disertai gerakan denyutan keras (hiccups/cegukan) terutama malam atau pagi hari, maka sebaiknya ibu harus mulai menghindari penyebab alergi sedini mungkin. Dalam keadaan seperti ini Committes on Nutrition AAP menganjurkan eliminasi diet jenis kacang-kacangan.
2. Pemberian makanan padat dini dapat meningkatkan resiko timbulnya alergi. Bayi yang mendapat makanan pada usia 6 bulan mempunyai angka kejadian dermatitis alergi yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mulai mendapat makanan tambahan pada usia ² bulan.
3. Hindari paparan debu di lingkungan seperti pemakaian karpet, korden tebal, kasur kapuk, tumpukan baju atau buku. Hindari pencetus binatang (bulu binatang piaraan kucing dsb, kecoak, tungau pada kasur kapuk).
4. Tunda pemberian makanan penyebab alergi, seperti ayam di atas 1 tahun, telor, kacang tanah di atas usia 2 tahun dan ikan laut di atas usia ² tahun.
5. Bila membeli makanan dibiasakan untuk mengetahui komposisi makanan atau membaca label komposisi di produk makanan tersebut.
6. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat mencegah resiko alergi pada bayi . Bila bayi minum ASI, ibu juga hindari makanan penyebab alergi. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu dapat masuk ke bayi melalui ASI. Terutama kacang-kacangan, dan dipertimbangkan menunda telur, susu sapi dan ikan. Meskipun masih terdapat beberapa penelitian yang bertolak belakang tentang hal ini.
7. Committes on Nutrition AAP menganjurkan pemberian suplemen kalsium dan vitamin selama menyusui.
8. Bila ASI tidak memungkinkan atau kalau perlu kurang gunakan susu hipoalergenik formula untuk pencegahan terutama usia di bawah 6 bulan.Bila dicurigai alergi terhadap susu sapi bisa menggunakan susu protein hidrolisat. Penggunaan susu soya harus tetap diwaspadai karena 30 – 50% bayi masih mengalami alergi terhadap soya.
9. Bila timbul gejala alergi, identifikasi pencetusnya dan hindari.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASMA BRONKHIAL

A. Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut:
1. Riwayat kesehatan yang lalu:
 Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya.
 Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan.
 Kaji riwayat pekerjaan pasien.
2. Aktivitas
 Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas.
 Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan
 aktivitas sehari-hari.
 Tidur dalam posisi duduk tinggi
3. Pernapasan
 Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.
 Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur.
 Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu, melebarkan hidung.
 Adanya bunyi napas mengi.
 Adanya batuk berulang.
4. Sirkulasi
 Adanya peningkatan tekanan darah.
 Adanya peningkatan frekuensi jantung.
 Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis.
 Kemerahan atau berkeringat.

5. Integritas ego
 Ansietas
 Ketakutan
 Peka rangsangan
 Gelisah
6. Asupan nutrisi
 Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
 Penurunan berat badan karena anoreksia.
7. Hubungan sosal
 Keterbatasan mobilitas fisik.
 Susah bicara atau bicara terbata-bata.
 Adanya ketergantungan pada orang lain.
8. Seksualitas
 Penurunan libido

B. Prioritas Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d bronkospasme.
2. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus).
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d nafsu makan menurun.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuatnya imunitas.
5. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi ;salah mengerti tentang informasi.
C. Intervensi Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d bronkospasme.
Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas dengan bunyi bersih dan jelas.
Intervensi Rasional :
Mandiri
1) Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, ex: mengi.
Rasional ; Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas.
2) Kaji / pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi ekspirasi.
Rasional : Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut
3) Catat adanya derajat dispnea,ansietas, distress pernafasan, penggunaan obat bantu.
Rasional : Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan dirumah sakit.
4) Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien, contoh : meninggikan kepala tempat tidur, duduk pada sandara tempat tidur.
Rasional : Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi
5) Pertahankan polusi lingkungan minimum, contoh: debu, asap dll.
Rasional : Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut.
6) Tingkatkan masukan cairansampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung, memberikan air hangat.
Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret, penggunaan cairan hangat dapat menurunkan kekentalan sekret, dan dapat menurunkan spasme bronkus
Kolaborasi
1) Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator.
Rasional : Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas, mengi, dan produksi mukosa.



2. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus).
Hasil yang diharapkan : ; perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan edekuat
Intervensi Rasional :
Mandiri
1) Kaji/awasi secara rutin kulit dan membran mukosa.
Rasional : Sianosis mungkin perifer atau sentral keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia.
2) Palpasi fremitus.
Rasional : Penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumplan cairan/udara.
3) Awasi tanda vital dan irama jantung.
Rasional : Tachicardi, disritmia, dan perubahan tekanan darah dapat menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.
Kolaborasi
1) Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien.
Rasional : Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d nafsu makan menurun
Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yangtepat
Intervensi rasional :
Mandiri:
1) Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kerusakan makanan.
Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dipsnea.
2) Sering lakukan perawatan oral, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai.
Rasional : Rasa tak enak, bau menurunkan nafsu makan dan dapa menyebabkan mual/muntah dengan peningkatan kesulitan nafas.
Kolaborasi
1) Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi untuk makan, meningkatkan masukan

4. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuatnya imunitas
Hasil yang diharapkan :
 mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.
 Perubahan ola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman.
Intervensi Rasionalisasi :
Mandiri
1) Awasi suhu.
Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi
2) Kaji pentingnya latihan napas, batuk efektif, perubahan posisi sering, dan masukan cairan adekuat
Rasional : Meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran secret untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi paru
3) Tunjukkan dan Bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum.
Raional : Mencegah penyebaran patogen melalui cairan
4) Awasi pengunjung; berikan masker sesuai dengan indikasi
Rasional : Menurunkan potensial terpajan pada penyakit infeksius
5) Dorong keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
Rasional : Menurunkan kebutuhan keseimbangan oksigen dan memperbaiki pertahanan pasien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan

6) Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat
Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi
Kolaborasi
1) Dapatkan specimen sputum dengan batuk atau pengisapan untuk pewarnaan gram, kultur/sensitifitas.
Rasional : untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan kerentanan terhadap berbagai anti microbial

5. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi ;salah mengerti tentang informasi
Hasil yang diharapkan :
 Menyatakan pemahaman tentang kondisi/proses penyakit dan tindakan
 Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalamprogram pengobatan
Intervensi Rasionalisasi :
Mandiri :
1) Jelaskan tentang proses penyakit individu
Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.
2) Diskusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.
Rasional : Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan
3) Tunjukkan tehnik penggunaan inhaler.
Rasional : Pemberian obat yang tepat meningkatkan keefektifanya.
4) Diskusikan faktor individu yang dapat meningkatkan kondisi, mis; udara terlalu kering, angin, lingkungan dengan suhu extrem, serbuk, asap tembakau, sprei aerosol, polusi udara,
Rasional : Faktor lingkunan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronkhial sehingga peningkatan produksi secret dan hambatan jalan napas

D. Evaluasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, klien dapat menunjukkan perbaikan kondisi yang ditunjukkan dengan :
 Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih/jelas
 Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, misalnya; batuk efektif, dan mengeluarkan sekret
 Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan beban gejala distres pernafasan
 Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat
 Menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko individu
 Tidak terjadi proses infeksi
 Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan

BAB IV
KESIMPULAN

Sering kambuh dan berulangnya keluhan asma, sehingga sering orang tua frustasi akhirnya ”shopping” atau berpindah-pindah ke beberapa dokter. Hal ini dilakukan karena sering kali keluhan alergi pada anak tersebut sering kambuh meskipun diberi obat yang paling mahal dan paling baik. Bila penatalaksanaan tidak dilakukan secara baik dan benar maka keluhan alergi atau asma akan berulang dan ada kecenderungan membandel. Berulangnya kekekambuhan tersebut akan menyebabkan meningkatnya pengeluaran biaya kesehatan. Tetapi yang harus lebih diperhatikan adalah meningkatkannya resiko untuk terjadinya efek samping akibat pemberian obat. Tak jarang penderita asma mendapatkan antibiotika dan steroid dalam jangka waktu yang lama. Setelah berganti-ganti dokter biasanya orang tua pasien baru menyadari sepenuhnya kalau anaknya alergi setelah mengalami sendiri kalau keluhannya membaik setelah dilakukan penghindaran makanan tanpa harus minum obat.

Pada anak yang mengalami gejala alergi yang terus menerus tidak terkendali maka sangat mengganggu prestasi sekolah. Prestasi di sekolah terganggu karena seringnya absen di pelajaran sekolah dan yang lebih utama juga disebabkan adanya gangguan belajar, gangguan konsentrasi atau pemusatan perhatian dan gangguan perilaku lainnya. Penderita alergi dan asma dapat mengakibatkan gangguan gizi ganda pada anak. Gizi ganda artinya dapat menimbulkan kegemukan (berat badan lebih) atau bahkan sebaliknya terjadi malnutrisi atau berat badan kurang. Penderita asma beresiko mengalami terjadi reaksi anafilaksis akibat alergi makanan fatal yang dapat mengancam jiwa. Makanan yang terutama sering mengakibatkan reaksi yang fatal tersebut adalah kacang, ikan laut dan telor.

Sering dijumpai bahwa penderita asma pada anak mendapatkan overdiagnosis (diagnosis berlebihan) atau overtreatment (pengobatan berlebihan). Paling sering ditemui adalah penderita asma yang didiagnosis dan diobati sebagai tuberkulosis dan pnemoni (infeksi paru-paru) hanya berdasarkan foto rontgen dada.

Penderita alergi atau asma sering mengalami gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri. Pada penderita alergi tampak anak mudah mengalami sakit infeksi saluran napas baik berupa faringitis akut (infeksi tenggorok), tonsilitis (amandel) dan infeksi saluran napas akut lainnya. Sehingga sering didapatkan seorang anak setiap bulan harus berobat ke dokter karena sering sakit panas, batuk, pilek atau infeksi saluran napas dan mudah terkena penyakit infeksi lainnya secara berulang. Biasanya keluhan tersebut terjadi hampir setiap bulan bahkan kadang satu bulan terinfeksi sampai 2 hingga 3 kali. Keluhan tersebut biasanya terjadi paling sering di bawah usia 2 tahun, di atas 2 tahun sudah semakin berkurang akhirnya usia di atas 5- 7 tahun semakin jarang.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Childrenallergycenter.joeuser.com/article/12 Maret 2008/19:20 WIB.

Guyton & Hall, (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Hudak & Gallo, (1997). Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Volume 1. Jakarta : EGC.

Info-penyakit.blogspot.com/2007/08/peny.asma/12 Maret 2008/19:07 WIB.

Mansjoer, A., (2001). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1. Jakarta : EGC.

Moodpro.tripod.com/inyakit/asma_P91/12 Maret 2008/19:05 WIB

Price & Wilson, L.M., (1995). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC.

Staff Pengajar FKUI, (1997). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Info Medika.

www.infoibu.com/12/03/2008/19:15

www.medicastore.com/2007/12/04/copd/12 Maret 2008/19:30

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kreatif juga... bagus mbak telah mmbantu tugas kul saya.. tolong diperbanyak lagi referensinya ya....

Ailiyun mengatakan...

Thanks ya,,,,InsyAllah saya akan menambah artikel yg bermanfaat.
Untuk semuanya yg mau Koment,,,tolong di kasih nama n email ya,,,,thanks

regardly
ailiyun