Senin, 01 Desember 2008

RISALAH pertemuan LRP-RN – DPD R.I – Delegasi University of UTAH ( U.S.A )
Ruang Sidang A, DPD-R.I Senayan-Jakarta, 25 November 2008

Pertemuan ini digagas oleh Dewan Perwakilan Daerah ( DPD ) - R.I dengan melibatkan Lembaga Registrasi Profesi – Registered Nurse ( LRP-RN ) Indonesia dalam rangka menyongsong implikasi kesepakatan global di bidang keperawatan “Mutual Recognition Arrangement ( MRA ) On Nursing Services “ yang telah ditetapkan bersama oleh perwakilan pemerintah 10 negara – Negara ASEAN untuk diberlakukan terhitung mulai 01 Januari 2010. Mengingat waktu yang tersedia “hanya” tinggal 1 tahun menyongsong.

Pertemuan berlangsung hangat, diawali dengan presentasi mengenai kondisi terkini kesiapan LRP-RN dalam melaksanakan sertifikasi RN serta mengimplementasikan System RN di Indonesia, penjelasan mengenai kesepakatan MRA On Nursing Services yang secara kontekstual menetapkan kesepakatan untuk mempergunakan terminology RN bagi seorang perawat professional sehingga memenuhi kualifikasi dasar pertukaran, transformasi dan pendidikan dari jasa keperawatan professional.

Makna dari kalimat ini adalah bahwa Hanya seorang RN-lah yang disepakati diakui sebagai perawat professional. Sementara realita typology keperawatan di Indonesia saat ini adalah bahwa setiap tahunnya sekitar 31.000 perawat lulus dari pendidikan keperawatan di Indonesia dengan tidak tersertifikasi RN, artinya para perawat tersebut belum memenuhi kualifikasi sebagai seorang perawat professional ( RN ). Padahal daya serap tenaga kerja perawat di dalam negri setiap tahunnya hanya berkisar 8000 orang perawat pertahun. Nampak jelas bahwa peluang justru terpampang di Luar negri, hanya saja peluang tersebut barulah terbuka manakala seorang perawat telah memperoleh sertifikasi RN.

Sementara di dalam negri, Arus globalisasi dalam bidang keperawatan ( MRA On Nursing Services ) yang HANYA tenggat 1 tahun dari tanggal pelaksanaannya ( 01 januari 2010 ) dapat merupakan ancaman bagi eksistensi keperawatan Indonesia, apabila hal ini tidak dipersiapkan dengan SEGERA mensertifikasi RN-kan potensi keperawatan Indonesia. Sebab, tanpa sertifikasi RN, kelak perawat Indonesia hanya akan menjadi tamu/pembantu bagi perawat asing di negri-nya sendiri. Sungguh sebuah ironi bagi Negara yang memiliki kuantitas keperawatan yang luar biasa. Sebab besarnya kuantitas tersebut, tidak dapat memberikan sumbangsih yang bermakna bagi perekonomian dan devisa Negara, maupun harag diri bangsa di mata dunia internasional tanpa sertifikasi RN.

Mensiasati kondisi ini, masih menurut paparan LRP-RN, segenap potensi bangsa perlu terlibat langsung, unsur pemerintah, baik Depkes R.I maupun BNSP, legislatif, serta LRP-RN sebagai Lembaga yang memiliki kompetensi berstandar ISO 17024 maupun ISO 15189 dalam menyelenggarakan proses assessment sertifikasi RN, maupun Organisasi Profesi yang mampu berperan dalam memberikan ciri sebuah perawat professional (RN) melalui penetapan standard seorang RN ( yang diadopsi dari WPSEAR: “ standard 18 core competencies RN “ )

Komentar maupun rekomendasi Mrs. Jerry burr MN, RN-BC, CCRC selaku delegasi University of UTAH-Amerika menanggapi paparan LRP-RN :
1. Apa yang dipaparkan/sudah dilakukan maupun dipersiapkan oleh LRP-RN sungguh sebuah pekerjaan yang luar biasa, secara konseptual LRP-RN sudah sangat siap mengaplikasikan system RN di Indonesia, terbukti dengan segala dokumen panduan mutu sampai dengan dokumen level-IV yang sudah dipersiapkan lengkap.
2. secara pribadi, Jerry burr bahkan menegaskan kekagumannya terhadap hasil kerja anak Indonesia (LRP-RN) dengan mengatakan bahwa, sangat baik apabila LRP-RN bekerjasama langsung dengan otoritas penyelenggara sertifikasi RN di Negara maju yang telah lebih dulu menerapkan system RN, karena pengkajian terhadap system LRP-RN ini tidak mungkin hanya cukup dengan pertemuan singkat ( 1 hari ) mengingat secara substansial, apa yang telah dipaparkan sangat terukur dengan standard.
3. Dahulu di Amerika ada beberapa dewan keperawatan yang mencoba merumuskan standar kompetensi RN, dewan tersebut tergabung dalam Amerikan Nurse Association yang menyelenggarakan uji sertifikasi RN untuk menetapkan standar yang dipergunakan.
4. Pembuktian program ini dapat melalui Riset/uji coba apliaksi system RN kemudian hasilnya di paparkan dan didiskusikan dengan Regulator.
5. Dengan adopsi system RN yang sudah berjalan baik di Negara maju, penerapan system ini lebih mudah, karena Indonesia melalui IRNI tidak perlu merintis dari dasar, sehingga tidak perlu harmonisasi ( penyetaraan standar dalam negeri oleh pihak luar,karena LRP-RN sudah mengadopsi standar internasional yang sudah disepakati 169 negara ).
6. Penegasan untuk membina hubungan bekerjasama dengan negara yang sudah menerapkan RN, dan laporkan maupun sarankan kepada mentri kesehatan sebagai regulator keperawatan.

Pertemuan di tutup dengan kesimpulan yang disimpulkan oleh Bpk. Parlindungan Purba sebagai anggota DPD-RI :
1. Jelaslah bahwa secara substansi, kerja besar yang telah dibuat LRP-RN membuktikan bahwa Indonesia siap untuk menerapkan system RN.
2. Kebutuhan akan perlunya sertifikasi RN di Indonesia sebetulnya bukan pilihan, melainkan keharusan karena suka atau tidak, arus globalisasi tetap akan berlaku pada 1 januari 2010.
3. pilihannya hanya : persiapkan diri untuk bertarung di kancah internasional atau terlena menanti kemunduran.
4. Akhirnya, LRP-RN ibarat sebuah rumah yang sudah dibangun lengkap dengan fasilitasnya, HANYA instalasi listrik yang belum terhubung. Peran anggota dewan maupun pemerintah adalah menghubungkan instalasi listrik tersebut, sehingga rumah itu siap dipergunakan.


Penyusun risalah

Moh.Arief Hidayat
Manajer sertifikasi
Read More..

Osteoporosis Pada Lansia

BAB 1
PENDAHULUAN
Proses menua merupakan suatu proses normal yang ditandai dengan perubahan secara progresif dalam proses biokimia, sehingga terjadi kelainan atau perubahan struktur dan fungsi jaringan, sel dan non sel. (Widjayakusumah, 1992). Berbagai perubahan fisik dan psikososial akan terjadi sebagai akibat proses menua. Terjadinya perubahan pada semua orang yang mencapai usia lanjut yang tidak disebabkan oleh proses penyakit, menyebabkan kenapa penderita geriatrik berbeda dari populasi lain. (Brocklehurst and Allen, 1987).
Sejumlah gangguan muskuloskeletal dapat timbul pada lansia. Beberapa diantaranya merupakan kelanjutan dari penderitaan sebelum usia lanjut dan sering menimbulkan kecacatan. Dengan meningkatnya populasi lansia, meningkat pula prevalensinya pada lansia akibat proses degeneratif. Dan tak jarang pula gangguan muskuloskeletal pada lansia menimbulkan kemunduran fisik dan disabilitas yang sangat berpengaruh dalam hidup lansia. Diantara banyaknya penyebab gangguan muskuloskeletal pada lansia, osteoarthritis merupakan salah satu dari beberapa penyebab utama yang menimbulkan disabilitas orang yang berusia > 65 tahun. Selain osteoartritis, gangguan lain pada muskuloskeletal yang juga sering dapat menimbulkan disabilitas yaitu artritis rheumatoid, artritis gout, osteoporosis juga amiloidosis. Untuk memulihkan penderita dari disabilitas akibat gangguan muskuloskeletal diperlukan tindakan rehabilitasi yang merupakan gabungan pengobatan medis dan fisioterapi, bila perlu tindakan pembedahan. (limarwin.2008).



BAB 2
Masalah MOBILISASI PADA LANSIA (OSTEOPOROSIS
)

A. LANSIA
Lanjut usia adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikarunia usia panjang, terjadi tidak bisa dihindari oleh siapapun, namn manusia dapat berupaya untuk menghambat kejadiannya. Menua (menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dann fungsi normal sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memkperbaiki kerusakkan yang diderita. (Sampoernae.blogspot, 2008)

B. SISTEM MUSKULOSKELETHAL
Mobilitas merupakan salah satu yang paling penting dari aspek fungsi Physiologi, karena merupakan hal yg paling utama untuk memelihara kemandirian, dan akan terjadi akibat yang serius ketika kemandirian hilang.Untuk orang tua, mobilitas mempengaruhi untuk derajat kecil oleh perubahan yang berhubungan dengan umur dan yang paling besar oleh factor resiko, Karenna banyak factor resiko yang mengancam mobilitas, jatuh adalah merupakan kejadian yangpaling umum pada lanjut usia. Orang tua mempunyai tantangan dobel dalam ketrampilan memelihara mobilitas dan memelihara posisi yang benar ketika mereka berjalan. Untuk alasan ini, keselamatan merupakan pertimbangan secara menyeluruh dari aspek mobilitas.
Tulang, Sendi dan otot adalah struktur tubuh yang paling banyak berhubungan dengan mobilitas. Tetapi banyak aspek fungsi lain yang termasuk pada keselamatan mobilitas. Fungsi neurology sebagai contoh mampu mempengaruhi semua masalah penampilan muskuloskelethal, dan fungsi penglihatan mempengaruhi kemampuan untuk keselamatan berinteraksi dengan lingkungan. Dalam sistem muskulokelethal, osteoporosis merupakan perubahan yang berhubungan dengan umur berdampak paling besar secara keseluruhan.


Perubahan pada sistem muskuloskeletal antara lain sebagai berikut :

I. Tulang
Tulang menyediakan kerangka untuk semua sistem muskuloskelethal dan bekerja terhubung dengan sistem otot untuk memfasilitasi pergerakan. Fungsi tambahan tulang pada tubuh manusia adalah penyimpanann calcium, produksi sel darah, dan mendukung serta melindungi jaringan dan organ tubuh. Tulang terbentuk dari lapisan luar yang keras disebut cortical atau tulang padat, dan di bagian dalm terdapat spongy berlubang yang disebut trabecular. Bagian cortical terhadap komponen tabecular berubah berdasrkan tipe tulang. Tulang panjang misalnya, radius dan femur, mengandung sebanyak 90% corticol, sedangkan tulang vertebrata susunan utamanya adalah sel trabecular. Corticol dan trabecular merupakan komponen tulang yang berpengaruh pada lansia.
Pada lansia terdapat perubahan pada susuanan pembentukan tulang, yaitu :
a)Tulang cortical
Mulai umur 40 tahun, terjadi perubahan penurunan sejumlah tulang cortical 3 % perdecade pada laki-laki dan wanita berlanjut terus sampai ahir dewasa
 Setelah menopause, Wanita terjadi penambahan penurunan/ kehilangan tulang cortical, sehingga jumlah rata-rata penurunan mencapai 9% sampai 10 % perdecade pada umur 45-75 tahun.
 Penurunan tulang cortical berakhir pada umur 70-75 tahun
 Hasil akhir perubahan ini seumur hidup kira-kira 35%-23% pada wanita dan laki-laki berturut-turut
b) Tulang Trabecular
 Serangan hilangnya tulang trabecular lebih dulu dari serangan kehilangan cortical pada wanita dan laki-laki.
 Rata-rata hilangnya tulang trabecular kira-kira 6%-8% perdecade
 Setelah menopause, wanita terjadi kehilangan tulang trabecular secara cepat
 Hasil akhir kehilangan seumur hidup kira-kira 50%- 33% pada wanita dan laki-laki seumur hidup
c) Peningkatan resorbsi tulang oleh tubuh
d) Penurunan penyerapan kalsium
e) Serum parathyroid hormone meningkat
f) Gangguan regulasi aktivitas oesteoblast
g) Gangguan pembentukan tulang, sekunder untuk mengurangi matriks tulang
h) Penurunan jumlah fungsi sel marrow yang digantikan oleh jaringan sel lemak

II. Otot
Semua kegiatan sehari – hari (ADL) langsung dipengaruhi oleh fungsi otot, yang di kendalikan oleh saraf motorik. Perubahan yang berhubungan dengan usia berdampak besar pada fungsi otot, yaitu ;
 Hilangnya masa otot sebagai hasil penurunan dalam ukuran dan jumlah serat otot
 Penurunan serat otot dengan penggantian selanjutnya oleh jaringan penghubung dan akhirnya oleh jaringan lemak.
 Penurunan membrane sel otot dan keluarya cairan dan potassium.
Dengan umur 80 tahun, kira-kira masa otot hilang (Tonna, 1987). Pada penjumlahan, terdapat kehilangan saraf motorik yang berhubungan dengan usia, dan ini mempengaruhi fungsi otot. Dan pada akhirnya perubahan yang berhubungan dengan usia adalah kemunduran fungsi motorik dan hilangnya kekuatan dan ketahanan otot.

III. Persendian
 Penurunan viskositas cairan sinovial
 Terbentuknya jaringan parut dan adanya kalsifikasi pada persendian.
 Jaringan penghubung (kolagen dan elastin).
Kolagen sebagai protein pendukung utama pada kulit, tendon, tulang, kartilago, dan jaringan ikat mengalami perubahan menjadi bentangan cross linking yang tidak teratur. Bentangan yang tidak teratur dan penurunan hubungan tarikan linear pada jaringan kolagen merupakan salah satu alasan penurunan mobilitas pada jaringan tubuh. Setelah kolagen mencapai puncak fungsi atau daya mekaniknya karena penuaan, tensile strenght dan kekakuan dari kolagen mulai menurun.
Kolagen dan elastin yang merupakan jaringan ikat pada jaringan penghubung mengalami perubahan kualitatif dan kuantitatif sesuai penuaan. Perubahan pada kolagen itu merupakan penyebab turunnya fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan dampak berupa nyeri, penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot, kesulitan bergerak dari duduk ke berdiri, jongkok dan berjalan, dan hambatan dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari.
 Kartilago.
Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata. Selanjutnya kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung ke arah progresif. Proteoglikan yang merupakan komponen dasar matriks kartilago berkurang atau hilang secara bertahap. Setelah matriks mengalami deteriorasi, jaringan fibril pada kolagen kehilangan kekuatannya dan akhirnya kartilago cenderung mengalami fibrilasi. Kartilago mengalami kalsifikasi di beberapa tempat, seperti pada tulang rusuk dan tiroid. Fungsi kartilago menjadi tidak efektif, tidak hanya sebagai peredam kejut , tetapi juga sebagai permukaan sendi yang berpelumas. Konsekuensinya kartilago pada persendian menjadi rentan terhadap gesekan. Perubahan tersebut sering terjadi pada sendi besar penumpu berat badan. Akibat perubahan itu sendi mudah mengalami peradangan, kekakuan, nyeri, keterbatasan gerak dan terganggunya aktifitas sehari-hari (Andri, 2008).

C. KONSEP OSTEOPOROSIS

1. Pengertian Osteoporosis
Osteoporosis secara harfiah dapat diartikan tulang porous (berongga), yaitu keadaan di mana masa tulang berkurang dan menjadi rapuh. Pada kondisi tersebut komposisi tulang barangkali tidak berubah, tetapi berat tulang per unit volume menjadi berkurang. Pada stadium lanjut penderita osteoporosis akan mudah mengalami patah tulang jika terbentur atau jatuh, terutama pada bagian tangan, pinggang, dan tulang belakang (Ardiansyah, 2008).
Osteoporosis adalah suatu keadaan berkurangnya massa tulang sedemikian rupa sehingga hanya dengan trauma minimal tulang akan patah. Osteoporosis akan menghilangkan elastisitas tulang sehingga menjadi rapuh dan menyebabkan mudah terjadi patah tulang (fraktur).
Osteoporosis secara umum menunjuk karakteristi ; Proses hilangnya masa tulang secara perlahan-lahan, mempengaruhi semua untuk menjadi beberapa tingkatan.

2. Jenis Osteoporosis
a. Osteoporosis postmenopausal
terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.
b. Osteoporosis senilis
kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru.Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.
c. Osteoporosis sekunder
dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.
d. Osteoporosis juvenil idiopatik
merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Musculoskelethalbedah.blogspot, 2008).


3. Faktor Risiko Osteoporosis
a. Wanita
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun.
b. Usia
Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.
c. Ras/Suku
Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.
d. Keturunan Penderita osteoporosis.
Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.
e. Gaya Hidup Kurang Baik
 Gaya Hidup Kurang Baik Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.
 Minuman berkafein da beralkohol
Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).
 Malas Olahraga
Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.
 Merokok
Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
umur tersebut sudah berhenti.
 Kurang kalsium.
Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.
f. Mengkonsumsi Obat.
Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas.
g. Kurus dan Mungil.
Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna (Musculoskelethal, 2008).


4. Penyebab Osteoporosis

Osteoporosis postmenopausal
terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki resiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

 Osteoporosis senilis
kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan ini.

 Osteoporosis juvenil idiopatik
merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

5. Tanda dan Gejala
 Deformitas tulang
Terjadi perubahan pada bentuk tulang akibat mudahnya terjadi fraktur (patah tulang ) patologis pada tulang belakang.
 Suatu saat penderita merasa nyeri pada tulang belakang secara mendadak
 Mereka bisa menunjukan darimana asal nyeri, gerak apa yang membuat nyeri.
 Nyeri akan terasa hebat bila dipakai duduk dan berdiri.
 Nyeri akan kambuh jika bersin atau buang air besar.
 Bila patah di daerah punggung penderita akan bongkok dan tinggi badan berkurang serta perasan tidak enak disekitar tulang iga. Patah tulang ini sering terjadi pangkal paha, iga dan pergelangan tangan,

6. Pencegahan Osteoporosis
 Asupan kalsium cukup.
Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis harian yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk usia lansia dianjurkan 1200 mg per hari. Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Pilihlah makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan.
 Paparan sinar UV B matahari (pagi dan sore).
Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Untungnya, Indonesia beriklim tropis sehingga sinar matahari berlimpah. Berjemurlah di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari sebelum jam 09.00 dan sore hari sesudah jam 16.00.
 Melakukan olah raga dengan beban.
Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olah raga beban misalnya berjalan dan menaiki tangga tetapi berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang. Dr. Ade Tobing, Sp.KO kini mengenalkan yang disebut latihan jasmani yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan BBTT ternyata terbukti bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan massa tulang. Oleh sebab itu, latihan fisik (BBTT) dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis.
 Gaya hidup sehat.
Tidak ada kata terlambat untuk melakukan gaya hidup sehat. Menghindari rokok dan alkohol memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan risiko osteoporosis. Konsumsi kopi, minuman bersoda, dan daging merah pun dilakukan secara bijak.
 Hindari obat-obatan tertentu.
Hindari obat-obatan golongan kortikosteroid. Umumnya steroid ini diberikan untuk penyakit asma, lupus, keganasan. Waspadalah penggunaan obat antikejang. Jika tidak ada obat lain, maka obat-obatan tersebut dapat dikonsumsi dengan dipantau oleh dokter.
 Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu)
 Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang.
 Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim.
 Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.


7. Diagnosa Osteoporosis

a. DEXA Scan (Dual Energy X-Ray Absorptiometri)
Dual energi X-ray absortiometry (DXA, lebih dikenal dengan DEXA) adalah standart emas untuk pertimbangan mendiagnosa osteoporosis. Osteoporosis di diagnosa ketika kepadatan mineral tulang (BMD=Bone mineral Density) lebih sedikit atau sama hingga - 2,5 kali standard deviasi massa tulang rata-rata dari populasi usia muda, yang di artikan T-score. Dibuat oleh WHO sebagai petunjuk pedoman diagnostic.

• T-score -1.0 or greater is "normal"
• T-score between -1.0 and -2.5 is "low bone mass" (or "osteopenia")
• T-score -2.5 or below is osteoporosis

DEXA Scan (Dual Energy X-Ray Absorptiometri) merupakan metode paling akurat untuk mendiagnosa osteoporosis. DEXA Scan mengukur kepadatan tulang dan memfokuskan pada kepadatan tulang panggul, tulang belakang, dan tulang pergelangan. Pada pasien osteoporosis, bagian-bagian ini merupakan bagian yang beresiko tinggi untuk patah (wikipedia.osteoporosis, 2
Pemeriksaan laboratorium untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin008).

b. Densitometer-USG. Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya pun hanya ditandai dengan nilai T dimana nilai lebih -1 berarti kepadatan tulang masih baik, nilai antara -1 dan -2,5 berarti osteopenia (penipisan tulang), nilai kurang dari -2,5 berarti osteoporosis (keropos tulang). Keuntungannya adalah kepraktisan dan harga pemeriksaannya yang lebih murah.

c. CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). CTx merupakan hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darahsehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang. Pemeriksaan CTx juga sangat berguna dalam memantau pengobatan menggunakan antiresorpsi oral.
d. walaupun memberikan gambaran yang baik tetapi tidak disukai karena menggunakan cara invasif yang menggandung resiko (Limarwin., 2008)

8. Penatalaksanaan Osteoporosis
Mencegah patah lebih baik daripada mengobati,” ungkap Dr. Bambang Setyohadi, SpPD-KR yang lulus dari spesialis penyakit dalam FKUI tahun 1994. Patah tulang biasa terjadi setelah penderita osteoporosis jatuh, sehingga mencegah jatuh pun menjadi penting.
Rumah yang ditempati sehari-hari pun bisa jadi menjadi ancaman. Sebaiknya penderita osteoporosis menghindari karpet yang melekuk, kabel yang melintang, permukaan licin seperti di kamar mandi, ataupun alas kaki yang terlalu longgar.
Selain itu, cara lain yang bisa dicoba adalah dengan memasang pegangan tangan (hand rails) di kamar mandi, memperbaiki penglihatan misal dengan menggunakan kaca mata, atau memperbaiki kekuatan otot dan keseimbangan dengan latihan.

Ada 4 tujuan penanganan osteoporosis, yaitu :
1. Mencegah berlanjutnya kehilangan massa tulang.
2. Menstimulasi pembentukan tulang.
3. Cegah terjadinya fraktur (patah tulang) dan mikrofraktur (keretakan tulang).
4. Mengatasi nyeri.
Bifosfonat merupakan zat sintetik stabil yang bekerja menghambat kerja osteoklas dalam meresorpsi dan pergantian (turnover) tulang. Bifosfonat menurunkan risiko patah tulang sampai 30-50%.
Dalam sebuah studi yang bernama Studi Cohort Retrospektif , dievaluasi onset penurunan patah tulang dengan terapi menggunakan risedronate dan alendronate di bawah kondisi Real World. Real World adalah data observasi yang diambil dari praktek klinik sehari-hari yang memberikan informasi hasil perngobatan pasien dalam kehidupan nyata.
Pasien yang dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu wanita berusia lebih dari 65 tahun dan pengguna baru terapi sekali seminggu dengan baik alendronate atau risedronate. Kemudian dinilai insidens fraktur nonvebtebral setelah 6 bulan dan 12 bulan.
Setelah tahun pertama terapi menggunakan risedronate, terjadi penurunan patah tulang pinggul sebesar 43% dan patah tulang non-vertebral sebesar 18% dibandingkan alendronate.
Studi tersebut menyimpulkan bahwa pasien menggunakan risedronat memiliki insiden patah tulang nonvertebral dan pinggul yang lebih rendah dibandingkan pasien yang menggunakan alendronate.
Jangan tunggu sampai kena osteoporosis. Sedari muda lakukan usaha untuk mencegah penyakit keropos tulang.
Berikut ini saran dari Dr. Bambang Setyohadi, SpPD-KR yang telah mengambil subspesialis reumatologi FKUI agar masa tua terhindar osteoporosis:
1. Asupan kalsium yang cukup. Susu adalah sumber kalsium, tapi kalsium dapat diperoleh dari mana saja seperi sayuran dan makanan lain. Kombinasi vitamin D dan kalsium menurunkan risiko fraktur.
2. Latihan yang teratur. Latihan dapat meningkatkan kelenturan tulang.
3. Kenali defisiensi testosteron.
4. Hindari merokok dan alkohol.
5. Kenali penyakit kronik tertentu.
6. Hindari obat-obatan tertentu misal steroid.
7. Hindari risiko terjatuh
8. pemasangan penyangga tulang belakang ( spinal brace )
(fkuii, 2008).
9. Pedoman Untuk Pengkajian Mobilisasi dan Resiko Untuk Osteoporosis

a) Pertanyaan Wawancara Untuk pengkajian Keseluruhan Penampilan Muskuloskelethal
1. Apakah mempunyai masalah dalam penampilan anda Karenna keterbatasan Persendian?
2. Apakah ada nyeri atau ketidaknyamanan pad persendian anda?
3. Apakah anda merasakan kehilangan keseimbangan?
4. Apakah anda mempunyai masalah dalam berjalan atau berkeliling?
5. Apakah anda menggunakan sesuatu bantuan untuk membantu anda melakukan sesuatu? (mis; walker, Quad cane, atau reachers) ?
6. Apakah ada kegiatan yang ingin anda lakukan tetapi tidak mampu melakukannya karena ada suatu masalah pergerakan atau berpindah?

b) Observasi Berkenaan dengan keseluruhan Penampilan Muskuloskelethal
1. Ukur dan catat adanya penambahan tinggi badan dan tidak adanya penambahan tinggi badan.
2. Observasi berjalan klien dan pola gaya berjalan (keseimbangan dalam berjalan)
3. Observasi dan catat informasi berkenaan dengan kegiatan sehari-hari

c) Pertanyaan Wawancara Untuk Pengkajian Resiko Untuk Terjadi Osteoporosis
1. Adakah sanak saudara anda yang menderita osteoporosis atau fraktur?
2. Apakah anda pernah mengalami fraktur selama masa kanak-kanak? (jika iya, tambahkan pertanyaaan tambahan berkenaan dengan kapan, jenis, kondisinya bagaimana, perawatan dan semua yang berhubungan dengan fraktur)
3. Apakah anda mengkonsumsi suplemen vitamin?

d) Pertanyaan Wawancara hanya untuk wanita
1. Kapan Anda menopause?
2. Apakah anda minum estrogen, atau apakah anda sering mengkonsumsinya? (jika iya, berikan pertanyaan tambahan berkenaan dengan; Type, dosis, lamanya, dan pertanyaan lain yang berhubungan).

e) Observasi Yang Mungkin di Buat selama bagian lain keseluruhan di kaji tetapi juga harus di gunaakn untuk mengkaji pergerakan dan resiko untuk terjadi osteoporosis
1. Berapa banyak latihan yang dilakukan seseorang Untuk mendapatkan latihan dasar yang teratur?
2. Apakah orang tersebut merokok?
3. Berapa banyak alcohol dan caffeine yang orang tersebut konsumsi?
4. Berapa banyak biasanya diet pemabsukan calcium dan vitamin D?
5. Apakah orang tersebut mempunyai kondisi dengan osteoporosis ?

BAB 3
PENUTUP


Osteoporosis disebabkan gangguan metabolisme tulang, yaitu kerja sel penghancur tulang melebihi kerja sel pembentuk tulang. Akibatnya lama kelamaan tulang menjadi keropos. Gangguan ini dapat terjadi secara fisiologis akibat proses penuaan yang disertai dengan menurunnya hormon, kurang asupan kalsium dan vitamin D, disertai dengan faktor-faktor pendukung lainnya.
Osteoporosis memerlukan penanganan lebih lanjut supaya prognosisnya tidak bertambah berat. Selain itu, harus mengetahui terlebih dahulu apa itu osteoporosis dan bagaimana cara supaya prognosisnya tidak bertambah berat,


DAFTAR PUSTAKA




Andri, 2008, ht http://andrie00.blogdetik.com/category/geriatri/

Ardiansyah, 2008, Keseimbangan Kalsium Penting untuk Cegah Osteoporosis,
http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-09-06-Keseimbangan-Kalsium-Penting-untuk-Cegah-Osteoporosis.shtml, [ Accessed on 1 November].

FKUII,2008,www.lib.fkuii.org/index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=565&Ite.id=2[ Accessed on 1 November].


Musculoskelethal, 2008,http://musculoskeletalbedah.blogspot.com/2008/10/osteoporosis. [ Accessed on 1 November].

Limarwin, 2008, http://limarwin.blogspot.com/, [ Accessed on 1 November].

Rufinah, 2008,ttp://www.balitaanda.indoglobal.com/balita_411_Osteoporosis.htmlRubrik : Ensik Balita, [ Accessed on 1 November].


Sampoernae,2008, Entri (Atom) http://sampoernae.blogspot.com/, [ Accessed on 1 November].

Tanyadokter, 2008, http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2006/08/osteoporosis, [ Accessed on 1 November].

Wikipedia, 2008, http://en.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis, [ Accessed on 1 November].
Read More..

Selasa, 25 November 2008

Nutrisi untuk anak

Bab 1
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Nutrisi sangat penting dalam tumbuh kembang anak selain kebutuhan sandang, papan, dan kesehatan, baik makronutrien (karbohidrat, lemak dan protein) maupun mikronutrien (vitamin dan mineral). Demikian menurut DR. Damayanti R. Sjarif, SpA dalam seminar yang diadakan oleh Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina, Sabtu (26/7).
Menurut Damayanti, dalam tumbuh kembang anak nutrisi memiliki dua peranan penting. Yaitu nutrisi bertanggung jawab untuk pertumbuhan fisik dan kematangan seksual dan diperlukan memenuhi kebutuhan energi yang dibutuhkan anak. "Dalam konteks kembang, menyiapkan otak sebagai hardware dalam proses pencerdasan," ujar Damayanti (Gizi.net, 2008).
Kecukupan nutrisi dan zat gizi, dibutuhkan untuk mendukung proses pertumbuhan anak. Orang tua perlu menjaga daya tahan tubuh anak, agar tidak mudah sakit, sehingga proses tumbuh kembang anak tidak terganggu. Seringkali anak sulit makan, sehingga kecukupan nutrisinya terganggu. Hal ini diperparah dengan gempuran iklan di TV, yang hampir setiap saat menayangkan dan mengiming-imingi anak-anak dengan berbagai snack yang kurang sehat. Sehingga anak lebih senang dengan kudapan (snack) yang tidak bergizi, Contoh jajanan yang perlu diperhatikan adalah : snack yang gurih, jajanan es, sirup dengan warna yang menarik, dll (Gizi.net, 2008).
Radikal bebas yang berasal dari snack (pewarna, perasa, pemanis, pembuat gurih, pengawet pada jajanan anak-anak) selain dapat menyebabkan anak sakit, juga merusak tubuh anak. Akibat jangka pendek, sakit : batuk, pilek, demam, dll.Akibat jangka panjang, menderita sakit : kanker, hati, limfa, kelenjar, dll. Belum lagi, belakangan ini beragam berita realita di TV, banyak yang melaporkan bahwa jajanan anak seringkali tidak higienis, pemilihan pewarna tekstil untuk makanan anak, pemakaian bahan kimia yang merusak tubuh, pengawet mayat digunakan pada makanan, dan berbagai penyalahgunaan bahan lainnya, yang sangat mengerikan. Oleh karena itu, anak harus mempunyai tubuh yang sehat untuk melawan beragam radikal bebas yang menyerang anak dengan antioksidan, dengan memberikan asupan nutrisi yang seimbang. Anak harus mendapatkan unsur-unsur gizi seimbang, yang dapat menutupi kekurangan asupan gizi, yang tidak didapat karena kesulitan anak untuk makan, serta pola makan yang tidak sehat (Gizi.net, 2008).
Berdasarkan pemahaman tersebut, maka penulis akan membahas tentang kebutuhan nutrisi pada anak yang memaparkan tentang beberapa nutrisi yang penting untuk tumbuh kembang anak.

B. Tujuan Penulisan.
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah memberi informasi tentang kebutuhan nutrisi pada anak
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan tentang manfaat nutrisi pada anak
b. Menjelaskan tentang komponen zat gizi
c. Menjelaskan tentang kebutuhan nutrisi
d. Menjelaskan tentang faktor yang mempengaruhi nutrisi dalam tubuh anak
e. Menjelaskan tentang evaluasi diet anak
f. Menjelaskan tentang panduan nutrisi dasar anak
g. Menjelaskan tentang masalah yang muncul akibat kekurangan nutrient penting.



Bab 2

Kebutuhan Nutrisi Pada Anak


Kebutuhan Nutrisi merupakan kebutuhan yang sangat penting pada anak dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak (Hidayat, 2008). Kebutuhan nutrisi individu bervariasi sesuai dengan perbedaan genetic dan metabolik. Namun, untuk bayi dan anak, tujuan dasar adalah pertumbuhan yang memuaskan dan mencegah keadaan defisiensi. Nutrisi yang baik membantu mencegah penyakit akut atau kronis dan mengembangkan kemampuan fisik dan mental; nutrisi juga harus memberikan cadangan untuk stress (Nelson dkk ed.15).

A. Manfaat nutrisi Pada Anak
1. Dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kekurangan nutrisi dalam tubuh seperti kekurangan energi dan protein, anemia, defisiensi yodium, defisiensi seng (Zn), defisiensi vitamin A, defisiensi thiamin, defisiensi kalium dan yang lain-lain yang dapat menghambat proses tumbuh kembang anak.
2. Terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada bayi dan anak, diharapkan anak dapat tumbuh dengan cepat sesuai dengan usia tumbuh kembang dan dapat meningkatkan kualitas hidup serta mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas
3. Membantu dalam aktivitas sehari-hari Karena sebagai sumber tenaga yang dibutuhkan berbagai organ dalam tubuh, dan juga sebagai sumber zat pembangun dan pengatur dalam tubuh (Hidayat, 2008)

B. Komponen Zat Gizi
Zat gizi merupakan unsure yang penting dalam nutrisi mengingat zat gizi tersebut dapat memberikan fungsi tersendiri pada nutrisi. Kebutuhan nutrisi tidak akan berfungsi secara optimal kalau tidak mengandung beberapa zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, demikian juga zat gizi yang cukup pada kebutuhan nutrisi akan memberikan nilai yang optimal (Hidayat, 2008).
Ada beberapa komponen zat gizi yang dibutuhkan pada nutrisi bayi dan anak yang jumlahnya sangat berbeda untuk setiap umur, secara umum zat gizi dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan makro dan golongan mikro : untuk zat gizi golongan makro terdiri dari kalori dan H2O (air), untuk kalori berasal dari karbohidrat, protein dan lemak, sedangkan kelompok zat gizi mikro terdiri dari vitamin dan mineral.
a. Karbohidrat
Merupakan sumber energi yang tersedia dengan mudah di setiap makanan, dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup pada tubuh, sebab kekurangan karbohidrat sekitar 15 % dari kalori yang ada, maka dapat menyebabkan terjadinya kelaparan dan berat badan menurun demikian sebaliknya apabila jumlah kalori yang tersedia atau berasal dari karbohidrat dengan jumlah yang tinggi dapat meyebabkan terjadinya peningkatan berat badan (obesitas). Dalam mendapatkan jumlah karbohidrat yang cukup maka dapat didapatka dari susu, padi-padian, buah-buahan, sukrosa, sirup, tepung, dan sayur-sayuran.

b. Lemak
Lemak merupakan zat gizi yang berperan dalam pengangkatan vitamin A, D, E, K yang larut dalam lemak. Komponen lemak terdiri lemak alamiah sekitar 98% diantaranya trigliserida, dan gliserol sedangkan 2 %-nya adalah asam lemak bebas diantaranya monogliserida, digliserida, kolesterol dan fosfolipid termasuk lseitin, sefalin, sfingomielin dan serebrosid. Lemak ini merupakan sumber yang kaya akan energi, sebagai pelindung organ tubuh seperti pembuluh darah, saraf, organ dan lain-lain terhadap suhu tubuh,dapat membantu rasa kenyang (penundaan waktu pengosongan lambung), komponen lemak dalam tubuh harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebab kekurangan lemak akan menyebabkan terjadi hiperlipidemia, hiperkolesterol atau dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan lain-lain, dan untuk mendapatkan jumlah lemak yang cukup dapat di peroleh dari : susu, mentega, kuning telur, daging, ikan, keju, kacang-kacangan,dan minyak sayur. (Solihin pudjiadi, 2001). Air susu Ibu biasanya menyediakan 4- 5% kalori sebagai asam linoleat, sedangkan minyak sayur sangat bervariasi, pada minyak biji, jagung, kedele dan lain-lain yang terutama kaya

c. Protein
Merupakan gizi dasar yang berguna dalam pembentukan protoplasma sel, selain it tersedianya protein dalam jumlah yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perbaikan sel jaringn dan sebagai larutan untuk keseimbangan osmotic. Protein ini terdiri dari dua puluh empat asam amino diantaranya sembilan asam amino essensial yaitu; threonin, valin, leusin, isoleusin, lisin, triptofan, fenilalanin, metionin dan histidin, selebihnya asam amino nonessensia. Jumlah protein dalam tubuh tersebut harus tersedia dalam jumlah yang cukup apabila jumlahnya berlebih atau tinggi dapat memperburuk insufisiensi ginjal, demikian juga apabila jumlahnya kurang maka dapat menyebabkan kelemahan, odem, dapat kwashiorkor apabila kekurangan protein saja tetapi jika kekurangan protein dan kalori menyebabkan marasmus. Komponen zat gizi protein dapat diperoleh dari : susu, telur, daging, ikan, unggas, keju, kedele, kacang, buncis, dan padi-padian (Haidayat, 2008).

d. Air
Air merupakan kebutuhan nutrisi yang sangat penting, mengingat kebutuhan air pada bayi relatif tinggi 75-80 % dari berat badan dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 55-60 %. Air bagi tubuh dapat berfungsi sebagai pelarut untuk pertukaran seluler, sebagai medium untuk ion, transport nutrient dan produk buangan dan pengaturan suhu tubuh. Sumber zat air dapat diperoleh dari air dan semua makanan (solihin pudjiati, 2001). Haus kekeringan lidah, dehidrasi, anhidremi, berat jenis urin tinggi, kehilangan fungsi ginjal (asidosis, oliguria, uremia, meninggal). Bila kelebihan air dapat menyebabkan ketidakenakan abdomen, nyeri kepala, kram, (air tanpa garam), intoksikasi, kejang-kejang, udem dan gagal sirkulasi (Nelson dkk, ed.15).
Bayi harus banyak mengkonsumsi jauh lebih banyak air per unit berat badan di banding dengan orang dewasa, konsumsi cairan harian oleh bayi sehat ekuivalen dengan 10 – 15% berat badan dibanding dengan 2 - 4 % pada orang dewasa. Keseimbangan air tergantung pada beberapa faktor tak tetap, seperti kadar protein dan mineral dalam diet, yang menentukan beban larut yang disajikan pada ekskresi ginjal, kecepatan metabolik dan pernafasan, serta suhu tubuh. Ginjal memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh dengan variasi kandungan osmolar dan volume urin. Urin biasanya mempunyai tekanan osmotik ( 300 – 1000 mOsm/L) lebih besar daripada tekanan osmotic lingkungan internal (293mOsm/ L); kadar urin normal maksimum sekitar 600 – 700 mOsm/L.
e. Vitamin
Vitamin merupakan senyawa organic yang digunakan untuk mengkatalisator metabolisme sel yang dapat berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan serta dapat mempertahankan organisme, vitamin yang dibutuhkan antara lain:
1. Vitamin A (retinol)
Merupakan vitamin yang mempunyai sifat larut dalam lemak, stabil panas, dan dapat di hancurkan dengan oksidasi. Harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan mempunyai pengaruh dalam kemampuan fungsi mata serta pertumbuhan tulang dan gigi, dan dalam pembentukan maturasi epitel.
Pengaruh defisiensi dapat menyebabkan gangguan pada mata (Niktalopia, Fotofobia, Xeroftakmia, konjungtivitis, keratomalasia yang menyebabkan kebutaan), pembentukan tulang epifiseal gagal, email gigi tidak sempurna, keratinisasi membranan mukosa dan kulit, retardasi pertumbuhan, tahanan terhadap infeksi terganggu. Sedangkan bila kelebihan dapat menyebabkan anoreksia, petumbuhan lambat, kulit kering dan pecah-pecah, pembesaran hati dan limpa, pembengkakan dan nyeri tulang panjang, tulang mudah patah, tekanan intra cranial naik, alopesia, serta karotenemia. Vitamin ini dapat diperoleh dari hati, minyak ikan, susu, kuning telur, margarine, tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran, dan buah-buahan (Arvian dkk).
2. Vitamin B kompleks (thiamin)
Merupakan vitamin yang larut dalam air akan tetapi tidak larut dalam lemak, yang dapat menyebabkan penyakit beri-beri, kelelahan, anoreksia, konstipasi, nyeri kepala, insomnia, takikardia, oedema, asam piruvat dalam darah akan meningkat apabila tersedia dalam jumlah yang kurang, kebutuhan vitamin ini dapat diperoleh dari dalam hati, daging, susu, padi-padian, biji-bijian, kacang dan lain-lain.
3. Vitamin B2 (riboflavin)
Merupakan vitamin yang sedikit larut dalam air, sensitif terhadap cahaya dan alkali, stabil terhadap panas, oksidasi serta asam. Sebagai unsur pokok enzim flavoprotein yang penting pada reaksi pemindahan hydrogen, asam amino, asam lemak, dan metabolisme karbohidrat serta respirasi seluler. vitamin ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup, apabila kurang dapat menyebabkan fotofobia, penglihatan kabur, mata panas dan gatal, vaskularisasi kornea, gagal dalam pertumbuhan, serta keilosis. Vitamin ini dapat diperoleh di dalam susu, keju, hati, daging, telur, ikan, sayur-sayuran hiijau, dan padi.
4. Vitamin B12 (Sianokobalamin)
Merupakan vitamin yang sedikit larut dalam air dan alcohol , stabil terhadap panas pada larutan neutral, labil pada larutan asam, atau alkali, dihancurkan oleh cahaya serta sebagai bentang factor intrinsic lambung yang diperlukan untuk penyerapan. Pada vitamin ini sangat baik untuk maturasi sel darah merah dalam sum-sum tulang. Pengaruh kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan anemia pernisiosa juvenile karena gagal dalam absorbsi bukannya kurang dalam diet. Vitamin ini dapat diperoleh dari daging organ, ikan, telur, susu dan keju.
5. Vitamin C (asam ascorbat)
Merupakan vitamin yang larut dalam air dan mudah dioksidasi serta dipercepat oleh panas atau cahaya. Berfungsi untuk keutuhan dan mempertahankan materi intraseluler, mempermudah penyerapan besi dan mengubah asam folat menjadi asam folinat, metabolisme tirosin dan fenilalanin, aktivitas suksinat dehidrogenase dan serum fosfatase dalam bayi, tidak pada orang dewasa. vitamin ini dapat menyebabkan lamanya proses penyembuhan luka. Banyak tersedia dalam tomat, buah semangka, kubis, sayur-sayuran hijau, pemanasan mempunyai pengaruh menghancurkan.
6. Vitamin D
Merupakan vitamin yang dapat larut dalam lemak dan akan stabil dalam suasana panas, asam alkali, dan oksidasi. Berguna dalam mengatur penyerapan dan pengendapan kalsium serta fosfor dengan mempengaruhi permeabilitas membran usus, mengatur kadar alkali fosfatase serum, yang diduga dipengaruhi oleh endapan kalsium fosfat dalam tulang dan gigi. Kekurangan vitamin ini akan menyebabkan rakitis (kadar fosfatase serum tinggi tampak sebelum deformitas tulang), tetani infantile, pertumbuhan jelek dan osteomalasia. Vitamin ini dapat diperoleh dari dalam susu, margarine, minyak ikan, pemaparan cahaya matahari atau sumber ultraviolet lain.
7. Vitamin E
Merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan tidak stabil terhadap sinar ultraviolet yang dapat berfungsi dalam meminimalkan oksidasi karoten, vitamin A dan asam linoleat serta menstabilkan membran apabila terjadi kekurangan dapat menyebabkan hemolisis sel darah merah pada bayi premature dan akan menyebabkan kehilangan keutuhan syaraf. Vitamin E ini dapat diperoleh dari minyak, biji-bijian dan kacang-kacangan.
8. Vitamin K
Merupakan vitamin yang larut dalam lemak yang dapat berfungsi sebagai pembentukan protombin, factor koagulasi II, VII, IX, X, yang harus tersedia dalam tubuh cukup, apabila terjadi kekurangan dapat menyebabkan perdarahan dan metabolisme tulang yang tidak stabil, vitamin ini tersedia dalam sayuran berdaun hijau, daging, dan hati (Hidayat, 2008).

f. Mineral
Mineral merupakan komponen zat gizi yang tersedia dalam kelompok mikro, yang terdiri dari kalsium, klorida, chromium, kobalt, tembaga, fluorin, jodium, besi, magnesium, mangan, fosfor, kalium, natrium, sulfur, dan seng. Kesemuanya harus tersedia dalam jumlah yang cukup (Nelson, 2008).
1. Kalsium
merupakan mineral yang berguna untuk pengaturan struktur tulang dan gigi, kontraksi otot, iritabilitas saraf, koagulasi darah, kerja jantung, dan produksi susu. Kalsium ini akan di ekresi 70% dalam tinja, 10% dalam urine, 15-25% tertahan dan tergantung dalam kecepatan pertumbuhan, kadar kalsium ini harus tersedia yang cukup karena apabila terjadi kekurangan menyebabkan mineralisasi tulang dan gigi jelek, osteomalasia, osteoporosis, rakhitis, dan gangguan pertumbuhan. Kalsium ini dapat diperoleh dari susu, keju, sayur-sayuran berdaun hijau, kerang dan lain-lain (Hidayat, 2008).

2. Klorida
Klorida sangat berguna dalam pengaturan tekanan osmotic, keseimbangan asam dan basa, yang tersedia dalam garam, daging, susu, dan telur.
3. Khromium
Khromium berguna untuk glikemia dan metabolisme dalam insulin yang tersedia dalam ragi.
4. Tembaga
Berguna untuk produksi sel darah merah, pembentukan hemoglobin, penyerapan besi, dan lain-lain, kekurangan zat besi dapat mengakibatkan sirosis, gastritis, dan hemolisis. Tembaga dapat tersedia dalam hati, daging, ikan, padi, dan kacaang-kacangan.
5. Fluor
Merupakan mineral yang berfungsi untuk pengaturan struktur gigi dan tulang yang apabila tersedia dalam jumlah yang kurang menyebabkan karies gigi. Sumber dari fluor ini terdapat pada air, makanan laut, dan tumbuh-tumbuhan.
6. Iodium
Merupakan unsur tiroksindan triidotironin yang harus tersedia dalam jumlah yang cukup, apabila kurang dapat menyebabkan penyakit gondok. Iodium ini dapat ditemukan pada garam.
7. Besi
Merupakan mineral yang merupakan struktur dari hemoglobin untuk pengangkutan CO2 dan O2. Kekurangan besi dapat menyebabkan anemia. Zat besi tersebut tersedia dalam hati, daging, kuning telur, sayur-sayuran hijau, padi dan tumbuh-tumbuhan.
8. Magnesium
Berguna dalam aktivasi enzim pada metabolisme karbohidrat dan sangat penting dalam proses metabolisme. Apabila terjadi kekurangan menyebabkan malabsorbsi yang menyebabkan hipokalsemia dan hipokalemia. Magnesium ini dapat diperoleh dalam biji-bijian, kacang-kacangan daging dan susu.


9. Mangan
Mineral yang berfungsi dalam aktivasi enzim yang terdapat dalam kacang-kacangan, padi, biji-bijian dan sayuran hijau.
10. fosfor
Merupakan unsure pokok dalam pertumbuhan tulang dan gigi, apabila kekurangan dapat menyebabkan kelemahan otot. Fosfor ini terdapat di susu, kuning telur, kacang-kacangan, padi-padian dan lain-lain.
11. Kalium
Berfungsi dalam kontraksi otot dan hantaran impuls saraf, keseimbangan cairan, serta pengaturan irama jantung. Kalium ini dapat diperoleh dari semua makanan.
12. Natrium
Berguna dalam pengaturan tekanan osmotic, pengaturan keseimbangan asam-basa, dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Kekurangan natrium dapat menyebabkan kram otot, nausea, dehidrasi, hipotensi. Natrium ini dapat diperoleh dari garam, susu, telur, tepung dan lain-lain.
13. Sulfur
Merupakan unsur pokok dalam protein seluler yang membantu proses metabolisme jaringan syaraf,. Sulfur ini dapat diperoleh dari makanan protein yang mengandung 1% .
14. Seng
Merupakan unsur pokok dari beberapa enzim karbonik anhidrase yang penting dalam pertukaran CO2. Defisiensi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, hepatosplenomegali, hiperpigmentasi dan hipogonadisme, akrodermatitis entheropatika, depresi imunokompetens, serta dalam penyembuhan luka jelek. Sedangkan bila kelebihan dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal (dari peralatan masak yang disepuh seng), defisiensi tembaga, High densitas lipoprotein (HDL) turun. Banyak tersedia dalam dalam daging, padi-padian, kacang-kacangan dan keju (Nelson, dkk).


C. Kebutuhan nutrisi
Kebutuhan nutrisi pada setiap anak berbeda, mengingat kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel atau organ pada anak berbeda, dan perbedaan ini yang menyebabkan jumlah dan komponen zat gizi berlainan. Secara umum kebutuhan nutrisi pada anak dapat dikelompokkan berdasarkan usia anak, mulai umur 0-4 bulan, 4-6 bulan, 9-12 bulan, usia toddler atau prasekolah, usia sekolah dan usia remaja (Hidayat, 2008).
1. Umur 0-4 Bulan
Pada umur ini kebutuhan nutrisi bayi semuanya melalui air susu ibu yang terdapat komponen yang paling seimbang, akan tetapi apabila terjadi gangguan dalam air susu ibu maka dapat menggunakan susu formula dan di nilai kegunaan atau pemanfaatan jauh lebih baik dari menggunakan ASI. Pemberian ASI eksklusif adalah sampai 4 bulan tanpa makanan lain, sebab kebutuhannya sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada bayi, dan proses pemberian ASI ini dapat dilakukan melalui proses menyusui.
Pada proses menyusui ini akan memberikakn dampak yan gbaik seperti pada proses awal menyusui, setelah bayi lahir terdapat zat kekebalan tubuh yang terdapat pada kolostrom yang kaya akan protein dan mengandung immunoglobulin A yang tinggi melalui keluarnya pertama dari ASI, di samping it proses menyusui akan membantu reflek bayi untuk menghisap sehingga menyebabkan kebutuhan kasih saying (asih) pada bayi trpenuhi dan membantu proses bonding. Proses pengeluaran ASI dapat terjadi Karenna adanya reflek menghisap juga dapat dipengaruhi proses hormonal terutama oksitosik dan prolaktin.
Air susu Ibu merupakan makanan yang ideal pada bayi, disamping mempunyai zat gizi yang ideal juga mempunyai beberapa manfaat seperti harganya murah dan sederhana, tersedia pada suhu yag ideal dan tidak perlu dipanaskan atau disterilkan dahulu, bebas dalam pencemaran, akan mempercepat pengembalian besarnya rahim pada bentuk dan ukuran sebelum mengandung.
ASI mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bagi anak mengingat zat gizi yang ideal terdapat didalamnya, diantaranya: immunoglobulin (IgA, IgG, IgM, IgD, IgE), lizosim merupakan satu enzim yang tinggi jumlahnya yang berfungsi bekteriostatik terhadap enterobakteria dan kumam gram negative, dan juga sebagai pelindung terhadap berbagai macam virus, kemudian sebagai lakteperosidase enzim yang berfungsi membunuh streptokokus, factor bifidus merupakan karbohidrat yang mengandung nitrogen yang berfungsi mencegah pertumbuhan organisme yang tidak diinginkan, factor anti stafilokokus merupakan asam lemak yang melindungi serangan stafilokokus, laktoferin, dan transferin komponen protein yang dapat mengurangi tersedianya zat besi pada pertumbuhan kuman, komponen complement yaitu C3 dan C4 yang berfungsi untuk pertahanan tubuh, adanya sel makrofag dan netrofil yang berfungsi menfagosit kuman, adanya lipase yang merupakan zat anti virus.
Tidak semua anak mendapat ASI secara langsung, banyak kita temukan anak-anak kebutuhan nutrisinya melalui susu formula. Untuk it dalam pemakaian susu formula atau susu botol juga perlu perhatian diantaranya : sterilkan dahulu sebelum memberikan ppada bayi dengan cara dipanaskan, jangan membuat lama-lama susu dalam botol, ikuti petunjuk pemakaian susu formula, dan lain-lain.
2. Umur 4-6 Bulan
Pada usia in kebutuhan nutrisi pada anak tetap yang utama adalah air susu ibu kemudian ditambah lagi dengan bubur susu dan sari buah, pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak terdapat tambahan mengingat seiring dengan perkembangan fungsi sistem pencernaan. Perubahan kebutuhan nutrisi anak hanya perubahan bentuk makan akan tetapi kadar zat gizi tetap seimbang dengan komposisi yang ada.
3. Umur 6-9 Bulan
Kebutuhan nutrisi pada anak usia ini adalah teta[ diteruskan kebutuhan nutrisi dari ASI kemudian ditambah dengan bubur susu, bubur tim saring dan buah. Penambahan bentuk kebutuhan nutrisi disesuaikan dengan ukuran kebutuhan nutrisi pada usia anak. Makanan lebih padat dari usia sebelumnya mengingat perkembangan gigi sudah mulai dan pada usia ini bayi mulai mengunyah apa saja dan memasukkan semua makanan kedlam mulut, untuk it perlu pengawasan dalam setiap aktivitas anak.
4. Umur 10-12 Bulan
Pada usia anak ini masih tetap diberikan air susu ibu dengan penambahan pada bubur susu, bubur tim kasar dan buah, bentuk makanan yang disediakan dapat lebih padat dan bertambah jumlahnya mengingat pertumbuhan gigi dan kemampuan fungsi pencernaan sudah bertambah. Pada usia ini anak sering senang makan sendiri dengan sendok atau suka mencoba makan sendiridan makan dengan tangan. Pada anak seusia ini adalah merupakan usaha yang baik dlam menuntun ketangkasan dn merasakan bentuk makanan
5. Usia Toddler dan Prasekolah
Pada usia ini kemampuan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi suadah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan makan seperti garpu, piring, sendok, dan gelas semuanya harus dijelaskan pada anak atau diperkenalkan dan dilatih tentang penggunaan, sehingga dapat mengikuti aturan yang ada. Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak usia ini sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah kebosanan, berikan susu dan makanan yang dianjurkan antara lain daging, sup, sayuran, dan buah-buahan, pada anak ini yang perlu makanan padat sebab kemampuan mengunyah sudah mulai kuat.
6. Usia Sekolah
Pada usia sekolah ini kebiasaanmakan pada anak tergantung pada kehidupan social sekolah, kadang-kadang anak malas makan di rumah Karenna kondisi yang tidak di sukai, pada usia ini kemampuan makan dengan menggunakan sendok, piring, dan garpu sudah baik. Pada usia sekolah tata cara dalam makan seperti makan denganduduk, mencuci tangan sebelum maakn, tidak mengisi mulut secara penuh dan mengambil makanan secara bersamaan dan lain-lain kebiasaan tersebut harus dilakukan. Kadang-kadang usia sekolah juga malas untuk makan akibat stress atau sakit sehingga perlu pemantauan, dan anak sekolah cenderung suka makan secara bersamaan dengan teman sekolahnya.

7. Usia remaja
Pada masa remaja kebutuhan kalori semakin meningkat Karenna perubahan menjadi pubertas dan aktivitas. Pada masa remaja sangat menyadari akan gambaran diri sehingga perlu pemantauan diit dalam makanan, seperti takut akan obesitas dan takut timbulnya akne atau jerawat akibat makanan. Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang cepat baik tinggi maupun berat badan sehingga kebutuhan gizi pun meningkat (Hidayat, 2008).

D. Faktor Yang Mempengaruhi Nutrisi dalam Tubuh anak
1. Serat
Kebanyakan anak yang mendapat diet berimbang baik, memperoleh jumlah serat yang cukup. Makanan yang sangat disaring berisi sedikit serat dan dapat disertai dengan naiknya insidens konstipasi, apendisitis, divertikulitis, dan gangguan usus lain. Masukan tinggi serat dapat berakibat penurunan penyerapan cholesterol serta seng dan nutrisi pokok yang lain.
2. Kemampuan Mencerna
Pemasakan merupakan suatu factor pada kemampuan mencerna. Misalnya, susu yang direbus, besar dadihnya akan berkurang dan membuatnya lebih mudah dapat dicerna; sebaliknya, pemanasan merusak aktivitas vitamin C.
3. Keadaan Telah Kenyang
Penelanan makanan harus memberikan rasa enak. Susu penuh, krim, telur, dan makanan berlemak mempunyai nilai kekenyangan yang tinggi ; gula menambah cairan lambung dan menunda pengosongan lambung, dengan demikian menambah rasa kenyang. Roti dan kentang mempunyai nilai kekenyangan yang relative rendah, seperti halnya daging yang berlemak sedikit, ikan, sayuran, dan banyak buah-buahan
4. Ketersediaannya
Kemiskinan, kebodohan, dan kurang pendidikan praktis dalam pembelian dan persiapan makanan merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak. Diet keluarga berpenghasilan rendah, sering kurang lemak, buah-buahan, sayur segar, dan daging. Cara yang disarankan untuk perencanaan makanan harga murah harus membagi uang yang tersedia untuk makan menjadi lima : setiap seperlima masing-masing untuk sayuran dan buah; untuk susu dan keju; untuk daging, ikan, dan telur; untuk roti dan biji-bijian, dan untuk lemak, gula, dan makanan tambahan lain.
5. Faktor-Faktor anti Mikroba
Pemberian agen antimikroba dapat mempengaruhi status nutrisi. Nafsu makan kadang-kadang terganggu, atau flora bakteri penghasil vitamin K tidak secara cukup diubah untuk mempercepat defisiensi pembatasan. Beberapa antibiotik diketahui menimbulkan steatorea. Antibiotik spektrum luas yang diberikan secara oral mengurangi keseimbangan nitrogen. Isoniazid bersama dengan piridoksal fosfat dapat menimbulkan gejala defisiensi vitamin B6. Senyawa antimikroba dapat dipindahkan kedalam air susu ibu atau kedalam makanan dari binatang yang diberi makan senyawa ini.
6. Faktor-Faktor Endokrin
Bahan antitiroid yang menaikkan kebutuhan yodium (gaitrogen) telah ditemukan didalam lobak, sauran semacam lobak, kubis, kedelai, makanan-makanan yang berisi kobalt, pengawet makanan (additive), dan obat-obatan. Pemberian hormone adrenokortikotropik atau kortikosteroid perlu penambahan masukan protein dan kalsium serta mengurangi masukan natrium. Hiperparatiroidisme sementara dengan tetani ditemukan pada masa neonatus sesudah masukan vitamin D atau fosfat berlebihan.
7. Faktor-Faktor Emosi
Pada ibu yang timbul rasa takut akan salah mengenai kebiasaan makan anaknya, dapat menciptakan pertengkaran antara dia dan anaknya yang dapat berpengaruh besar. Misalnya, upaya yang salah arah untuk mengendalikan kegemukan dan hiperkolesterolemi telah menyebabkan malnutrisi berat pada anak muda (Nelson, dkk).

E. Evaluasi Diet Anak
Untuk hitungan yang lebih tepat, ibu harus mengamati dan merekam masukan makanan yang sebenarnya dan mengubah menjadi “ hidangan” yang sesuai dengan umur anak, adalah penting untuk memasukkan makan-makanan yang tidak dapat dikonsumsi setiap hari. Masukan makanan yang berlebih dari salah satu kelompok nutrisi dapat berakibat tingkat kalori tinggi, menghasilkan anak kelebihan berat, sementara pada saat it menyebabkan terjadinya masukan pemakaian makanan lain, akibatnya adalah anemia defisiensi yang membahayakan. Bila makanan utama seperti susu, telur dan buah sitrun, terbuang karena alasan pribadi atau medik, defisiensi mungkin terimbangi oleh penambahan-penambahan yang bijaksana. Daftar kelompok-kelompok nutrien utama adalah sebagai berikut :
Z Susu : Protein kualitas tinggi kalsiumdan fosfor, riboflavin, vitamin A; Vitamin D (jika dikayakan)
Z Daging dan telur : Protein kul=alitas tinggi, besi, vitamin B; vitamin A dari hati dan telur.
Z Buah dan sayur : vitamin C,; provitamin a dari buah dan sayuran hijau dan kuning; elemen renik dan serat.
Z Biji-bijian : tidak mahal dan menambah sejumlah protein, mineral, serat dan vitamin B (Nelson, 2008).

F. Panduan Nutrisi dasar Anak
Nutrisi yang baik penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak. Orang tua adalah yang paling menentukan dalam makanan yang dimakan anak serta yang bertanggung jawab untuk memastikan, mereka mendapatkan diet sehat seimbang. Menurut Scott. M. Shanon, MD., dalam bukunya Please Don’t Label My Child, kunci untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak adalah pastikan anak mendapat nutrisi yang tepat. Diet yang baik bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang bersemangat atau sebaliknya, diet buruk membuat anak yang dilabeli dengan penyakit mental. Menurut Shanon, gizi buruk adalah penyebab utama anak mengalami gangguan mental dan di diagnosa dengan gangguan mental dan gangguan emosional. Kendatipun anak masa kini makan dalam ukuran super, mereka tetap mengalami kurang gizi karena diet sebagian besar terdiri dari makanan-makanan olahan. Anak-anak perlu dan pantas mendapatkan diet yang secara agresif lebih focus pada memenuhi kebutuhan nutrisi mereka, terutama kebutuhan nutrisional untuk pertumbuhan otak. Shanon menganjurkan calon ibu untuk rajin mengkonsumsi diet bergizi untuk perkembangan otak janin yang optimal dan memberikan nutrisi yang adekuat kepada anak dari lahir sampai dewasa (Aura, 2008).
Susunan makanan bergizi utnutk tumbuh kembang anak dengan baik adlah susunan hidangan seimbang yang terdiri atas tiga golongan bahan makanan, yakni bahan makanan sumber tenaga, bahan makanan sumber protein (zat pembangun), dan bahan makanan pengatur, yakni ;
Golongan bahan makanan sumber pembangun contohnya berupa daging, susu, telur, ikan, keju, hati ayam, tahu, kedelai, dan tempe.
Golongan makanan sumber zat pengatur contohnya terdiri dari sayuran berwarna hijau, bayam, katuk, kangkung, kacang panjang, sawi dan sebagainya. Sayuran berwarna kuning atau jingga, seperti wortel, tomat, dan labu dapat juga diberikan.
Golongan makanan sumber tenaga contohnya beras, kentang, ubi, roti, macaroni, singkong, talas, terigu, biscuit dan minyak goreng
Buah- buahan, contohnya berupa papaya, nenas, mangga, pisang, jeruk, dan jambu biji boleh diberikan.
Tabel 2. Pedoman makan balita
Sumber tenaga
3-4 piring nasi @ 100 gram atau penggantinya (mie, bihun, roti, kentang).
Sumber zat pembangun
4-5 porsi daging @ 50 gram atau penggantinya (tempe, tahu, ikan, telur, daging ayam). Dianjurkan sej=kurang-kurangnya 1 porsi berasal dari sumber protein hewani. Susu dianjurkan 2 gelas sehari.
Sumber zat pengatur
2-3 porsi dan buah. Gunakan sayur dan buah-buahab berwarnaa (1 porsi sayur = 1 mangkuk sayur, 1 porsi buah segar = 100 gram).

G. Masalah Yang Muncul akibat kekurangan nutrient penting
1. Kekurangan protein dapat mempengaruhi IQ, kemampuan verbal, dan kemampuan spatial
2. Kekurangan zat besi dapat mengurangi aliran darah dan oksigen ke otak dan otot, termasuk menyebabkan bayi kahir dengan berat badan rendah, gangguan kognitif, dan ADHD.
3. Kekurangan folat dapat menyebabkan cacat neural tube seperti spina bifida.
4. Kadar vitamin A rendah dapat menyebabkan kebutaan atau gangguan penglihatan.
5. Kekurangan iodine yang diperlukan untuk fungsi thyroid dapat menyebabkan retardasi mental, neurogical, dan fisik.
6. Kekurangan manganese dapat menyebabkan malformasi janin seperti neural tube defects.
7. Kekurangan vitamin B6 dapat menyebabkan kejang dan depresi
8. Kekurangan zinc dapat menyebabkan penyakit mental.
9. Tidak mendapatkan kecukupan lemak sehat di dalam diet dapat menghambat pertumbuhan sel-sel, perkembangan dan fungsi otak, kemam puan visual, kemampuan pembelajaran, dan dikaitkan dengan ADHD, dementia, depresi, dan kehilangan ingatan (Aura, 2008).




















KESIMPULAN

Kebutuhan nutrisi sangatlah penting dan perlu diperhatikan, Karena bertujuan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan serta untuk mencegah suatu keadaan defisiensi. Nutrisi yang baik penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak. Orang tua adalah yang paling menentukan dalam makanan yang dimakan anak serta yang bertanggung jawab untuk memastikan, mereka mendapatkan diet sehat seimbang.
























DAFTAR PUSTAKA


Aura, 2008, Makanan Untuk Kesehatan Emosional dan Mental anak, Tabloid Media Wanita Aura, No.37 / TH.XII. Minggu Ke-2

Gizi net, 2008, Nutrisi untuk Tumbuh Kembang anak, [online] http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1059624784,96412, [Accessed on 22 September].

Hidayat. A, Alimul, 2008, Pendidikan Ilmu Keperawatan Anak, Salemba medika, Jakarta.

Nelson dkk, ed.15, Ilmu Kesehatan Anak, Buku kedokteran EGC, Jakarta.
Read More..