Jumat, 17 April 2009

Become Registered Nurse (RN)

Registered nurses make up the majority of workers in the health care industry. They hold a position of seniority over licensed practical nurses and nursing assistants and are often in charge of assigning tasks in a hospital environment.

Being a registered nurse can be both a challenging and a rewarding profession. Some RNs work evening, weekend or on-call hours, and are exposed to a variety of medical conditions. But they also have fairly lucrative salaries as well as the satisfaction of making a valuable impact on the lives of patients and their families.

A registered nurse is responsible for the needs of patients suffering from illness or injury, and can provide care and cater to the needs of patients in a variety of settings, including operating rooms, ambulatory care, intensive care, physicians offices, health care clinics or specialized practices. The diversity of the registered nursing career opens many professional doors—especially during a time when there is a nursing shortage and need for qualified nurses.

If you are a natural caretaker and are thinking about becoming a registered nurse, read on to learn detailed registered nursing career specifics.

Registered Nurse Career Overviewr

Most registered nurses can be found working in teams for health care facilities. Some of the positions involve little or no direct patient care, but the general responsibilities of a registered nurse can include:

* Observing and recording patient medical history and symptoms
* Establishing a plan of care for patients or adding to an existing one then putting the plan into action
* Managing and assigning tasks to licensed practical nurses and nursing assistants
* Advising and providing emotional support for patients and their families

If a nurse decides to work outside of a health care facility there is a different set of nursing careers available to them. Some of these include clinical nurse specialists, nurse practitioners, nurse-midwives and nurse anesthetists.


Registered Nurse Education


A degree in registered nursing is the foundation for a career in the field of health care. Credentials can be acquired by completing one of these three programs offered at many registered nursing schools:

* An associate degree in nursing
* A bachelor's of science degree in nursing
* A nursing diploma

The most popular program is the associate degree, which takes an average of two to three years to complete. One of the perks associated with this path is that once you've obtained the degree, you can apply for an entry-level position that offers benefits—including tuition reimbursement and college credit toward your two-year bachelor's degree. This choice also provides valuable hands-on experience in the field while earning an education. Going straight for the bachelor's program takes four years, and a diploma can take three to five years.

After completing any of these programs a nurse must pass a national licensing examination (NCLEX-RN). Nursing degree education requirements vary based on state, and a nurse may sometimes be required to take the local NCLEX-RN examination to work in a new state, so make sure you research the requirements in the state where you want to practice by contacting the state board of nursing.


Registered Nurse Salary


The income of a registered nurse is influenced by location, education and experience. Results from a survey in 2006, conducted by the Bureau of Labor Statistics, showed that the average income of a nurse practicing in the United States is $57,280. The middle 50 percent earned $47,710 to $69,850. Nurses with more responsibilities or specialized experience have more opportunities for advancement and an increase in salary.


Registered Nurse Career Outlook

Registered nursing is one of the fastest-growing career fields. Because of the nursing shortage, 587,000 new jobs are projected to be opening from 2006 to 2016, increasing the current number of positions by 23 percent. Many hospitals offer signing bonuses, family-friendly work schedules or subsidized continuing education for new employees. Many people currently providing care in nursing are expected to retire, leaving a large vacancy in the profession. There is a great need to fill these positions with a new and younger workforce. Registered nursing schools are accepting new applicants and helping them reach their nursing education goals.

Nursing is the largest occupation in health care, with the majority working in full-time positions. Earning credentials as a registered nurse can also help to open the doors to higher and more specialized medical professions. Embrace your opportunity as this rewarding career welcomes the next generation of registered nurses.



Source:
Bureau of Labor Statistics, 2008
Read More..

Kamis, 26 Februari 2009

lowongan Perawat Ke arab

untuk ditempatkan secepatnya;
Persyaratan:
1.Perempuan (muslim or non-muslim)
2.Mampu berbahasa Inggris
3.Berijazah Diploma 3 / S-1 dibidang Keperawatan
4.Mempunyai pengalaman bekerja di rumah sakit minimal 2 tahun
5.Bagi yang tidak mampu berbahasa Inggris harus mengikuti pelatihan selama 3 bulan tanpa dipungut biaya.
6.Selama mengikuti pelatihan tempat tinggal dan makan disediakan tanpa dipungut biaya.


Dokumen yang
harus dilengkapi:

1.Surat lamaran dalam bahasa Inggris
2.Riwayat hidup dalam bahasa Inggris(Curriculum Vitae)
3.Copy ijazah SMU, Diploma 3 / S-1 Keperawatan atau AKPER
4.Surat pengalaman kerja
5.Serifikat penunjang lainnya apabila ada
6.Foto warna ukuran 4 X 6 (15 lembar).


Fasilitas di

1.Rumah Sakit dan Puskesmas Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia:
2.Mendapat gaji per bulan Mulai dari US. $ 800 s/d 1.300 US.$
3.Tempat tinggal dan makan ditanggung
4.Setiap tahun mendapat libur 45 hari dengan gaji dibayar penuh dan diberikan tiket pulang pergi ke Jakarta secara cuma-cuma.

Pemberangkatan
1.selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah test oleh Delegasi dari
Saudi Arabia
2.Bagi yang berminat, email lamaran dan CV dan foto (scanned) ke: nurse_recruitment@yahoo.com, copy ijasah dan data penunjang nanti menyusul (dibawa) pada saat pemanggilan interview.

Dery Kuhr
On-line nurse recruitment Agent
Hp: 08551053333
Ph: 021-91685307
Read More..

Langkah- langkah memijat bayi


Para Ibu yang mempunyai bayi pastilah memberikan perawatan pada bayinya tersebut dengan kasih sayang dan penuh cinta, dan melakukan apa saja untuk bayinya agar dapat tumbuh dan berkembang sempurna. Salah satu yang dilakukan oleh ibu adalah memijat bayinya tersebut dengan penuh kasih-sayang. Nah, mungkin Teknik memijat bayi dibawah ini dapat di aplikasikan, yaitu pemijatan pada wajah, dada, perut, punggung, dan tangan bayi. Pemijatan yang dilakukan seperti berikut:


Wajah :

1. Tekan jari-jari pemijat pada kening bayi, pelipis, dan pipi
2. Gunakn kedua ibu jari untuk memijat daerah diatas alis
3. Dengan tekanan lembut, tarik garis dengan ibu jari dari hidung bayi kearah pipinya.
4. Gunakan kedua ibu jari untuk memijat sekitar mulutnya, tarik sehingga ia tersenyum
5. Pijat lembut rahang bawah bayi dari tengah ke samping seolah membuat bayi tersenyum.
6. Pijat secara lembut daerah di belakang tekinga kearah dagu.

Dada (Pijatan ”kupu-kupu” memperkuat paru-paru dan jantung)
1. Letakkan kedua tangna pemijat ditengah dada bayi, dan gerakkan keatas kemudian kesisi luar tubuh dan kembali ke ulu hati tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati.
2. Dari tengah dada bayi, pijat menyilang dengan telapak tangan kearah bahu seperti membentuk kupu-kupu.

Perut
Pijatan pada perut meningkatkan sistem pencernaan dan mengurangi sembelit
1. Lakukuan gerakan memijat diatas perut bayi seperti gerakan mengayuh sepeda dari arah atas kearah bawah perut.
2. Angkat kedua kaki bayi dan tekan lututnya perlahan-lahan kearah perut.

Pijatan matahari bulan
1. Buatlah bulan separuh terbalik dengan tangan kanan memijat dari kiri kearah kanan dengan arah jarum jam.
2. Saat tangan kanan pemijat diatas, tangan kiri dibawah dan berputar mengikuti arah jarum jam membentuk lingkaran penuh matahari.
3. Rasakan gelembung angin dengan jemari pemijat tekan searah jarum jam
• Gerakan diataas harus dilakukan dengan hati-hati apabila pada bayi dibawah usia 6 bulan karena tali pusat masih tersisa.

pijatan ilove You :
1. ”I ”
Buatlah sebuah bentuk huruf I melalui usapan dengan tangan kanan pemijat berada di perut sebelah kiri bayi (kanan pemijat)
2. ” love ”
Buatlah huruf L terbalik mulai dari kiri ke kanan
3. ” You ”
Buatlah huruf U terbalik, mulai dari kiri ke kanan. Saat pemijat menjalankan gerakan ini, ucapkan ” I Love You ” dengan nada yang lembut.


Tangan dan kaki ( pijatan ”peras putar menggulung ” menghlangkan ketegangan dan memperkuat tulang)
1. Peganglah lengan bayi dengan kedua telapak tangan seperti memegang pemukul soft ball, dan dengan gerakan memerah, pijat tangan bayi dan bahu hingga ke pergelangannya.
2. Lakukan gerakan kebalikan dari pergelangan ke arah pangkal lengannya. Tarik lembut jari- jari bayi dengan gerakan memutar.
3. Dengan kedua ibu jari secara bergantian, pijat seluruh permukaan telapak tangan dan punggung tangan.
4. Gunakan kedua te;lapak tangan untuk membuat gerakan seperti menggulung. Untuk kaki, ikuti cara yang sama seperti teknik memijat dengan tangan.

Punggung (Pijatan maju –mundur memperkuat otot untuk menjaga tulang belakang)
1. Pijat punggung bayi dengan gerakan maju-mundur menggunakan kedua telapak tnagan disepanjang punggungnya
2. Luncurkan slah satu telapak tangan pemijat dari leher sampai ke pantat bayi dengan sedikit tekanan
3. Dengan jari-jari pemijat, buat gerakan melingkar terutama pada otot disebelah tulang punggung
4. Buat pijatan memanjang dengan telapak tangan dari leher ke kakinya untuk mengakhiri sesi pijatan.

* Teknik pijatan diatas dianjurkan untuk digunakan pada bayi cukup bulan. Khusus untuk bayi prematur teknik pijatan yang dasarankan para ilmuwan adalah menekuk dan meluruskan lengan dan tungkai



Read More..

Sabtu, 21 Februari 2009

Tindihan Makhluk Halus Saat Tidur, Berbahaya kah????



Akhirnya, pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiranku terjawab juga dengan membaca majalahDokter Kita. Yups judul artikel tersebut “Ditindih Makhluk halus Saat Tidur? Ah, Santai saja… “ terang aja aku antusias membacanya karena aku pernah merasakannya. Rasanya ada jin yang besar menindaih badan ku yang pada saat itu tidur tengkurap, itulah mengapa kita tidak di anjurkan tidur tengkurap, dan seharunsnya kita mengikuti sunnah rosulullah dengan posisi tidur miring kekanan, tapi karena kecapean aktivitas siang harinya, tanpa di perintahpun rasanya mata ku sudah secara otomatis menutup, sampai aku tertidu pulas dan terjadilah kejadian yang menakutakan. Rasanya ada jin yang besar sedang menindihi tubuhku sehingga sulit untuk bangun dan membuka mata. Setelah membaca ayat kursyi dan istighfar, akhirnya perlahan-lahan dimulai dari telinga kanan hingga seluruh tubuhku, akhirnya terasa ringan.


Menurut kepercayaan orang tua, aku mengalami yang namanya tindihan, dan “sesuatu” yang menindihiku itu adalah makhluk halus. Benarkah karena makhluk halus? Lalu bahayakah? Apa yang harus kita lakukan bila mengalaminya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab setelah aku membaca artikel tersebut.

Makhluk Halus ?
Menurut Sleep Technologist, Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, tindihan secara medis disebut sleep paralysis, suatu gejala dari gangguan tidur. Nah, saat tindihan saat tindihan sering terjadi halusinasi, seperti melihat makhluk halus. Makanya tindihan sering di kaitkan dengan mistis.
Dr Andreas menambahkan, tindihan biasanya terjadi menjelang tidur sehingga helusinasinya disebut disebut sebagai hypnagogiv (menjelang tidur), sedangkan halusinasi menjelang bangun tidur disebut hypnopompic (akhir tidur).

Antara Tidur dan tindihan
Berdasarkan gelombang otak, tidur dibagi menjadi. Mulai tahapan-tahapan tidur. Mulai dari tahap tidur Ni, N2, N3, dan R. Tahap N1 merupakan tahap tidur ringan karena masih setengah sadar. Dari tahap N1 semakin dalam ke N2 dan seterusnya. Tahap tidur R adalah tahap tidur dimana kita bermimpi. Ada dua hal yang khas yaitu adanya mimpi dan kelumpuhan otot besar. Saat bermimpi aktivitas otak mirip sekali dengan keadaan terjaga. Bedanya adalah saat itu seperti lumpuh agar kita tidak bergerak sesuai mimpi.

Sleep Paralysis
Lalu bagaimana tindihan bisa terjadi? Ketika berada dalam kondisi kurang tidurs, (bisa karena waktu tidur kurang atau waktu tidur cukup tetapi kualitasnya buruk), gelombang otak kita seolah melompat dari tidur Ni ke tidur R. Akibatnya kita merasa seperti setengah sadar dan setengah bermimpi. Tiba0tiba kita melihat sosok menyeramkan dan kita tidak dapat menggerakkan badan. Kondisi itu diperburuk dengan nafas yang sesak berkaitan dengan tidur R. Sebenarnyas secara otomatis kita tetap bernafas. Dalam kepanikan, biasanya kita akan menarik nafas dalam dibutuhkan otot-otot pernafasan ekstra, yang celakanya pada tahap R juga ikut dilumpuhkan.

Tidak Bahaya, Tetapi..
Dr. Andreas menekankan, tindihan tidak berbahay, hanya saja jangan pernah dianggap remeh karena bisa jadi merupakan salahsatu gejala gangguan tidur seperti narkolepsi, sleep apnea, gelisah atau depresi.
Narkolepsi adalah gangguan tidur yang menyerang pusat pengaturan mimpi. Gejala lain dari narkolepsi adalah katapleksi dan rasa kantuk yang hebat. Penderitanya biasa tiba-tiba merasakan kantuk yang taktertahankan, sehingga harus meluangkan waktu sejenak untuk tidur. Katapleksi merupakan episode melumpuh seolah mau pingsan yang terjadi setelah dipicu oleh emosi kuat. Biasanya justru emosi gembira.
Nah, jika sudah cukup tidur namun masih merasakan mengantuk, itu merupakan gejala gangguan tidur lain. Contohnya saja penderita sleep apnea yang mendengkur. Mereka mengalami henti nafas saat tidur yang mengakibatkan kualitas tidurnya buruk. Akibatnya mereka selalu berada dalam ”kondisi kurang tidur” walaupun sudah cukup tidur.

Jurnal Tidur
Pesan Dr Andreas, saat mengalami tindihan berpikirlah tenang. Lupakan ”penampakan-penampakan” yang anda rasakan, dengan begitu kita bisa langsung tertidur atau bangun, tinggal kembali tidur. Selain itu Dr. Andreas mewanti-wanti kita untuk mencukupi waktu tidur. Jika sering mengalami tindihan, Dr Andreas berpesan untuk membuat jurnal tidur sebelum ke dokter. Jurnal tidur, merupakan tucatatan kebiasaan tidur yang ditulis dipagi hari. Isinya berupa catatan waktu tidur, kebiasaan sebelum tidur, obat yang diminum, mimpi, apa yang dirasakan saat bangun, dan sebagainya. Jurnal itu akan sangat bermanfaat bagi dokter untuk menganalisa kebiasaan tidur anda.
Walaupun tidak berbahaya, tapi mudah-mudahan itu tidak akan terulang lagi karena rasanya benar-benar nyata seperti ditindih jin atau Syetan. At list, tidur merupakan kebutuhan setiap manusia, So kita harus mengatur pola tidur dan mencukupi kebutuhan tidur, supaya tubuh kita tetap sehat dan syetan tidak akan mengganggu tidur kita ”tindihan”.

Sumber : Majalah ”Dokter Kita”, edisi 12, Des 2008

Read More..

Sabtu, 14 Februari 2009

STRATEGI DALAM MENYIAPKAN PERAWAT PROFFESIONAL YANG MAMPU BERSAING DI ERA GLOBALISASI

LU’AILIYUN NADHIROH
Abstract
In the era where number of educated unemployee rising sharply by year to year. There is an opportunity for Indonesia nurses to work a broad as a health professionals and enter the globalization era. Yet, still there are many constaint indelivering process. Based on this fact of situation, writer try to criticize, “The strategy tocreate professional nurse who can compete in globalization era”. Writer use a descriptif metode to determine the importance of many institution roles, such as government and nursing educational institute. Nursing educational institute had a great role in educational preparation. Therefore, the lecturers quality as well as the Institute quality it self played an important act in this field. While government roles is to provide a guiding framework in an intensive preparation training for nurse to work in foreign countries as a health professionals at global levels.

Key words: Professional nurse, Globalization eraAbstrak
Ditengah semakin meningkatnya pengangguran terdidik dari tahun ke tahun, terdapat suatu peluang bagi perawat di Indonesia untuk dapat dikirim ke luar negeri sebagai perawat professional, dan bersaing di Era Globalisasi. Namun masih ada banyak kendala untuk proses pengiriman tenaga perawat ke Luar Negeri. Dari latar belakang tersebut, penulis membahas tentang bagaimana strategi dalam menyiapkan perawat ke luar negeri yang mampu bersaing di era globalisasi. Penulis menggunakan metode penulisan deskriptif untuk menggambarkan bahwa pentingnya peran Lembaga Pendidikan, baik dari kualitas tenaga pendidik maupun kualitas lembaga pendidikan keperawatan dan perlu adanya peran serta pemerintah untuk memfasilitasi pelatihan intensif persiapan tenaga perawat ke luar negeri, untuk menghasilkan perawat professional yang mampu bersaing di era globalisasi.

Kata kunci : Perawat professional, era globalisasi


I. PENDAHULUAN

Saat ini rasio perbandingan jumlah perawat dan penduduk di Indonesia adalah 1:44, sebuah angka yang rendah jika kita bandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Filipina (Wati, 2007). Meski jumlah tersebut rendah, namun sepertinya tidak memungkinkan lagi bagi healthcare provider untuk menerima tambahan perawat baru karena besaran beban keuangan.

Ditengah semakin meningkatnya pengangguran terdidik dari tahun ke tahun, terdapat suatu peluang bagi perawat di Indonesia untuk dapat dikirim ke luar negeri sebagai perawat professional, dan diakui oleh dunia. Perawat Indonesia mempunyai peluang untuk dapat bekerja di Timur tengah (Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Kuwait), bahkan sudah merambah ke negara-negara maju seperti Amerika serikat, Australia, benua Eropa (Inggris, Belanda, Norwegia), dan Jepang.

Kebutuhan Perawat Profesional (Registered Nurse) di dunia Barat (Amerika, Eropa, Australia, Canada, Jepang) meningkat dengan pesat, sejalan dengan penuaan usia baby boomer dan menurunnya keinginan menjadi Perawat pada generasi muda di Barat. Diperkirakan di Amerika saja kekurangan perawat profesional berkisar antara satu juta orang ditahun 2015 nanti.

Pada saat ini kekurangan perawat ditutup oleh perawat dari tiga negara Asia, yaitu: Filipina, China dan India. Padahal secara demografis, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang terbesar keempat didunia, sehingga peran Indonesia dalam memasok tenaga Perawat Profesional keluar negeri adalah hal yang dapat dan bisa dilaksanakan. Jadi dimana masalahnya ? Dari sudut supply terlihat besarnya jumlah Akademi Perawat yang mendidik Perawat D3, yang berjumlah lebih dari 1000 Akper diseluruh Indonesia. Jumlah Sarjana Keperawatan masih relatif kecil, karena Program Studi Sarjana Keperawatan baru sekitar duapuluhan, dan baru dimulai sejak 5 tahun yang lalu. Namun kelemahan mendasar ialah para lulusan Perawat ini standar kompetensinya tidak diakui oleh dunia Internasional. Sebagai contoh lulusan Perawat Malaysia diakui oleh Negara Commonwealth, dan lulusan Filipina langsung bisa bekerja di Amerika dan Eropa. Kelemahan kedua ialah kemampuan bahasa Inggris yang lemah, yang dibutuhkan dalam kompetisi tingkat internasional.
Berkenaan dengan ketrampilan perawat Indonesia yang masih kurang, terlihat dari segi skoring NCLEX (The National Council Licensure Examination) yang masih rendah. Ujian NCLEX sendiri merupakan prasyarat perawat Indonesia untuk dapat bekerja di luar negeri. Sebagai gambaran, skor yang diperoleh perawat Indonesia adalah angka 40. Padahal skoring yang dibutuhkan untuk bekerja di Eropa antara 50 sampai 70 dan di AS antara 70 sampai 80 (Syaifoel, 2008).
Di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (PPSDM Kesehatan) melaporkan bahwa jumlah terbesar Tenaga Kesehatan Profesional Indonesia (TKPI) yang telah bekerja di luar negeri mulai 1989 sampai dengan 2003 adalah perawat (97.48% dari total sebanyak 2494 orang). Meskipun jumlah perawat yang bekerja di luar negeri menempati prosentase terbesar dibandingkan tenaga kesehatan yang lain, masih terdapat beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian dan ditanggulangi mulai dari saat ini.( ferryefendi, 2007).

Dari latar belakang di atas, penulis akan mambahas tentang bagaimana menyiapkan perawat ke luar negeri yang mampu bersaing di era globalisasi, dan kemudian mencoba mengidentifikasi peran penting lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia agar dapat mempersiapkan perawat yang siap berkompetisi di era pasar global. Diharapkan tulisan dapat memberikan kontribusi dan sumbang saran bagi berbagai pihak terkait, terutama bagi lembaga pendidikan keperawatan serta organisasi profesi keperawatan dan juga pemerintah.

II. PEMBAHASAN / KAJIAN
A. Pendidikan Keperawatan di Indonesia
Indonesia baru mengembangkan program Sarjana Keperawatan sejak 5 tahun yang lalu, dan dalam program pendidikannya memisahkan Program Pendidikan Sarjana Keperawatan (4 tahun) dimana lulusannya bergelar SKp (Sarjana Keperawatan). Setelah lulus para SKp mengambil Program Pendidikan Profesi Keperawatan (1,5 tahun) yang lulusannya bergelar Ners. Masalahnya, Gelar SKp dan Ners ini hanya berlaku di Indonesia, dan tidak diakui dunia Internasional (Rijadi, 2005).

B. Perawat Profesional (Registered Nurse)
Perawat professional adalah seorang perawat yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan berkompetensi untuk melakukan pelayanan keperawatan klinik yang dibuktikan dengan sertifikat Registered Nurse (RN) melalui proses akreditasi (IRNI, 2008).

Sejalan dengan berkembangnya profesi keperawatan, berbagai jenis pendidikan yang menawarkan untuk menjadi Registered Nurse (perawat terdaftar) juga ikut berekembang. Pada awalnya sekolah-sekolah keperawatan milik rumah sakit dikembangkan untuk mendidik pearawat yang ingin bekerja di rumah sakit tersebut.

Karena keperawatan secara terus-menerus mengembangkan keilmuannya, proses pendidikan formal dikembangkan untuk menyakinkan konsistensi dari tingkat pendidikan dalam institusi. Konsistensi tersebut juga dibutuhkan untuk mendapat sertifikasi RN (Registered Nurse). Di amerika Serikat seorang individu dapat menjadi RN melalui program pendidikan tingkat dasar, diploma, atau sarjana. Sedangkan di Canada melalui program pendidikan dploma dan sarjana (Potter dan Perry, 2005).

C. Persyaratan Menjadi Perawat Profesional yang Mampu Bersaing di Era Globalisasi
Kebutuhan tenaga perawat di Negara maju seperti : Amerika, Canada, Eropa, Australia, Jepang dan Timur Tengah melonjak dengan drastis sejak tahun 1980. Diperkirakan bahwa kebutuhan tenaga perawat di Amerika ditahun 1980 sekitar 200,000 perawat, dan kebutuhan ini akan melonjak menjadi 500,000 perawat ditahun 2020, untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di Amerika. Untuk seluruh Negara maju diatas kebutuhan perawat diperkirakan mencapai 1 juta perawat pada tahun 2020 (Rijadi, 2005).

Kebutuhan perawat ini dipenuhi oleh Perawat dari negara berkembang yang mempunyai tenaga keperawatan yang sesuai dengan standar dunia. Tiga sumber utama tenaga keperawatan dunia ialah dari Phillippine, India dan China. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, seharusnya mampu mengekspor tenaga keperawatan sesuai dengan kebutuhan dunia diatas. Mengapa kita tidak bisa mengirimkan tenaga keperawatan dengan standar dunia diatas?

Perawat Indonesia hingga saat ini belum bisa bersaing dengan perawat Philippine dan India, karena faktor Bahasa Inggris sebagai media komunikasi di negara tujuan. Bahasa Inggris ini diukur dengan Nilai Test IELTS (International English Language Testing System) dengan Nilai Overall adalah 6,5. Test IELTS terdiri dari 4 komponen: a. Mendengar (30 menit), b) Membaca (60 menit), c) Menulis (60 menit), dan d) Bicara (15 menit). Di Indonesia IELTS tes dilakukan di IDP Education Australia di jalan Kuningan Jakarta, dan British Council di Jakarta.

Faktor kedua, ialah Sertifikasi Keperawatan Internasional. Standar Perawat dalam dunia ialah lulusan Universitas yang bergelar Bachelor of Science in Nursing (BSN), dan mempunyai Sertifikasi RN (Registered Nurse). Perawat RN dari India, Malaysia akan diakui sertifikasinya oleh negara2 Commonwealth karena standar pendidikan keperawatannya sudah dibuat sama dengan standar Internasional. Demikian juga Perawat Phillippine, begitu mereka lulus BSN mereka mengambil Sertifikasi RN di Philippine yang diakui oleh dunia Internasional. Bahasa Inggris tidak menjadi masalah bagi mereka, karena mereka sehari-hari menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua mereka (Rijadi, 2005).

Untuk dapat mempersiapkan diri dalam test tulis keperawatan, maka secara Internasional semua negara mengadopsi model NCLEX-RN (The National Council Licensure Examination for Registered Nurses) yang tentu saja perlu dipelajari oleh perawat Indonesia. Test NCLEX-RN ini terdiri dari rangkaian pertanyaan simultan dalam konsep keperawatan yang terdiri dari 5 tahapan proses keperawatan (Pengkajian-Analisa-Perencanaan-Inplementasi-Evaluasi) dan 4 konsep katagori kebutuhan manusia (Safe effective care environtment – Health promotion and maintenance – Psychosocial integrity – Physiological Integrity) (Nurmatono, 2006).

Melihat persyaratan yang harus dipenuhi tersebut, kita dapat mengasumsikan bahwa tenaga perawat yang bekerja di luar negeri tentu merupakan perawat pilihan dan mempunyai kemampuan yang dapat di andalkan dalam memberikan perawatan yang berkualitas. Untuk menghasilkan perawat yang professional, tidak lepas dari peran lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia dalam bertanggung jawab mempersiapkan perawat yang berkualitas dan mampu bersaing di era pasar global (Hapsari, 2006).

Kendala-kendala tersebut perlu untuk segera ditanggulangi selain faktor-faktor lain yang belum teridentifikasi dalam tulisan ini. Beranjak dari hal inilah sebenarnya lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia dapat mulai ikut berperan aktif dalam merumuskan strategi yang tepat dalam mendidik calon perawat. Keberadaan sistem pendidikan tinggi keperawatan dengan berbagai keluarannya harus dapat memacu proses profesionalisasi keperawatan yang sedang berlangsung di Indonesia sehingga keperawatan sebagai profesi dapat berperan sepenuhnya dalam upaya pembangunan kesehatan masyarakat, serta berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan (Kusnanto, 2004).

III. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan adalah metode penulisan deskriptif. Menurut “Notoatmodjo, 1993” penulisan deskriptif adalah suatu metode penulisan yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara obyektif. Metode penulisan deskriptif memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang.
Penulis menggambarkan fenomena tentang persiapan perawat ke luar negeri, dan kemudian mencoba mengidentifikasi peran penting lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia agar dapat mempersiapkan perawat yang siap berkompetisi di era pasar global. Penulisan ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah ; Pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan analisis data, dan membuat kesimpulan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan pengumpulan data dengan mencari informasi dari kepustakaan (buku, Koran, majalah, browsing), mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan judul garapan (Arifin,2000).
Penulis mendapatkan sumber data dari buku dan internet. Setelah data terkumpuil, penulis menyeleksi data tersebut untuk kemudian dipakai dalam penyusunan karya ilmiah. Setelah menyeleksi, penulis melakukan pengolahan data untuk kemudian membuat analisis karya ilmiah.

IV. HASIL KAJIAN
Untuk menghasilkan perawat professional yang mampu memberikan pelayanan prima, merupakan tidak lepas dari tanggung jawab dari Lembaga pendidikan. Perawat di harapkan mampu memenuhi tuntutan masyarakat di dalam negeri, dan mempunyai kemampuan untuk bekerja lintas Negara dengan sistem perawatan kesehatan dan karakteristik masyarakat yang berbeda.
Hanya saja memang mesti ada target-target angka dari lembaga/pengelola penempatan perawat atau PPNI sebagai organisasi profesi dengan di dukung oleh pemerintah untuk memanfaat peluang kebutuhan Negara-negara maju akan perawat, misalnya dapat menjadikan hal ini dalam program yang terintegrasi. Sehingga banyaknya lulusan D3/S1 yang belum bekerja saat ini dapat dijembatani dengan Program Penempatan Perawat Indonesia diluar negeri yang terintegrasi dalam model konsursium nasional . Saat ini ada sekitar 250.000 perawat Indonesia, seandainya kita mematok target di tahun 2010 katakan saja 10%-nya bekerja diluar negeri, maka ada 25.000 perawat (saat ini baru 5.000) perawat Indonesia yang bekerja diluar negeri. Angka tersebut masih kecil sekali, jika dibandingkan 40% total perawat India dan Philipina yang bekerja di luar negaranya, dimana mereka memang terinspirasi sejak di perkuliahan (Nurmatono 2006).

A. Pengembangan Pendidikan Keperawatan
Untuk menghasilkan perawat professional yang mampu memberikan pelayanan prima, merupakan tidak lepas dari tanggung jawab dari Lembaga pendidikan. Perawat di harapkan mampu memenuhi tuntutan masyarakat di dalam negeri, dan mempunyai kemampuan untuk bekerja lintas Negara dengan sistem perawatan kesehatan dan karakteristik masyarakat yang berbeda.
Strategi yang perlu di kembangkan pada lembaga pendidikan keperawatan adalah peningkatan kualitas tenaga pendidik dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan keperawatan (Hapsari, 2006).

1. Peningkatan kualitas tenaga pendidik
Tenaga pendidik merupakan role model perawat proffesional yang kompeten. Kompetensi yang dimaksud adalah dalam hal pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan kemampuan dalam melakukan praktek keperawatan. Kompetensi tersebut tentunya dimiliki oleh tenaga pendidik yang telah melaksanakan program pendidikan tinggi keperawatan minimal S1, mampu melakukan praktik klinik keperawatan. Kemampuan untuk terus belajar, baik yang terkait dengan ilmu keperawatan maupun disiplin ilmu lain, dan terus meningkatakan kemampuan berbahasa asing merupakan modal yang perlu di kuasai, karena di tuntut mampu mengaplikasikan kurikulum berbasis standard International.
Pendidik juga di tuntut untuk mengaolikasikan strategi mengajar yang dapat mengembangkan pola pikir kritis pada calon perawat sehingga mereka dapat bekerja di komunitas dan budaya yang beragam. Karena untuk keluar negeri, disamping ketrampilan dalam ilmu keperawatan itu sendiri, kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan, budaya dan sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, juga sangat di perlukan supaya tidak terjadi shock kultur.

2. Peningkatan kualitas tenaga pendidik
Strategi yang menyangkut peningkatan kualitas lembaga pendidikan keperawatan meliputi upaya peningkatan fasilitas pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memperoleh ilmu seluas mungkin, diantaranya adalah :
a. Sarana-prasarana laboratorium di sesuaikan dengan yang ada di RS dan/ komunitas, sehingga peserta didik berlatih pengetahuan dan ketrampilan sampai pada tingkat yang di harapkan. Sehingga menghasilkan mutu lulusan yan gsiap memberikan asuhan pelayanan keperawatan secara professional dan sesuai dengan tuntutan masyarakat.
b. Melengkapi inventaris perpustakaan dengan buku-buku yang berasal dari dalam dan luar negeri. Sehingga staf akademik dan peserta didik dapat melatih kemampuan berbahasa inggris dan mendapat informasi yang luas khususnya standard kurikulum keperawatan professional.
c. Menggunakan model kurikulum berbasis kompetensi standard internasional. Sehingga klien mendapatkan asuhan keperawatan yang berkualitas sesuai dengan standard praktek. Keuntungan lain perawat mendapat perlindungan hukum bila muncul masalah hukum yang berhubungan dengan standard praktik keperawatan. Karena standard Internasional merupakan berdasarkan studi lapangan yang sudah melalui proses penelitian.
d. Menambah kurikulum bahasa Inggris, serta mengadakan kursus-kursus tambahan di luar jam belajar efektif. Misalnya ; English for Nurse, TOEFL, IELTS.
e. Menyediakan fasilitas teknologi informasi bagi staf akademik dan mahasiswa, yaitu;
 Komputer bagi mahasiswa dengan rasio 1:5, sedangkan untuk staf akademik minimal 1 komputer
 Tersedia jaringan internet yang menjamin komunikasi antara pimpinan institusi pendidikan keperawatan, staf akademik, dan mahasiswa.
Fasilitas-fasilitas tersebut penting sekali, karena di luar Negeri semua proses kegiatan pekerjaan menggunakan system computer, di samping itu memudahkan mahasiswa untuk mendapat informasi seluas mungkin yang mungkin tidak di dapat dalam proses pembelajaran.
f. Institusi pendidikan keperawatan harus mengalokasikan anggaran untuk menjamin aktivitas penelitian staf akademik, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian selama pendidikan, di bawah bimbingan staf akademik, dan penelitian yang dilakukan hendaknya bermanfaat untuk meningkatkan suasana akademik, memberikan dasar-dasar proses penelitian yang benar pada mahasiswa, perbaikan kurikulum dan upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat.
g. Institusi pendidikan keperawatan memberi kesempatan pada mahasiswa ke luar negeri dalam rangka pengayaan pengalaman belajar mahasiswa yang nantinya bisa di informasikan kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya.
Segala kegiatan dan strategi yang dilaksanakan, tentunya perlu di evaluasi secara terus-menerus, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

B. Strategi Mewujudkan Sertifikasi RN
Proses pengiriman perawat ke luar Negeri tidak lepas dari peran serta Organisasi perawat (PPNI) serta pemerintah. Untuk menghasilkan perawat professional yang berkompetensi untuk bersaing di era globalisasi, perlu adanya strategi untuk mencapai target dalam peningkatan kompetensi keperawatan serta menghasilkan perawat professional yang mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara prima, dan yang paling penting adalah bisa di terima oleh dunia Internasional sebagai perawat professional yang telah teregistrasi dan mempunyai sertifikasi keperawatan Internasional.
Genderang revolusi budaya di pelayanan keperawatan sudah digulirkan dan disepakati baik di Negara-negara anggota APEC maupun Negara-negara ASEAN. Pada konferensi Internasional APEC bidang keperawatan pada 6-7 desember 2006 di Jakarta dan MRA on Nursing Services tingkat ASEAN pada tanggal 8 Desember 2006, disepakati bahwa : migrasi dan pelatihan tenaga keperawatan menggunakan satu tanda yaitu RN (Registered Nurse) sebagai tanda perawat tersebut adalah perawat professional, yang dianggap mampu dan memperoleh izin melakukan praktik dan pelayanan keperawatan. RN adalah satu-satunya tanda yang disepakati untuk tenaga keperawatan di Negara-negara ASEAN dan Negara-negara APEC, termasuk kesepakatan penggajian dan jenjang karir (IRNI,2008).

Dengan pertimbangan bahwa dunia Internasional memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mewujudkan RN di dalam negeri, maka tidak sulit untuk diwujudkan apabila mendapat dukungan politik dari pemimpin bangsa dan pemerintah dalam turut serta merumuskan dan melegalkan Undang-Undang yang dibutuhkan termasuk implementasinya akan mempercepat terbangunnya sistem RN di Indonesia (IRNI, 2008).

Apabila Strategi ini dapat dilaksanakan di Indonesia, maka perawat Indonesia mampu bersaing dan di akui oleh bangsa-bangsa di dunia, sebagai perawat professional. Dibawah ini merupakan skema sertifikasi profesi keperawatan yang dapat digunakan sebagai acuan oleh pemerintah dan organisasi perawat.

Gb1. IRNI 2008

Adapun strategi untuk mewujudkan Sertifikasi RN yang dapat dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Menggerakkan dan memberdayakan elemen-elemen bangsa (stake holder) untuk berperan serta aktif mewujudkan infrastruktur sistem sertifikasi RN. Elemen-elemen bangsa yang dilibatkan yaitu Legislatif, eksekutif seperti Presiden dan eksekutif di tingkat departemen dan pemerintah daerah. Asosiasi industri kesehatan, asosiasi jasa pengerah tenaga kerja dan berbagai puhak yang akan mendapatkan manfaat dengan terwujudnya registrasi RN, termasuk kalangan selebritis.
2. Melaksanakan studi banding ke Negara-negara yang telah mengimplementasikan sistem RN, seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia. Kita juga bisa melakukan replikasi sistem dari Negara tersebut, apabila diperlukan dan dianggap paling bisa diterapkan di Indonesia.
3. Melaksanakan capacity Building dan konsolidasi terhadap kader-kader terbaik.
4. Membentuk Lembaga Diklat Profesi (LDP) Keperawatan, seperti LKKI (Lembaga Kajian Keperawatan Indonesia).
5. Membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi RN (LSP-RN).
6. Melakukan kajian-kajian strategis yang akan diplubikasikan dalam bentuk Nursing Leadership Seminar, media cetak, dan elektronik.
7. Membentuk Nursing Leadership Development Center (NLDC), yang dapat mengembangkan jiwa dan kemampuan kepemimpinanperawat (RN) lintas profesi dan lintas generasi (transkultural Leadership). Diharapkan semakin memantapkan sistem RN di Indonesia (IRNI, 2008).

C. Peningkatan Kompetensi Keperawatan
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM dokter Sunartini SpAk ketika melantik 100 perawat mengatakan, untuk melengkapi kompetensi perawat profesional berstandar internasional perlu dikembangkan unit pelatihan. Unit itu bertujuan meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan dalam keperawatan (Suara Merdeka).
Langkah yang harus di lakukan adalah dengan membuka kelas khusus persiapan pemberangkatan perawat ke luar negeri, yang bertujuan membekali perawat-perawat dengan bahasa, kompetensi keperawatan, dan kultur negara-negara tujuan. Materi pelatihan di berikan oleh para perawat yang mempunyai pengalaman dari luar negeri dan telah menjadi perawat teregistrasi dengan sertifikasi Internasional (Registered Nurse).

Program pelatihan telah mengikuti program yang disepakati oleh lembaga-lembaga pengguna Internasional, dengan memberikan materi pelatihan tentang standard kompetensi Internasional. Program tersebut bisa berupa teori di kelas, maupun dengan praktek di Rumah Sakit maupun di klinik untuk memberikan pelatihan kompetensi dan menguatkan skill para perawat. Misalnya dengan memberikan latihan mengerjakan soal-soal ENCLEX, IELTS dari buku maupun melalui computer, karena dengan adanya latihan yang intensif mengerjakan soal-soal ENCLEX, di harapkan perawat dapat lulus test yang di syaratkan oleh Negara-negara pengguna.
Selanjutnya dengan mempelajari budaya yang ada di Negara tujuan, yang di harapkan perawat yang di kirim ke luar negeri tidak mengalami culture shock, dan yang terpenting melatih kesiapan fisik serta mental perawat yang akan berangkat ke luar Negeri. Pelatihan di akhiri dengan ujian yang diakui oleh Internasional, sehingga perawat lulusan dari pelatihan di akui oleh Internasional dan mampu memberikan pelayanan prima. Pelatihan tersebut akan terwujud dengan adanya dukungan dari pemerintah dengan memfasilitasi pelatihan secara maksimal.


V. KESIMPULAN
Ditengah semakin meningkatnya pengangguran terdidik dari tahun ke tahun, terdapat suatu peluang bagi perawat di Indonesia untuk dapat dikirim ke luar negeri sebagai perawat professional, dan diakui oleh dunia. Perawat Indonesia mempunyai peluang untuk dapat bekerja di Timur tengah (Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Kuwait), bahkan sudah merambah ke negara-negara maju seperti Amerika serikat, Australia, benua Eropa (Inggris, Belanda, Norwegia), dan Jepang.
Untuk menghasilkan perawat professional yang mampu memberikan pelayanan prima, merupakan tidak lepas dari tanggung jawab dari Lembaga pendidikan. Strategi yang perlu di kembangkan pada lembaga pendidikan keperawatan adalah peningkatan kualitas tenaga pendidik dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan keperawatan. Hanya saja memang mesti ada target-target angka dari lembaga/pengelola penempatan perawat atau PPNI sebagai organisasi profesi dengan di dukung oleh pemerintah untuk memanfaat peluang kebutuhan Negara-negara maju akan perawat, Dengan pertimbangan bahwa dunia Internasional memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mewujudkan RN di dalam negeri, maka tidak sulit untuk diwujudkan apabila mendapat dukungan politik dari pemimpin bangsa dan pemerintah dalam turut serta merumuskan dan melegalkan Undang-Undang yang dibutuhkan termasuk implementasinya akan mempercepat terbangunnya sistem RN di Indonesia. Untuk melengkapi kompetensi perawat profesional berstandar internasional juga perlu dikembangkan unit pelatihan dengan mengadakan program pelatihan intensif untuk mempersiapkan perawat ke luar Negeri.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E.Zainal. 2000. Dasar-Dasar Penulisan. Jakarta:PT Gramedia.

Ferryefendi, 2007, Prospek Kerja Perawat di Luar Negeri, [online], Available at URL http://ferryefendi.blogspot.com/2007/11/prospek-kerja-perawat-di-luar-negeri.html, [Accessed on 25 August 2008].

Hapsari, Dwi. Elsa, 2006, Menyiapkan Perawat yang Siap Berkompetisi di era Pasar Globalisasi, [online], Available at URL http//io.ppi.org/article.php?id=159, [Accessed on 05 April 2008].

IRNI (Ikatan registered Nurse Indonesia), 2008, Pokok-pokok pikiran dan cita-cita IRNI, Disajikan pada seminar nasional sosialisasi Industri Kesehatan dalam Standarisasi dan Sertifikasi Kompetensi Perawat Profesional. Jakarta, 5 juni 2008.

Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktek Keperawatan Professional, Jakarta:EGC.

Nurmatono, 2006, Kiat-Kiat dan Pengetahuan Tambahan, [online], Available at URL http://nurmartono.blogspot.com/2006/06/kiat-kiat-dan-pengetahuan tambahan_27.html, [Accessed on 25 August 2008].

Syaifoel. hardy, 2008, Kualitas Nursing di Indonesia : Penggerogotan Sistematis Profesi, [online], Available at URL http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&file=print&sid=215, [Accessed on 25 August 2008].

Rijadi, Suprijanto, 2005, Kebutuhan Perawat Profesional (Registered Nurse) Didunia 2020 , http://blog.360.yahoo.com/blog-vKiuY48iaa99GCdma4TVq4U-?cq=1 , [Accessed on 19 september 2008].

Suara Merdeka, Jumlah Penganggur Terdidik Bertambah. http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/04/ked11.htm. [Accessed on 10 september 2008].

Wati, DNK, 2007, Migrasi perawat Indonesia ke Jepang: Sebuah Prediksi ke Depan, [Online], Available at URL http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-03-26-Migrasi-Perawat-Indonesia-ke-Jepang:-Sebuah-Prediksi-ke-Depan.shtml, [Accessed on 25 August 2008].
Read More..