Sabtu, 24 Januari 2009
Pentingnya Mengenal Diabetes Mellitus Untuk Mencegah
Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius. Karena jika tidak, dampak dari penyakit tersebut akan membawa berbagai komplikasi penyakit serius lainnya, seperti jantung, stroke, disfungsi ereksi, gagal ginjal, dan kerusakan system saraf. Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa didalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup.
Dari data WHO di tahun 2002 diperkirakan terdapat 20 juta penderita diabetes mellitus di tahun 2025. di tahun 2030 angkanya bisa melejit mencpaai 21 juta penderita. Saat ini penyakit diabetes mellitus banyak dijumpai di Indonesia. Bahkan WHO menyebutkan, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia menduduki ranking empat setelah India, China, dan Amerika Serikat.
Klasifikasi Diabetes Mellitus :
1. Diabetes Tipe 1, Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemi-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang berasal dari makan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan). Sehingga penderita diabetes tipe 1 memerlukan pasokan insulin dari luar. Diperlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darah.
2. Diabetes Tipe II, Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM).
Disebabkan karena kurangnya produksi insulin dari sel beta pankreas, sehingga terjadi gangguan pengiriman gula ke sel-sel tubuh. Biasanya terjadi pada orang tua (umur lebih dai 40 tahun) atau anak dengan obesitas. Faktor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Pengobatan pertama adalah dengan diit dan olah raga ; jika kenaikan kadar glukosa darah menetap, suplemen dengan preparat oral hipoglikemik (suntikan insulin dibutuhkan jika tidak dapat mengontrol hiperglikemia)
3. Dabetes Gestasional (diabetes pada saat kehamilan)
Merupakan awitan selama kehamilan (pada trimester kedua atau ketiga)
Penyebab Diabetes
Penyebab utama diabetes di era globalisasi adalah adanya perubahan gaya hidup (pola makan yang tidak seimbang dan kurang aktifitas fisik). Selain itu adanya stress, kelainan genetik usia yang semakin lama semakin tua dapat pula menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya diabetes mellitus.
Tanda dan Gejala
Tanda dan Gejala yang lazim pada penderita diabetes Mellitus, sebagai berikut :
1. Poliuri ( banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana guula banyak menarik cairan dan elektrolit.
2. Polidipsi ( banyak minum)
Disebabkan karena pembakaran trlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehinnga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum
3. Polipagi ( banyak makan )
Karena glukosa tidak sampai ke sel, maka sel mengalami stervasi (lapar).
4. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa, maka tubuh berusaha untuk mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lainnya yaitu lemak dari protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada ditubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan Diabetes Mellitus walaupun banyak makan akan tetap kurus.
5. Mata Kabur
Disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa- sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
6. Kesemutan
Disebabakna karena kurangnya aliran darah ke bagian perifer
Sedangkan gejala-gejala diabetes tipe II muncul secara perlahan-lahan sampai menjadi gangguan yang jelas, dan pada tahap permulaannya sama seperti gejala diabetes tipe I.
Resiko terkena diabetes mellitus sebenarnya dapat dikurangi dengan mengatur pola makan yang sehat, rajin olah raga, tidur yang cukup, menghindari merokok, mirasantika dan lain sebagainya. Bagi yang sudah terkena diabetes, sebaiknya berolahraga setiap pagi, makan makan yang bergizi rendah karbohidrat dan lemak namun tinggi protein, vitamin dan mineral. Perbanyak makan sayuran dan makanan berserat tinggi lainnya. Rajin-rajin memeriksakan kandungan gula darah anda, dan menginjeksi insulin ke dalam tubuh dan minum obat jika diperlukan sesuai petunjuk dokter secara teratur. Dengan begitu dapat menghindar dari resiko efek yang lebih parah.
Penatalaksanaan
Tujuan utama dari penatalaksanaan diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler (system peredaran darah) dan neuropatik (kematian saraf). Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes ; Diet, Latihan, Pemantauan, Terapi, dan Pendidikan.
Prinsip umum diet. Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar penatalaksanaan diabetes mellitus. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut :
1. Memberikan semua unsur makanan essensial (misalnya vitamin, mineral).
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai.
3. memenuhi kebutuhan energi.
4. mencegah fluktuasi kadar glukosa dalam darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis.
5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.
Bagi pasien yang memerlukan insulin untuk membantu mengendalikan kadar glukosa darah, upaya mempertahankan konsistensi jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi pada jam-jam makan yang berbeda merupakan hal penting. Disamping itu, konsistensi interval waktu diantara jam makan dengan mengkonsumsi camilan (jika diperlukan), akan membantu mencegah reaksi hipoglikemia dan pengendalian keseluruhan kadar glukosa darah.
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi factor resiko kardiovaskuler.Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolahraga.
Latihan dengan cara meningkatkan tahanan (resistance traning) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian menambah laju metabolisme istirahat (resting metabolic rate). Semua efek inin sangat bermanfaat untuk penderita diabetes mellitus karena dapat menurunkan berat badan, mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh.
Latihan yang dilakukan seharusnya pada saat yang sama (sebaiknya ketiak kadar glukosa darah mencapai puncaknya) dan intensitasnya yang sama setiap hari. Latihan yang dilakukan secara teratur lebih dianjurkan daripada latihan secara sporadic.
Latihan jasmani dianjurkan dilakukan teratur, 3-4 kali seminggu selama +/- 0,5 jam sesuai dengan CRIPE (Continous, Rhytmical, Interval, Progressive, training). Latihan dilakukan terus meneruss tanpa henti, sehingga otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur, selang-seling antara gerak cepat dan lambat, berangsur-angsur dari sedikit kelatihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalak waktu tertentu, jenis latihan seperti jalan kaki, jogging, lari, bersepeda, renang dan mendayung.
Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri, supaya penderita dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah secara optimal. Cara ini memungkinkan deteksi dan pencegahan hipoglikemia serta hiperglikemi, dan berperan dalam membantu menentukan kadar glukosa darah normal yang kemungkinan akan mengurangi komplikasi diabetes jangka panjang.
Berbagai metode kini tersedia untuk melakukan pemantauan mandiri kadar glukosa darah. Kebanyakan metode tersebut mencakup pengambilan setetes darah dari ujung jari tangan, aplikasi darah tersebut pada strip pereaksi khusu, dan kemudian darah tersebut dibiarkan pada strip selama periode waktu tertentu 9 biasanya antara 45 dan 60 detik sesuai ketentuan pabrik). Untuk beberapa produk, darah di hapus dari strip (dengan menggunakan kapas atau kertas tissue sesuai ketentuan paabrik). Bantalan pereaksi pada strip akan berubah warnanya dan kemudian akan dicocokkan dengan peta warna pada kemasan produk, atau disisipkan kedalam alat pengukur yang memperlihatkan angka digital kadar glukosa darah.
Perawatan Kaki Diabetes. Kaki diabetes adalah kelainan tungkai kaki bawah akibat Diabetes Mellitus yang tidak terkendali. Yang harus dilakukan dalam perawatan adalah :
1. Periksa kaki setiap hari, apakah ada kulit retak, melepuh, luka perdarahan
2. Bersihkan kaki setiap hari pada waktu mandi dengan air bersih dann sabun mandi
3. Berikan pelembab/lotion pada daerah kaki yang kering, tetapi tidak pada sela-sela jari kaki.
4. Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki, tidak terlalu
5. Pakai alas kaki yang sesuai dan tidak kasar walaupun di dalam rumah
6. Periksa sepatu sebelum dipakai
7. Bila ada luka kecil, obati luka dan tutup dengan pembalut bersih
8. Senam kaki.
Terapi
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, hormon insulin disekresikan oleh sel-sel beta pulau Langerhans. Hormon ini bekerja untuk menurunkan kadar glukosa darah postprandial dengan mempermudah pengambilan serta penggunaan glukosa oleh sel-sel otot, lemak dan hati. Selama periode puasa, insulin menghambat pemecahan simpanan glukosa, protein, dan lemak.
Pada diabetes tipe 1, tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin. Dengan demikian insulin eksogenus harus diberikan dalam jumlah tak terbatas. Sedangkan pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang, untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya.
Penyuntikan insulin sering dilakukan dua kali per hari ( atau bahkan lebih sering lagi). Untuk mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada malam hari. Karena dosis insulin yang diperlukan masing-masing pasien ditentukan oleh kadar glukosa dalam darah, maka penentuan kadar glukosa darah yang akurat sangat penting. Pemantauan mandiri kadar glukosa darah telah menjadi dasar dalam memberikan terapi insulin. Preparat insulin bervariasi berdasarkan pada empat karakteristik utama masa kerjanya, konsentrasi, spesies (sumber), dan pabrik pembuatnya.
Masa kerja insulin dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan pada awitan, puncak, dan durasi kerjanya. Read More..
Kamis, 15 Januari 2009
Konseptual Keperawatan Calista Roy
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Model konseptual mengacu pada ide-ide global mengenai individu, kelompok situasi atau kejadian tertentu yang berkaitan dengan disiplin yang spesifik. Teori0teori yang terbentuk dari penggabungan ko9nsep dan pernyataan yang berfokus lebih khusus pasa suatu kejadian dan fenomena dari suatu disiplin ilmu. Model konseptual keperawatan dikembangkan atas pengetahuan para ahli keperawatan tentang keperawatan yang bertolak dari paradigma keperawatan. Model konseptual dalam keperawatan dapat memungkinkan perawat untuk menerapkan cara perawat bekerja dalam batas kewenangan sebagai seorang perawat. Perawat perlu memahami konsep ini sebagai kerangka konsep dalam memberikan asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan atau sebagai filosofi dalam dunia pendidikan dan kerangka kerja dalam riset keperawatan.Ada berbagai jenis model konseptual keperawatan berdasarkan pandangan ahli dalam bidang keperawatan, salah satunya adalh model adaptasi Roy. Roy dalam teorinya menjelaskan empat macam elemen esensial dalam adaptasi keperawatan , yaitu : manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan. Model adaptasi Roy menguraikan bahwa bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara memepertahankan perilaku secara adaptif karena menurut Roy, manusia adalah makhluk holistic yang memiliki sistem adaptif yang selalu beradaptsi.
B.Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk :
1.Menjelaskan Riwayat Hidup Sister
2.Menjelaskan Definisi dan Konsep Mayor Sister Calista Roy.
3.Menjelaskan Model konseptual Adaptasi Sister Calista Roy
4.Menjelaskan analisis SWOT konseptual sister Calista Roy.
BAB II
TEORI KONSEP SISTER CALISTA ROY
A. Riwayat Calista Roy
Suster Calista Roy adalah seorang suster dari Saint Joseph of Carondelet. Roy dilahirkan pada tanggal 14 oktober 1939 di Los Angeles California. Roy menerima Bachelor of Art Nursing pada tahun 1963 dari Mount Saint Marys College dan Magister Saint in Pediatric Nursing pada tahun 1966 di University of California Los Angeles.
Roy memulai pekerjaa dengan teori adaptasi keperawatan pada tahun 1964 ketika dia lulus dari University of California Los Angeles. Dalam Sebuah seminar dengan Dorrothy E. Johnson, Roy tertantang untuk mengembangkan sebuah model konsep keperawatan. Konsep adaptasi mempengaruhi Roy dalam kerangka konsepnya yang sesuai dengan keperawatan. Dimulai dengan pendekatan teori sistem. Roy menambahkan kerja adaptasi dari Helsen (1964) seorang ahli fisiologis – psikologis. Untuk memulai membangun pengertian konsepnya. Helsen mengartikan respon adaptif sebagai fungsi dari datangnya stimulus sampai tercapainya derajat adaptasi yang di butuhkan individu. Derajat adaptasi dibentuk oleh dorongan tiga jenis stimulus yaitu : focal stimuli, konsektual stimuli dan residual stimuli.
Roy mengkombinasikan teori adaptasi Helson dengan definisi dan pandangan terhadap manusia sebagai sistem yang adaptif. Selain konsep-konsep tersebut, Roy juga mengadaptasi nilai “ Humanisme” dalam model konseptualnya berasal dari konsep A.H. Maslow untuk menggali keyakinan dan nilai dari manusia. Menurut Roy humanisme dalam keperawatan adalah keyakinan, terhadap kemampuan koping manusia dapat meningkatkan derajat kesehatan.
Sebagai model yang berkembang, Roy menggambarkan kerja dari ahli-ahli lain dari ahli-ahli lain di area adaptasi seperti Dohrenwend (1961), Lazarus (1966), Mechanic ( 1970) dan Selye (1978). Setelah beberapa tahun, model ini berkembang menjadi sebagai suatu kerangka kerja pendidikan keperawatan, praktek keperawatan dan penelitian. Tahun 1970, model adaptasi keperawatan diimplementasikan sebagai dasar kurikulum sarjana muda keperawatan di Mount Saint Mary’s College. Sejak saat it lebih dari 1500 staf pengajar dan mahasiswa-mahasiswa terbantu untuk mengklarifikasi, menyaring, dan memperluas model. Penggunaan model praktek juga memegang peranan penting untuk klarifikasi lebih lanjut dan penyaringan model.
Sebuah studi penelitian pada tahun 1971 dan survey penelitian pada tahun 1976-1977 menunjukkan beberapa penegasan sementara dari model adaptasi. Perkembangan model adaptasi keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang Roy dan profesionalismenya. Secara filosofi Roy mempercayai kemampuan bawaan, tujuan,, dan nilai kemanusiaan, pengalaman klinisnya telah membantu perkembangan kepercayaannya itu dalam keselarasan dari tubuh manausia dan spirit. Keyakinan filosofi Roy lebih jelas dalam kerjanya yang baru pada model adaptasi keperawatan.
B. Definisi dan Konsep Mayor
Konsep Mayor yang membangun kerangka konseptual model adaptasi roy adalah:
1.Sistem adalah kesatuan dari beberapa unit yang saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang utuh dengan ditandai adanya input, control, proses, output, dan umpan balik.
2.Derajat adaptasi adalah perubahan tetap sebagai hasil dari stimulus fokal, konstektual dan residual dengan standar individual, sehingga manusia dapat berespon adaptif sendiri.
3.Problem adaptasi adalah kejadian atau situasi yang tidak adekuat terhadap penurunan atau peningkatan kebutuhan.
4.Stimulus fokal adalah derajat perubahan atau stimulus yang secara langsung mengharuskan manusia berespon adaptif. Stimulus fokal adalah presipitasi perubahan tingkah laku.
5.Stimulus konstektual adalah seluruh stimulus lain yang menyertai dan memberikan konstribusi terhadap perubahan tingkah laku yang disebabkan atau dirangsang oleh stimulus fokal.
6.Stimulus residual adalah seluruh factor yang mungkin memberikan konstribusi terhadap perubahan tingkah laku, akan tetapi belum dapat di validasi.
7.Regulator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon otomatik melalui neural, cemikal, dan proses endokrin.
8.Kognator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon melalui proses yang kompleks dari persepsi informasi, mengambil, keputusan dan belajar.
9.Model efektor adaptif adalah kognator yaitu ; Fisiologikal, fungsi pean, interdependensi dan konsep diri.
10.Respon adaptif adalah respon yang meningkatkan intergritas manusia dalam mencapai tujuan manusia untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan reproduksi.
11.Fisiologis adalah kebutuhan fisiologis termasuk kebutuhan dasar dan bagaimana proses adaptasi dilakukan untuk pengaturan cairan dan elektrolit, aktivits dan istirahat, eliminasi, nutrisi, sirkulasi dan pengaturan terhadap suhu, sensasi, dan proses endokrin.
12.Konsep diri adalah seluruh keyakinan dan perasaan yang dianut individu dalam satu waktu berbentuk : persepsi, partisipasi, terhadap reaksi orang lain dan tingkah laku langsung. Termasuk pandangan terhadap fisiknya (body image dan sensasi diri) Kepribadian yang menghasilkan konsistensi diri, ideal diri, atau harapan diri, moral dan etika pribadi.
13.Penampilan peran adalah penampilan fungsi peran yang berhubungan dengan tugasnya di lingkungan social.
14.Interdependensi adalah hubungan individu dengan orang lain yang penting dan sebagai support sistem. Di dalam model ini termasuk bagaimana cara memelihara integritas fisik dengan pemeliharaan dan pengaruh belajar.
C.Model Konseptual Adaptasi roy
Empat elemen penting yang termasuk dalam model adaptasi keperawatan adalah : (1) manusia; (2) Lingkungan; (3) kesehatan; (4) keperawatan. Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujua keperawatan dan aktivitas keperawatan, juga termasuk dalam elememn penting pada konsep adaptasi.
1.Manusia
Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistic sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, control, output, dan proses umpan balik. Proses control adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara adaptasi. Lebih spesifik manusia di definisikan sabagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologi, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi.
Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan. Sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, Jadi manusia dilihat sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan antar unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan. Sebagai suatu sistem manusia juga dapat digambarkan dengan istilah input, proses control dan umpan balik serta output.
Input pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk variable satandar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan. Variabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang biasanya dilakukan.
Proses control manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator adalah digambarkan sebagai aksi dalam hubunganya terhadap empat efektor cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.
a.Mode Fungsi Fisiologi
Fungsi fisiologi berhubungan dengan struktur tubuh dan fungsinya. Roy mengidentifikasi sembilan kebutuhan dasar fisiologis yang harus dipenuhi untuk mempertahankan integritas, yang dibagi menjadi dua bagian, mode fungsi fisiologis tingkat dasar yang terdiri dari 5 kebutuhan dan fungsi fisiologis dengan proses yang kompleks terdiri dari 4 bagian yaitu :
1.Oksigenasi : Kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan prosesnya, yaitu ventilasi, pertukaran gas dan transpor gas (Vairo,1984 dalam Roy 1991).
2.Nutrisi : Mulai dari proses ingesti dan asimilasi makanan untuk mempertahankan fungsi, meningkatkan pertumbuhan dan mengganti jaringan yang injuri. (Servonsky, 1984 dalam Roy 1991).
3.Eliminasi : Yaitu ekskresi hasil dari metabolisme dari instestinal dan ginjal. ( Servonsky, 1984 dalam Roy 1991)
4.Aktivitas dan istirahat : Kebutuhan keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat yang digunakan untuk mengoptimalkan fungsi fisiologis dalam memperbaiki dan memulihkan semua komponen-komponen tubuh. (Cho,1984 dalam Roy, 1991).
5.Proteksi/ perlindungan : Sebagai dasar defens tubuh termasuk proses imunitas dan struktur integumen ( kulit, rambut dan kuku) dimana hal ini penting sebagai fungsi proteksi dari infeksi, trauma dan perubahan suhu. (Sato, 1984 dalam Roy 1991).
6.The sense / perasaan : Penglihatan, pendengaran, perkataan, rasa dan bau memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungan . Sensasi nyeri penting dipertimbangkan dalam pengkajian perasaan.( Driscoll, 1984, dalam Roy, 1991).
7.Cairan dan elektrolit. : Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalamnya termasuk air, elektrolit, asam basa dalam seluler, ekstrasel dan fungsi sistemik. Sebaliknya inefektif fungsi sistem fisiologis dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. (Parly, 1984, dalam Roy 1991).
8.Fungsi syaraf / neurologis : Hubungan-hubungan neurologis merupakan bagian integral dari regulator koping mekanisme seseorang. Mereka mempunyai fungsi untuk mengendalikan dan mengkoordinasi pergerakan tubuh, kesadaran dan proses emosi kognitif yang baik untuk mengatur aktivitas organ-organ tubuh (Robertson, 1984 dalam Roy, 1991).
9.Fungsi endokrin : Aksi endokrin adalah pengeluaran horman sesuai dengan fungsi neurologis, untuk menyatukan dan mengkoordinasi fungsi tubuh. Aktivitas endokrin mempunyai peran yang signifikan dalam respon stress dan merupakan dari regulator koping mekanisme ( Howard & Valentine dalam Roy,1991).
b.Mode Konsep Diri
Mode konsep diri berhubungan dengan psikososial dengan penekanan spesifik pada aspek psikososial dan spiritual manusia. Kebutuhan dari konsep diri ini berhubungan dengan integritas psikis antara lain persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan. Konsep diri menurut Roy terdiri dari dua komponen yaitu the physical self dan the personal self.
1.The physical self, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya berhubungan dengan sensasi tubuhnya dan gambaran tubuhnya. Kesulitan pada area ini sering terlihat pada saat merasa kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau hilang kemampuan seksualitas.
2.The personal self, yaitu berkaitan dengan konsistensi diri, ideal diri, moral- etik dan spiritual diri orang tersebut. Perasaan cemas, hilangnya kekuatan atau takut merupakan hal yang berat dalam area ini.
c.Mode fungsi peran
Mode fungsi peran mengenal pola - pola interaksi sosial seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, yang dicerminkan dalam peran primer, sekunder dan tersier. Fokusnya pada bagaimana seseorang dapat memerankan dirinya dimasyarakat sesuai kedudukannya .
d.Mode Interdependensi
Mode interdependensi adalah bagian akhir dari mode yang dijabarkan oleh Roy. Fokusnya adalah interaksi untuk saling memberi dan menerima cinta/ kasih sayang, perhatian dan saling menghargai.
Interdependensi yaitu keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam menerima sesuatu untuk dirinya.
Ketergantungan ditunjukkan dengan kemampuan untuk afiliasi dengan orang lain. Kemandirian ditunjukkan oleh kemampuan berinisiatif untuk melakukan tindakan bagi dirinya. Interdependensi dapat dilihat dari keseimbangan antara dua nilai ekstrim, yaitu memberi dan menerima.
Output dari manusia sebagai suatu sistem adaptif adalah respon inefektif. Respon-respon yang adaptif itu mempertahankan atau meningkatkan integritas, sedangkan respon yang tidak efektif atau maladaptif itu mengganggu integritas. Melalui proses umpan balik respon-respon memberikan lebih lanjut masukan (input) pada manusia sebagai suatu sisem.
Subsistem regulator dan kognator adalah mekanisme adaptasi atau koping dengan perubahan lingkungan, dan diperlihatkan melalui perubahan biologis, psikologis, dan social. Subsistem regulator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan pada sistem saraf, kimia tubuh dan organ endokrin serta subsistem kognator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan kognitif dan emosi, termasuk didalamnya persepsi, proses informasi, pembelajaran, dan membuat alasan dan emosional, yang termasuk didalamnya mempertahankan untuk mencari bantuan.
2.Lingkungan
Lingkungan digambarkan sebagai dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan merupakan masukan (input) bagi manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya lingkungan sebagai stimulus eksternal dan internal. Lebih lanjut stimulus itu dikoelompokkan menjadi tiga jenis stimulus yaitu : fokal, konstektual, dan residual.
Lebih luas lagi lingkungan didefinisikan sebagai segala kondisi, keadaan disekitar dan mempengaruhi keadaan, perkembangan dan perilaku manusia sebagai individu ata kelompok.
3.kesehatan
Menurut Roy, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan dan proses menjadi manusia secara utuh dan terintegrasi secara keseluruhan. Integritas atau keutuhan manusia menyatakan secara tidak langsung bahwa kkesehatan atau kondisi tidak terganggu mengacu kelengkapan atau kesatuan dan kemungkinan tertinggi dari pemenuhan potensi manusia. Jadi Integritas adalah sehat, sebaliknya kondisi yang tidak ada integritas kurang sehat. Definisi kesehatan ini lebih dari tidak adanya sakit tapi termasuk penekanan pada kondisi sehat sejahtera.
Dalam model adaptasi keperawatan, konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi. Adaptasi yang bebas energi dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespon terhadap stimulus yang lain. Pembebasan energi ini dapat meningkatkan penyembuhan dan mempertinggi kesehatan. Hal ini adalah pembebasan energi yang menghubungkan konsep adaptasi dan kesehatan.
Adaptasi adalah komponen pusat dalm model keperawatan. Didalamnya menggambarkan manusia sebagai sistem adaptif. Adaptasi dipertimbangkan baik proses koping terhadap stressor dan produk akhir dari koping. Proses adaptasi termasuk fungsi holistic untuk mempengaruhi kesehatan secara positif dan itu meningkatkan integritas. Proses adaptasi termasuk semua interaksi manusia dan lingkungan terdiri dari dua proses. Bagian pertama dari proses ini dimulai dengan pperubahan dalam lingkungan internal dan eksternal yan gmembutuhkan sebuah respon. Perubahan – perubahan itu adalah stressor atau stimulus fokal dan ditengahi oleh factor-faktor konstektual dan residual. Bagian-bagian stressor menghasilkan interaksi yang biasanya disebut stress. Bagian kedua adalah mekanisme koping yang merangsang untuk menghasilkan respon adaptif dan inefektif.
Produk adaptasi adalah hasil dari proses adaptasi dan digambarkan dalam istilah kondisi yang meningkatkan tujuan-tujuan manusia yang meliputi : kelangsungan hidup, pertumbuhan, reproduksi dan penguasaan yang disebut integritas. Kondisi akhir ini adalah kondisi keseimbangan dinamik equilibrium yang meliputi peningkatan dan penurunan respon-respon. Setiap kondisi adaptasi baru dipengaruhi oleh adaptasi, sehingga dinamik equilibrium manusia berada pada tingkat yang lebih tinggi. Jarak yang besar dari stimulus dapat disepakati dengan suksesnya manusia sebagai sistem adaptif. Jadi peningkatan adaptasi mengarah pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi pada keadaan sejahtera atau sehat. Adaptasi kemudian disebut sebagai suatu fungsi dari stimuli yang masuk dan tingkatan adaptasi.
4.keperawatan
Roy (1983) menggambarkan keperawatan sebagai disiplin ilmu dan praktek. Sebagai ilmu, keperawatan mengobservasi, mengklasifikasikan dan menghubungkan proses yang secara positif berpengaruh pada status kesehatan. Sebagai disiplin, praktek, keperawatan menggunakan pendekatan pengetahuan untukmenyediakan pelayanan pada orang-orang. Lebih spesifik dia mendefinisikan keperawatan sebagai ilmu da praktek dari peningkatan adaptasi untuk meningkatkan kesehatan sebagai tujuan untuk mempengaruhi kesehatan secara positif. Keperawatan meningkatkan adaptasi individu dan kelompok dalam situasi yang berkaitan dengan kesehatan, Jadi model adaptasi keperawatan menggambarkan lebih spesifik perkembangan ilmu keperawatan dan praktek keperawatan yang berdasarkan ilmu keperawatan tersebut. Dalam model tersebut, keperawatan terdiri dari tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan.
Keperawatan adalah berhubungan dengan manusia sebagai satu kesatuan yang berinteraksi dengan perubahan lingkungan dan tanggapan terhadap stimulus internal dan eksternal yang mempengaruhi adaptasi. Ketika stressor yang tidak biasa atau koping mekanisme yang lemah membuat upaya manusia yang biasa menjadi koping yang tidak efektif, manusia memerlukan seorang perawat. Ini tidak harus, bagaimanapun diinterpretasikan umtuk memberi arti bahwa aktivitas keperawatan tidak hanya diberikan ketika manusia itu sakit. Roy menyetujui, pendekatan holistic keperawatan dilihat sebagai proses untuk mempertahankan keadaan baik dan tingkat fungsi yang lebih tinggi.
Keperawatan terdiri dari dua yaitu : tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan. Tujuan keperawatan adalah mempertinggi interaksi manusia dengan lingkungan. Jadi peningkatan adaptasi dalam tiap empat cara adaptasi yaitu : (1) fungsi fisiologis; (2) konsep diri; (3) fungsi peran dan (4) interdependensi. Dorongan terhadap peningkatan integritas adaptasi dan berkontribusi terhadap kesehatan manusia, kualitas hidup dan kematian dengan damai. Tujuan keperawatan diraih ketika stimulus fokal berada dalam suatu area dengan tingkatan adaptasi manusia. Ketika stimulus fokal tersebut berada pada area tersebut dimana manusia dapat membuat suatu penyesuaian diri atau respon efektif. Adaptasi membebaskan energi dari upaya koping yang tidak efektif dan memnugkinkan individu untuk merespon stimulus yang lain. Kondisi tersebut dapat mencapai peningkatan penyembuhan dan kesehatan. Jadi peranan penting adaptasi sangat ditekankan pada konsep ini.
Tujuan dari adaptasi adalah membantu perkembangan aktivitas keperawatan yang digunakan pada proses keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan , tujuan, intervensi dan evaluas. Adaptasi model keperawatan menetapkan “data apa yang dikumpulkan, bagaimana mengidentifikasi masalah dan tujuan utama. Pendekatan apa yang dipakai dan bagaiman mengevaluasi efektifitas proses keperawatan”.
Unit analisis dari pengkajian keperawatan adalah interaksi manusia dengan lingkungan. Proses pengkajian keperawatan adalah interaksi manusia dengan lingkungan. Proses pengkajian termasuk dalam dua tingkat pengkajian Tingkat pertama mengumpulkan data tentang perilaku manusia, dalam tiap empat cara penyesuaian diri. Data-data tersebut dikumpulkan dari data observasi penilaian respond an komuniokasi dengan individu. Dari data tersebut perawat membuat keputusan sementara tentang apakah perilaku dapat menyesuaikan diri atau tidak efektif. Tingkat kedua pengkajian adalah mengumpulkan data tentang fokal, konstektual dan residual stimuli. Selama tingkat pengkajian ini perawat mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yang diobservasi pada pengkajian tingkat pertama. Keterlibatan ini penting untuk menetapkan faktor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku.
PENUTUP
Berdasarkan analisa terhadap model adaptasi Roy, maka kelompok menganalisa bahwa model keperawatan roy lebih menekankan pada manusia secara holistik yang memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Konsep ini juga menekankan pentingnya individu untuk mempertahankan perilaku secara adaptif dan mampu merubah perilaku yang maladaptif agar dapat meningkatkan kesehatannya.
Model konseptual Roy berisi 4 elemen yaitu manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan. Manusia dipandang sebagai sitem adaptasi kehidupan yang perilakunya dapat diklasifikasikan menjadi respon yang adaptif atau respon yang inefektif. Lingkungan terdiri stimulus internal dan eksternal. Kesehatan adalah proses menjadi terintegrasi dan dapat mencapai tujuan untuk hidup, pertumbuhan, reproduksi, penguasaan. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan respon adaptasi yang berhubungan dengan adaptasi mode, menggunakan informasi tentang tingkat adaptasi manusia dan stimulus fokal, kontekstual, dan residual.
Setelah penulis melakukan analisis SWOT pada konseptual calista Roy, penulis menyimpulkan bahwa konseptual ini dapat digunakan di Indonesia dengan mempertahankan keuntungan, memanfaatkan kesempatan, memperbaiki kelemahan serta menekan ancaman yang ada.
Read More..
Selasa, 13 Januari 2009
Info Perawat Ke Jepang
DEPARTEMEN KESEHATAN RI
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SDM KESEHATAN
PUSAT PEMBERDAYAAN PROFESI DAN TENAGA KESEHATAN LUAR NEGERI
(PUSPRONAKES LN)
PROGRAM PENEMPATAN PERAWAT INDONESIA KE JEPANG
ANGKATAN II TAHUN 2009
Departemen Kesehatan RI membuka kesempatan bagi Perawat Indonesia untuk bekerja sebagai Perawat di Jepang sebagai realisasi dari kesepakatan G to G dalam kerangka IJEPA (Indonesia Japan Economic Partnership Agreement). Kontrak kerja selama 3 (tahun). Total kuota 400 perawat (untuk tahun 2008-2009)
Angkatan I tahun 2008 berjumlah 104 orang perawat Indonesia telah tiba di Jepang pada tanggal 8 Agustus 2008 dan saat ini sedang mengikuti pelatihan bahasa dan budaya Jepang. Status sementara: candidate nurse .Selama masa kontrak kerja 3 tahun di Jepang para candidat nurse berhak mengikuti ujian RN Jepang (Kangoshi) yang diselenggarakan 1x setahun setiap bulan Februari. Bila lulus ujian maka berhak bekerja sebagai nurse dan kontrak kerjanya akan diperbaharui oleh pihak RS tempatnya bekerja.
Angkatan II direncanakan terpilih 296 perawat untuk ditempatkan ke Jepang tahun 2009. Pendaftaran ke:
PUSPRONAKES LN DEPKES RI
Jln. Wijaya Kusuma Raya No. 48 Cilandak Jakarta Selatan 12430
Telp 021-75914747 (pswt 115,117, 112 dan 102), Fax 021-
75914740
Website : www.depkes.go.id, www.bppsdmk.depkes.go.id,
www.Puspronakesln.org
e-mail : puspronakesln@yahoo.com
PERSYARATAN :
1. Perawat Indonesia, laki-laki dan wanita, usia 23-35 tahun, lulusan D3, D4 dan S1 Keperawatan (Ners) dengan pengalaman kerja di RS sebagai perawat minimal 2 tahun.
2. Lulus seleksi yang diselenggarakan oleh tim gabungan Depkes RI, PPNI, BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia dan JICWELS (Japan International Corporation of Welfare Services). Lihat bagan prosedur penempatan perawat Indonesia ke Jepang angkatan II tahun 2009
3. Good performance (bagi wanita tidak dalam keadaan hamil, bagi pria tidak bertindik dan baik pria&wanita tidak boleh bertato).
4. Berkas yang diperlukan untuk seleksi (berkas rangkap dua dimasukkan dalam map biru) :
a. Fotocopy ijazah dan transkrip nilai akademik yang sudah dilegalisir dalam bhs Indonesia & terjemahan dalam bhs Inggris (dari institusi tempat bekerja/penterjemah resmi).
b. Fotocopy surat keterangan pengalaman kerja minimal 2 tahun dalam bhs Indonesia & terjemahan dalam bhs Inggris (dari institusi tempat bekerja/penterjemah resmi).
c. Fotocopy KTP dan fotocopy paspor yang masih berlaku sekurangkurangnya 1(satu) tahun.
d. Asli Kartu Pencari kerja AK-1/Kartu kuning atau fotocopy yang dilegalisir dari Disnakertrans setempat.
e. Asli Surat Keterangan Catatan Kepolisian(SKCK)
f. Surat asli ijin dari orang tua/wali/suami/istri diketahui oleh Lurah/Kepala Desa dengan meterai Rp.6000.
g. Pasfoto berwarna dengan latar belakang biru ukuran 3×4cm= 6 lembar
BAGAN PROSEDUR PENEMPATAN PERAWAT INDONESIA KE JEPANG ANGKATAN II TAHUN 2009
DEPKES (Puspronakes-LN)
SOSIALISASI
1. Sosialisasi Penempatan TKKI ke Jepang (tanggal 1 Desember 2008 s/d awal Maret 2009)
2. Pengumuman melalui sosialisasi langsung, media cetak dan elektronik
DEPKES (Puspronakes-LN)
PENDAFTARAN
1. Pendaftaran dengan membawa berkas lengkap (Desember 2008 - minggu II Maret 2009)
DEPKES (Puspronakes-LN) SELEKSI ADMINISTRASI
1. Seleksi administrasi (minggu ke I – II Maret 2009)
2. Verifikasi berkas (minggu ke I – II Maret 2009)
3. Pengumuman hasil seleksi administrasi / berkas (minggu ke III Maret 2009)
DEPKES (Puspronakes-LN)
DAN PPNI
SELEKSI KUALIFIKASI
1. Seleksi ujian tulis (minggu ke IV Maret 2009)
2. Pengumuman seleksi ujian tulis (minggu ke I April 2009)
DEPKES (Puspronakes-LN)
MEDICAL CHECK UP
1. Medical Check Up/MCU (minggu ke II April 2009) Tempat RS yang ditunjuk oleh panitia
2. Pengumuman hasil Medical Check Up/MCU (minggu ke III April 2009) JICWELS,
BNP2TKI, DEPKES (Puspronakes-LN))
1. Psikotes dan Wawancara (minggu ke IV April 2009). Tempat BNP2TKI
2. Proses matching memilih RS Jepang melalui internet (bulan Mei – Juni 2009)
3. Pengumuman hasil seleksi final (awal Juli 2009)
4. Peserta yang lulus seleksi akan mengikuti pelatihan bahasa dan budaya Jepang selama 6 bulan (di Indonesia dan di Jepang)
JEPANG
1. Start bekerja sebagai candidate nurse Januari 2010
2. Ujian Nasional Kangoshi (RN Jepang) bulan Februari 2010
3. Kesempatan ujian kangoshi 3 kali selama masa kontrak 3 tahun, setiap bulan Februari
Read More..
Minggu, 11 Januari 2009
Peluang Perawat ke Amerika
AMERICAN INTERNATIONAL NURSE, Inc. (USA)
In association with IES Fondation is conducting Informational Seminar
at HOTEL CIPUTRA
Acara seminar yang diadakan di Hotel Ciputra pada tanggal 10 Januari memberikan informasi pada perawat Indonesia bagaimana cara untuk :
1. Memperoleh RN license preparation program for America.
2. Mendapatkan salary US$ 48,000 / year (Rp. 525, 000, 000)
3. Biaya Visa Immigrant, pesawat terbang, accomodasi dan biaya-biaya yang lain
4. Memperoleh “Green Card” untuk perawat dan keluarganya, tidak hanya visa untuk kerja tetapi juga permanent residency in America.
IES Fondation sebagai lembaga pendidikan independent non profit bekerja sama dengan American International Nurse, Inc adalah Sponsorship terkemuka yang khusus menangani penempatan lulusan perawat asing dan penyedia rumah sakit serta mendapatkan Green card (permanent residency) untuk perawat pelamar beserta anggota keluarganya dengan segera.
Acara Di bawakan oleh Miss Sinta sebagai pembawa acara dan translater, dan di buka oleh Miss Ance Sebagai Direktur Ies foundation. Miss Ance memberikan informasi tentang Ies Fondation sebagai lembaga yang membantu perawat untuk course preparation for the NCLEX-RN sebagai syarat untuk menjadi perawat RN di Amerika. Pelatihan di adakan selama 4 bulan, kemudian bulan ke-5 persiapan untuk ujian ENCLEX-RN yang dilakukan di Negara ; Hongkong, Australia, Philipina dan Negara-negara yang telah menerapkan RN dan atas recomendasi dari Amerika. Namun sebelum mengikuti Pelatihan tersebut, perawat harus lulus TOEFL (Test O English F Licensed) minimal 475. Pelatihan TOEFL boleh dilakukan di tempat course mana saja, setelah lulus TOEFL minimum 475, maka perawat boleh mengikuti pelatihan di Ies Fondation. Untuk Informasi lebih lanjut mengenai Ies Fondation silahkan visit : www.iesfd.org.
Setelah pihak dari ies foundation menyampaikan informasi, kemudian dilanjutkan oleh pihak AIN (American International Nurse, Inc.) yang di sampaikan oleh Mr Altaf N Visram (vice president AIN). Mr Altaf memberikan informasi tentang bagaimana cara menjadi perawat RN di Amerika serta keuntungan yang didapat bekeraja di sana. Perawat yang bekerja di Amerika mendapatkan Green Card to permanent residency in Amerika, sehingga bisa mendapatkan fasilitas yang sama dengan citizen Amerika. Disampaikan oleh Mr. Visram bahwa salary yang didapat oleh perawat adalah sama, jadi tidak ada perbedaan antara perawat Indonesia dengan perawat dari Amerika dan dari Negara lain. Anggota keluarga juga bisa mendapatkan fasilitas yang sama dengan warga Negara Amerika, misalnya; pendidikan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai AIN silahkan visi: www.ainurses.com.
Amerika merupakan prioritas utama bagi perawat untuk meningkatkan karir dan masa depan yang cerah, karena disamping tingginya salary yang didapat, masa depan keluarga juga bisa terjamin. Green Card yang di berikan Amerika merupakan kartu AS untuk perawat untuk menggapai masa depan yang lebih baik dan menjajikan. Namun untuk mendapatkan semua itu harus melalui proses yang yang panjang dan very difficult, sehingga membutuhkan kerja keras, motivation, and spirit yang kuat.
Sekarang tergantung dari para perawat, menentukan pilihan untuk masa depannya, bekerja di dalam negeri tercinta, atau luar negeri seperti Amerika, Australia, Negara-negara timur tengah yang dapa tmenjajikan masa depan cerah. Namun yang pasti bekerja dimanapun kita, yang terpenting adalah jiwa nasionalisme kita tetap kuat. Tujuan hidup kita adalah Tuhan YME, diri kita sendiri, keluarga, dan negeri tercinta Indonesia.
Good Nursing, Good Health : A Good Invesment Read More..
Senin, 08 Desember 2008
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA DENGAN ANAK REMAJA
A. PENGERTIAN
Remaja atau adolescence berasal dari bahasa latin “ adolescere” yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescence yang berasal dari bahasa Inggris yang dapat dipergunakan saat ini mempunyai arti yang cukup luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik ( Hurlock 1999).
Piaget (dalam Hurlock 1999) mengatakan bahwa masa remaja adalah usia dimana individu mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Individu tidak lagi merasa dibawah tingkatan orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
Menurut Undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai Kesejahteraan Anak, remaja adalah individu yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah.
Menurut Undang-undang Perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai usia 16 – 18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal.
Menurut Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu usia 16 tahun untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki.
Menurut WHO, disebut remaja apabila anak telah mencapai usia 10 – 18 tahun.
PROSES TUMBUH KEMBANG
Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi sejak intrauterine dan terus berlangsung sampai dewasa. Dalam proses mencapai dewasa inilah anak harus melalui berbagai tahap tumbuh kembang, termasuk tahap remaja.
Tahap remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh(growth spurt), tinbul ciri-ciri seks sekunder, tercapai fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologis serta kognitif.
a. PERTUMBUHAN SOMATIK
Pada masa pra-remaja pertumbuhan lebih cepat daripada masa pra-sekolah. Anak perempuan dua tahun lebih cepat memasuki masa remaja dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini terjadi pacu tumbuh berat badan dan tinggi badan, termasuk pertumbuhan tanda-tanda seks sekunder yang disebut sebagai pacu tumbuh adolescence.
PERTUMBUHAN TINGGI BADAN, TULANG DAN GIGI
Selama pubertas terjadi akselerasi pertumbuhan tinggi badan yang mendadak yang disebut pacu tumbuh(Height Spurt). Pada saat pertumbuhan linier/tinggi badan terjadi pada kecepatan maksimal, dikatakan remaja tersebut mengalami puncak kecepatan tinggi badan (Peak Height Velocity/PHV).
Pada remaja perempuan kecepatan pertumbuhan maksimal dicapai 6 – 12 bulan sebelum menarche, dan ini dipertahankan hanya untuk beberapa bulan, kemudian akan mengalami deselerasi untuk dua tahun berikutnya atau lebih. Untuk pertumbuhan tulang, gambaran yang paling dini dan terpenting pada remaja perempuan adalah pertumbuhan pada lebar panggul selama pubertas. Pertumbuhan pelvis dan panggul (diukur pada diameter bi-iliacal)secara kuantitatif hampir sama dengan remaja laki-laki, tetapi dikarenakan pertumbuhan remaja perempuan lebih kecil pada berbagai dimensi tubuhnya, maka lebar panggul tampak tidak proposional(terlihat lebih besar)dibanding remaja laki-laki.
Pada remaja laki-laki mulai terjadi akselerasi pertumbuhan pada saat remaja perempuan telah mengalami deselerasi pertumbuhan. Bahu yang lebar, pinggul yang lebih sempit, kaki yang lebih panjang, dan relative lebih panjang pada ekstrimitas atas adalah ciri khas pada remaja laki-laki. Pertumbuhan tersebut disebabkan oleh hormone androgen.
PERTUMBUHAN BERAT BADAN
Pada remaja perempuan, memasuki masa pubertas berat badan mencapai kira-kira 60% berat dewasa. Mencapai puncak kecepatan berat badan sekitar 8 kg/tahun. Pertumbuhan otot terjadi 3 – 6 bulan setelah pacu tumbuh berat badan.
Pada remaja laki-laki, pacu tumbuh berat badan terjadi bersamaan dengan pacu tumbuh tinggi badan dan otot. Rata-rata kecepatan pertumbuhan berat badan sekitar 9 kg/tahun.
Nutrisi menentukan pertumbuhan badan.Bila asupan nutrisi dalam jumlah yang kurang optimal akan berdampak pada perlambatan proses pertumbuhan dan perkembangan maturasi/pematangan seksual. Sebaliknya, bila asupan nutisi terlalu berlebihan akan terjadi percepatan proses pertumbuhan dan perkembangan seksual. Remaja membutuhkan nutrisi lebih dibandingkan dengan pada waktu anak-anak. Kebutuhan nutrisi mencapai puncaknya terutama pada saat pacu tumbuh mencapai maksimal.
PERTUMBUHAN OTOT
Semua otot mengalami pertumbuhan selama masa pubertas. Puncak kecepatan pertumbuhan otot(Peak Velocity Muscle Growth) lebih besar pada laki-laki daripada perempuan. Penambahan kekuatan otot terjadi pada pubertas akhir, namun pada laki-laki akan terus bertambah dan mencapai maksimum pada usia sekitar 25 tahun. Karena hormone androgen memegang peranan utama dalam kekuatan otot, maka meningkatnya kekuatan otot berhubungan erat dengan tingkat kematangan seksual.
PERTUMBUHAN JARINGAN LEMAK
Pada remaja laki-laki, secara keseluruhan lemak truncal(diukur sebagai tebal lemak subkutan, daerah subscapular, suprailiacal, atau abdomen) meningkat sesudah pacu tumbuh tinggi badan, menambah kenaikan berat badan yang terjadi relative lambat pada masa pubertas. Pada masa remaja akhir jumlah normal dari lemak tubuh sekitar 20% dari berat badan.
Pada remaja perempuan terjadi penambahan lemak yang kontinu selama masa pubertas. Setelah masa percepatan tinggi badan, terjadi akumulasi lemak lebih cepat dibanding remaja laki-laki. Akumulasi lemak terjadi pada anggota gerak maupun tubuhnya, terutama tubuh bagian bawah dan paha bagian belakang.
PERTUMBUHAN ORGAN REPRODUKSI
Pertumbuhan organ reproduksi mengalami banyak perubahan pada masa pubertas.
Pada remaja perempuan tanda pubertas pertama pada umumnya adalah pertumbuhan payudara, yaitu terdiri dari penonjolan puting disertai pembesaran daerah areola (usia sekitar 8-12 tahun). Haid pertama (Menarche) terjadi pada stadium lanjut dari pubertas dan sangat bervariasi tiap individu(rata-rata usia 10,5 – 15,5 tahun). Kemudian diikuti dengan pertumbuhan rambut pada pubis(usia 11 – 15 tahun).
Pada remaja laki-laki terjadi pembesaran testis, yang merupakan tanda pubertas pertama pada 98% remaja laki-laki. Sampai akhir masa pubertas terjadi pembesaran testis, epididimis, dan prostat. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pubertas yang lengkap adalah 2 – 5 tahun.
Perubahan pada organ reproduksi yang terjadi pada masa remaja berkaitan erat dengan perubahan regulasi hormonal pada remaja. Regulasi sistem neuroendokrine dipengaruhi oleh pusat ekstra-hipotalamus di korteks serebri termasuk sistem limbic. Pusat ini akan merangsang sel basal hipotalamus untuk mensekresi hormone GnRH, yang melalui aliran darah akan merangsang hipofise anterior untuk mensekresi hormone gonadotropin berupa FSH dan LH. Hormon gonadotropin akan merangsang gonad untuk memproduksi hormone testosterone pada laki-laki, dan hormone estrogen pada perempuan. Pada saat mulainya pubertas sekresi hormone GnRH meningkat pesat sehingga hormone gonadotropin dan seks steroid juga meningkat untuk merangsang pertumbuhan tanda-tanda seks sekunder, serta menyiapkan proses fertilisasi.
b. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DAN KEPRIBADIAN REMAJA
Dalam tumbuh kembang menjadi dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual remaja akan melewati tahapan sebagai berikut :
1. Masa remaja awal/dini (Early Adolescence) : usia 11-13 tahun
2. Masa remaja pertengahan (Middle Adolescence) : usia 14-16 tahun
3. Masa remaja lanjut (Late Adolescence) : usia 17-20 tahun
Kebebasan dan ketergantungan
Dalam perkembangan menuju kedewasaan, remaja berangsur-angsur mengalami perubahan yang membutuhkan kedua kemampuan, yaitu kebebasan dan ketergantungan secara bersama-sama.
Kebebasan (Independence) adalah suatu kemampuan untuk membuat keputusan dan mengatur perilakunya sendiri. Sifat remaja yang ingin memperoleh kebebasan emosional, sementara orang tua masih ingin mengawasi dan melindungi anaknya dapat menimbulkan konflik. Melalui proses remaja akan belajar untuk melakukan sesuatu secara tepat, mengevaluasi kembali aturan-aturan, nilai dan batasan-batasan yang telah diperoleh dari keluarga maupun sekolah.
Ketergantungan (Interdependence) melibatkan komitmen-komitmen dan ikatan antar pribadi yang mencirikan kondisi kehidupan manusia.
Pada awal usia remaja, perjuangan kemandiriannya ditandai dengan perubahan dari sifat tergantung kepada orang tua menjadi tidak tergantung. Ikatan emosional dengan orang tua menjadi berkurang. Bila pada tahap ini remaja tidak memiliki kelompok yang mendukung maka akan menimbulkan kekosongan perasaan yang diakibatkan perasaan terpisah dengan orang tua, remaja akan mencari figure yang dicintai sebagai pengganti orang tua, sehingga hal ini memungkinkan timbulnya masalah-masalah perilaku.
Pada usia remaja pertengahan, ikatan dengan orang tua semakin longgar, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya.
Pada akhir masa remaja, mereka akan berusaha mengurangi kegelisahan dan meningkatkan integritas pribadinya, identitas diri lebih kuat, mampu menunda pemuasan, kemampuan untuk menyatakan pendapat menjadi lebih baik, minat lebih stabil, dan mampu membuat keputusan dan mengadakan kompromi.
Pembentukan identitas diri
Pada masa remaja, remaja berusaha melepaskan diri dari lingkungan dan ikatan dengan orang tua karena mereka ingin mencari identitas diri. Perubahan-perubahan yang diakibatkan terjadinya kematangan seksual dan tuntutan-tuntutan psikososial menempatkan remaja pada suatu krisis identitas, yaitu suatu tahap untuk membuat keputusan terhadap permasalahan-permasalahan penting yang berkaitan dengan pertanyaan tentang identitas dirinya. Remaja harus menemukan apa yang mereka yakini, sikap dan nilai-nilai idealnya, yang dapat memberikan suatu peran dalam kehidupan sosialnya, sebab apabila mereka tahu tentang siapa mereka, dan tahu apa yang mereka lakukan, maka mereka akan tahu peran mereka dalam masyarakat. Apabila remaja memperoleh perannya di dalam masyarakat, maka ia akan mencapai sense of identity, menemukan identitas diri. Sebaliknya, apabila remaja tidak dapat menyelesaikan krisis identitasnya dengan baik, maka ia akan merasakan sense of role confusion or identity diffusion, yaitu suatu perasaan yang berhubungan dengan ketidakmampuan memperoleh peran dan menemukan jati diri. Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada keadaan ini misalnya, mereka dengan mudah menerima peran yang diberikan oleh masyarakat( pekerjaan, menikah). Kemungkinan lainnya yaitu anggapan untuk menjadi apa saja daripada tidak memiliki identitas diri, sehingga mereka akan dengan mudah menerima peran yang tidak dapat diterima oleh masyarakat, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai ideal dan tatanan kehidupan dalam masyarakat(oleh Erikson disebut sebagai Negative Identity Formation).
Tugas perkembangan masa remaja meliputi :
1. Memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa.
2. Memperoleh peranan sosial
3. Menerima keadaan tubuhnya dan menggunakan secara efektif
4. Memperoleh kebebasan emosional dari orang tua.
5. Mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
6. Memiliki dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan
7. Mempersiapkan diri untuk perkawinan dan kehidupan berkeluarga
8. Mengembangkan dan membentuk konsep-konsep moral.
PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perkembangan berpikir pada remaja tidak terlepas dari kehidupan emosionalnya yang labil. Penentangan dan pemberontakan yang ditunjukkan dengan selalu melancarkan banyak kritik, bersikap sangat kritis pada setiap masalah, menentang aturan menjadi suatu ciri mulai meningkatnya kemampuan berpikir dengan sudut pandang yang mulai meluas pada remaja.
Kemampuan kognitif remaja yang diklasifikasikan mulai usia 11-18 tahun tergolong dalam fase operasional formal, yaitu apabila anak dihadapkan pada suatu masalah, maka ia akan memikirkannya terlebih dahulu secara teoritis, menganalisa masalah dengan mengembangkan penyelesaian melaui berbagai hipotesa yang mungkin ada. Kemudian, atas dasar analisis tersebut akan dibuat suatu strategi penyelesaian.
Proses perkembangan kognitif pada remaja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
a. Pematangan/Maturasi (Maturation)
Tumbuhnya struktur-struktur fisik secara berangsur-angsur mempengaruhi perkembangan kognitif, contoh pertumbuhan pusat susunan otak
b. Pengalaman psikologis dan kontak dengan lingkungan (Exercise through physical practice and mental experience)
Kontak dengan lingkungan akan mengakibatkan dua macam ciri pengalaman mental. Pertama adalah pengalaman fisik, yaitu aktivitas yang dapat memberikan pengertian mengenai sifat yang langsung berhubungan dengan objek.
c. Transmisi sosial dan pembelajaran (Social Interaction and Teaching)
Berbagai macam stimulasi sosial (media massa, lembaga sekolah, klub sosial, dsb) memiliki pengaruh yang positif dalam perkembangan kognitif, sebab dapat memberikan banyak informasi, dan kemudian melakukan suatu pembelajaran
d. Ekuilibrassi (Equilibration)
Proses ini merupakan suatu proses internal untuk mengatur keseimbangan diri dalam individu.
Integrasi dalam masyarakat mempunyai banyak aspek afektif, kurang lebih berhubungan dengan masa pubertas, termasuk didalamnya juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi yang khas dari cara berpikir remaja memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.
Pada masa remaja terdapat tugas-tugas perkembangan yang sebaiknya dipenuhi. Menurut Harlock (1999) tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa.
Adapun tugas perkembangan remaja menurut harlock ( 1999 ) adalah :
1. Mencapai peran sosial pria dan wanita
2. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Mempersiapkan karir ekonomi untuk masa yang akan datang
6. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
7. Memperoleh perangkat nilai-nilai sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku dan mengembangkan ideologi.
Beberapa transisi yang dihadapi pada masa remaja1. Transisi dalam emosi
Ciri utama remaja adalah peningkatan kehidupan emosinya, dalam arti sangat peka, mudah tersinggung perasaannya. Remaja dikatakan berhasil melalui masa transisi emosi apabila ia berhasil mengendalikan diri dan mengekspresikan emosi sesuai dengan kelaziman pada lingkungan sosialnya tanpa mengabaikan keperluan dirinya.
2. Transisi dalam sosialisasi
Pada masa remaja hal yang terpenting dalam proses sosialisasinya adalah hubungan dengan teman sebaya, baik dengan sejenis maupun lawan jenis.3. Transisi dalam agama
Sering terjadi remaja yang kurang rajin melaksanakan ibadah seperti pada masa kanak-kanak. Hal tersebut bukan karena melunturnya kepercayaan terhadap agama, tetapi timbul keraguan remaja terhadap agama yang dianutnya sebagai akibat perkembangan berfikirnya yang mulai kritis.4. Transisi dalam hubungan keluarga
Dalam satu keluarga yang terdapat anak remaja, sulit terjadi hubungan yang harmonis dalam keluarga tersebut. Keadaan ini disebabkan remaja yang banyak menentang orang tua dan biasanya cepat menjadi marah. Sedangkan orang tua biasanya kurang memahami ciri tersebut sebagai ciri yang wajar pada remaja.5. Transisi dalam Moralitas
Pada masa remaja terjadi peralihan moralitas dari moralitas anak ke moralitas remaja yang meliputi perubahan sikap dan nilai-nilai yang mendasari pembentukan konsep moralnya. Sehingga sesuai dengan moralitas dewasa serta mampu mengendalikan tingkah lakunya sendiri.
MASALAH TUMBUH KEMBANG PADA REMAJA
Masalah-masalah yang berhubungan dengan tumbuh kembang pada remaja antara lain :
1) Gangguan pertumbuhan linier
Pertumbuhan linier dapat digunakan sebagai indicator yang mencerminkan kesehatan fisik dan mental. Penilaian pertumbuhan penting dilakukan untuk menentukan gangguan pertumbuhan pada remaja. Cara penilaian pertumbuhan melalui beberapa tahap, antara lain :
o Anamnesa ; yang perlu diketahui pada tahap anamnesa antara lain riwayat kehamilan ibu, pola pertumbuhan sejak bayi hingga remaja, riwayat penyakit yang pernah diderita, tinggi badan orang tua
o Pemeriksaan fisik, meliputi tanda-tanda patologis seperti gangguan hormone, penyakit kronis, tanda-tanda gangguan gizi, serta menilai tingkat maturitas seksual
o Pengukuran Antropometri, meliputi :
§ Tinggi badan
§ Kurva pertumbuhan dan pola pertumbuhan
§ Laju pertumbuhan
§ Proporsi tubuh
§ Index massa tubuh
o Prediksi tinggi dewasa.
Bentuk-bentuk gangguan pertumbuhan linier antara lain :
1. Perawakan Pendek
Perawakan pendek (Short Stature) merupakan suatu terminology mengenai tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2SD pada kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut
Perawakan pendek yang dikategorikan sebagai variasi normal adalah :
1) Normal Variant Short Stature (NVSS)
Pada NVSS terdapat pola pertumbuhan yang menggambarkan potensi genetic untuk individu tersebut dan tidak berhubungan dengan keadaan gangguan endokrin maupun sistemik. Hampir selalu disertai riwayat keluarga dengan perawakan pendek pada salah satu atau kedua orang tuanya, dan biasanya mempunyai berat badan yang normal.
2) Normal Variant Constitutional Delay (NVCD)
Pada NVCD terdapat perlambatan pertumbuhan linier pada tiga tahun pertama kehidupan, pertumbuhan linier normal/hampir normal pada saat pra-pubertas dan selalu di bawah persentil 3. Umur penulangan terlambat disertai maturasi seksual yang terlambat, pada saat dewasa tinggi badan normal.
Penyebab gangguan pertumbuhan lainnya selama masa remaja dapat disebabkan oleh :
1) Kelainan kromosom
Kelainan kromosom yang paling sering adalah Sindrom Turner
2) Penyakit sistemik
Banyak penyakit sistemik yang diobati dengan kortikosteroid mengalami gangguan pertumbuhan akibat pengaruh obat tersebut terhadap pertumbuhan epifisis. Selain itu, penyakit gastrointestinal juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan akibat malabsorpsi.
3) Gangguan endokrin
Gangguan endokrin merupakan 10% dari seluruh penyebab perawakan pendek. Contoh, Hipotiroidisme pada masa anak umumnya disertai dengan perawakan pendek, pertumbuhan yang lambat, dan atau pubertas yang lambat.
2. Perawakan Tinggi
Dikatakan perawakan tinggi apabila individu memiliki tinggi badan > 2SD pada kurva pertumbuhan. Dikarenakan penerimaan masyarakat yang menganggap baik terhadap perawakan tinggi, maka individu penderita kurang mengeluhkan keadaan tersebut. Variasi normal merupakan penyebab utama perawakan tinggi (Familial/Constitutional Tall Stature), yaitu trdapat riwayat keluarga dengan perawakan tinggi dan tidak terdapat proses patologi organic.
Penyebab patologi yang jarang terjadi antara lain Gigantisme pituitary, dimana terjadi peningkatan sekresi hormone pertumbuhan.
2) Gangguan pubertas
Gangguan pubertas terbagi menjadi dua, yaitu :
Pubertas terlambat/Delayed Pubertal
Pubertas terlambat/Delayed Pubertal didefinisikan pada perempuan apabila sampai usia 13 tahun belum ada tanda-tanda pubertas berupa pembesaran payudara atau sampai usia 15 tahun belum terjadi menstruasi. Sedangkan pada laki-laki apabila sampai usia 14 tahun belum ada tanda-tanda pubertas berupa ukuran testis <2,5 cm atau volume testis < 4 ml.
Pubertas terlambat lebih sering terjadi pada laki-laki. Kebanyakan pubertas terlambat masih normal (Constitutional Delayed of Growth and Puberty/CDGP). Untuk kasus yang abnormal, berdasarkan kadar hormone gonadotropin pubertas terlambat dikelompokkan menjadi :
o Hypergonadotropic hypogonadism, pada keadaan ini hormone gonadotropin (FSH dan LH) meningkat, namun kadar hormone seks steroidnya (Testosteron dan Estrogen) tetap rendah
o Hypogonadotropic hypogonadism, dimana terjadi defisiensi gonadotropin congenital, berhubungan dengan kelainan-kelainan pada serebral.
Pubertas Prekok
PubertaS Prekok didefinisikan bila tanda-tanda pubertas ditemukan sebelum usia 8 tahun pada perempuan, dan sebelum usia 9 tahun pada laki-laki.
Berdasarkan penyebabnya, pubertas prekok dibagi menjadi :
o Pubertas prekok tipe sentral, yaitu pubertas prekok yang terjadi karena lebih awal aktifnya aksis hipotalamus-hipofise-gonad sehingga peningkatan seks steroid karena aktifasi dari aksis
o Pubertas prekok perifer, yaitu peningkatan seks steroid tidak disebabkan karena peningkatan gonadotropin.
o Gabungan antara tipe sentral dan perifer.
o Pubertas prekok dengan mekanisme yang belum diketahui
3) Gangguan makan
Gangguan makan pada remaja dapat digolongkan menjadi :
Obesitas
Obesitas merupakan keadaan patologis sebagai akibat dari konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhan, sehingga terdapat penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan utnuk fungsi tubuh.
Obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : genetic, budaya, sosial ekonomi, kebiasaan, dan faktor situasi.
Obesitas menimbulkan bermacam efek terhadap pertumbuhan, perkembangan psikososial, dan resiko timbulnya penyakit.
Anorexia
Anorexia merupakan suatu kelainan berupa penurunan berat badan secara drastis terutama pada remaja putri yang berhubungan dengan gangguan psikiatri disertai dengan gejala medis.
Etiologi dari Anorexia antara lain :
o Faktor biologis dan genetic
Disfungsi hipotalamus diketahui sebagai predisposisi timbulnya anorexia. Selain itu, remaja kembar monozigot beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan kembar dizigot. Riwayat keluarga dengan anorexia juga merupakan faktor resiko.
o Faktor Intrapersonal
Remaja yang mengalami anorexia memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, cenderung introvert, perfeksionis.
o Faktor keluarga
Keluarga yang memiliki resiko remaja dengan anorexia adalah keluarga yang overprotektif, kaku, dan penuh konflik.
o Faktor sosial budaya
Kasus anorexia meningkat pada kelompok masyarakat yang mempercayai bahwa tubuh yang ramping lebih menarik, memiliki kepercayaan diri lebih tinggi, dan sukse dalam karier.
Bulimia
Bulimia adalah gangguan makan yang ditandai dengan episode binge eating yaitu mengkonsumsi makanan yang banyak dalam periode waktu yang singkat disertai tingkah laku untuk menurunkan berat badan, atau episode purging, seperti merangsang muntah, gerak berlebihan, puasa berkepanjangan, penyalahgunaan obat laksatif dan diuretik. Sekitar 90-95% penderita bulimia adalah remaja perempuan dengan rentang usia antara 13- 58 tahun.
Penyebab bulimia hampir sama dengan anorexia.
4) Acne vulgaris
Acne vulgaris merupakan penyakit yang sering dijumpai di kalangan remaja. Pada sebagian remaja acne vulgaris bersifat fisiologis dan sembuh spontan. Pada keadaan yang berat diberikan pengobatan sesuai dengan penyakit. Insiden acne pada remaja bervariasi antara 30-60% dengan insiden terbanyak pada usia 14-17 tahun pada perempuan dan 16-19 tahun pada laki-laki. Faktor yang mempengaruhi timbulnya acne vulgaris antara lain :
o genetic
o ras
o hormonal
o iklim/lingkungan
o stress
5) Perilaku seksual
Pemahaman tentang perkembangan seksual pada remaja merupakan salah satu pemahaman yangh penting sebab masa remaja merupakan masa peralihan dari perilaku seksual anak-anak menjadi perilaku seksual dewasa.
Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa remaja amat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarganya. Sebagian kelompok remaja mengalami kebingungan untuk memahami tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kebingungan ini akan menimbulkan suatu perilaku seksual yang kurang sehat di kalangan remaja.
Fase perkembangan perilaku seksual pada remaja terbagi menjadi :
Remaja awal
Merupakan tahap awal, remaja sudah mulai menampakkan adanya perubahan fisik yaitu fisik sudah mulai berkembang/ matang. Pada masa ini remaja sudah mulai mencoba melakukan onani, karena seringkali terangsang secara seksual akibat pematangan yang dialaminya. Rangsangan tersebut diakibatkan oleh faktor internal yaitu meningkatnya kadar testosterone pada laki-laki dan kadar estrogen pada perempuan.
Remaja Pertengahan
Pada fase ini remaja telah mengalami pematangan fisik secara penuh, dimana remaja laki-laki telah mengalami mimpi basah, dan remaja perempuan telah mengalami menstruasi. Pada masa ini gairah seksual sudah mencapai puncak, sehingga memiliki kecenderungan untuk melakukan sentuhan fisik. Namun demikian perilaku seksualnya masih secara alamiah.
Remaja Akhir
Pada fase ini, remaja sudah seperti orang dewasa. Mereka sudah mempunyai perilaku seksual yang jelas, salah satunya adalah dalam bentuk berpacaran.
Perkembangan perilaku seksual dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain ; perkembangan fisik, psikis, proses belajar, dan sosio-kultural. Secara umum perilaku seksual remaja memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Terjadi pematangan fisik-biologik
- Meningkatnya empati terhadap sesamanya
- Meningkatnya keinginan untuk terbebas dari ketergantungan
- Suka mengganggu sesamanya
- Meningkatnya hubungan dengan teman sebaya
- Meningkatnya orientasi seksual
- Masa mencoba-coba aktifitas seksual
- Mempunyai inisiatif untuk melakukan hubungan seksual.
Beberapa perilaku seksual remaja yang kurang sehat dapat menyebabkan berbagai masalah antara lain :
1) Kehamilan remaja
Kurangnya pengetahuan tentang seks di kalangan remaja yang melakukan seks bebas menyebabkan meningkatnya kehamilan usia remaja. Konsekuensi dari kehamilan remaja adalah pernikahan remaja dan pengguguran kandungan (aborsi). Kehamilan remaja umumnya merupakan kehamilan yang tidak diharapkan. Ada dua hal yang bisa dan biasa dilakukan remaja jika mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, yaitu :
a. Kehamilan dipertahankan, dapat menimbulkan :
- Resiko fisik, kehamilan pada usia dini bisa menimbulkan kesulitan dalam persalinan seperti perdarahan, bahkan kematian
- Resiko psikis/psikologis, dimana umumnya pihak perempuan beresiko menjadi orang tua tunggal akibat kemungkinan pihak laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab, dan kalaupun menikah rentan terhadap konflik dalam rumah tangga akibat usia dini/belum dewasa.
- Resiko sosial, salah satunya yaitu putus sekolah, bisa karena keinginan sendiri akibat rasa malu ataupun dikeluarkan dari pihak sekolah. Selain itu pula remaja tersebut dapat kehilangan masa remajanya, serta menjadi objek pembicaraan
- Resiko ekonomi, dimana memelihara anak dipastikan akan membutuhkan biaya.
b. Kehamilan diakhiri (Aborsi), dapat menimbulkan
- Resiko fisik, dimana aborsi yang dilakukan secara tidak aman/steril bisa berakibat fatal yaitu kematian, aborsi yang dilakukan secara berulang beresiko menyebabkan kemandulan, serta timbulnya perdarahan dan komplikasi
- Resiko psikis, pelaku aborsi sering mengalami perasaan-perasaan takut, stress, cemas, trauma akibat rasa sakit sewaktu dilakukan aborsi.
- Resiko sosial, dimana akan timbul rasa ketergantungan pihak perempuan terhadap laki-laki akibat perasaan sudah tidak suci lagi, sekolah terputus atau masa depan terganggu.
- Resiko ekonomi, dimana biaya utnuk aborsi cukup tinggi, apalagi bila disertai dengan komplikasi.
2) Infeksi Menular pada remaja
Infeksi Menular Seksual (IMS) pada remaja merupakan masalah global. Dampak IMS sangatlah luas, disamping akibat langsung dari penyakitnya, maka akibat dari penyulitnya akan menyebabkan kesengsaraan yang berat dan lama terutama pada perempuan.
IMS mempunyai korelasi yang tinggi dengan infeksi HIV. Infeksi dengan IMS membuat seseorang lebih rentan terhadap HIV, terutama dengan ulkus genital yang memungkinkan masuknya HIV melewati barrier kulit sehingga memudahkan transmisi HIV. Hubungan seksual tanpa proteksi merupakan resiko perilaku yang paling banyak pada remaja. Selain itu, penyalahgunaan obat /narkoba dengan menggunakan alat suntik juga merupakan penyebab resiko HIV pada remaja.
3) Penyimpangan orientasi seksual
Penyimpangan orientasi seksual seperti Homoseksual (Gay/Lesbian) dan Biseksual sejak dulu hingga saat ini masih merupakan suatu fenomena yang penuh dengan kontroversi. Perilaku ini dikaitkan dengan konotasi negative, yaitu orang tak bermoral sehingga beresiko untuk terjadi tindakan diskriminatif, kekerasan bahkan pembunuhan.
Remaja yang mengalami penyimpangan orientasi seksual secara umum hampir sama dengan remaja heteroseksual lainnya. Mereka cenderung menyembunyikanperasaan seksualitasnya dari teman dekat dan keluarga, karena itu mereka memiliki resiko tinggi terhadap depresi, penyalahgunaan obat, dan bunuh diri
6) Merokok
Merokok merupakan suatu kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun di lain pihak rokok juga dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok maupun orang-orang di sekitarnya. Kandungan nikotin pada rokok menyebabkan kecanduan, hal inilah yang membuat perokok sulit untuk menghentikan kebiasaan merokok. Terdapat faktor resiko untuk merokok, antara lain :
- Faktor Psikologis, dimana merokok dianggap dapat menjadi sebuah cara bagi remaja agar tampak bebas dan dewasa saat mereka menyesuaikan diri/bergaul dengan teman sebayanya yang merokok
- Faktor Biologi, berhubungan dengan faktor kognitif, jenis kelamin, etnik.
- Faktor Lingkungan, yang berperan dalam faktor ini antara lain orang tua, saudara kandung, teman sebaya yang memiliki kebiasaan merokok. Selain itu, reklame tembakau juga dapat mempengaruhi persepsi remaja terhadap manfaat dan penampilan merokok.
7) Depresi
Depresi adalah suatu penyakit jiwa dengan gejala utama sedih, yang disertai gejala-gejala psikologis lainnya, gangguan somatic maupun psikomotor dalam kurun waktu tertentu dan digolongkan ke dalam gangguan afektif. Mengidentifikasi anak remaja yang mengalami depresi dengan cara mengamati gejala eksternal antara lain ; prestasi akademik menurun, penyimpangan tingkah laku seperti gelisah atau agresif, bermasalah dalam hubungan interpersonal, membenci diri sendiri dengan sering membicarakan topic tentang bunuh diri.
Depresi pada remaja sering dominan berkaitan dengan penyimpangan perilaku, penyalahgunaan obat, penyimpangan seksual, keluhan fisik dan problema sekolah.
8) Kekerasan dan penelantaran
Kekerasan dan penelantaran pada remaja dapat terjadi di dalam maupun di luar lingkungan keluarga. Kekerasan dan penelantaran dapat menyebabkan gangguan bagi remaja untuk menyelesaikan tugas pertumbuhan dan perkembangannya. Faktor resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran pada remaja antara lain :
- Individu/remaja itu sendiri, dimana remaja dengan perilaku menyimpang/kenakalan remaja berpotensi menjerumuskan remaja kepada perilaku aniaya, berkonflik dengan penegak hukum sehingga beresiko mendapat perlakuan aniaya.
- Orang tua dan keluarga
Remaja yang dibesarkan dengan penganiayaan, hubungan keluarga yang tidak harmonis, orang tua pecandu obat ataupun alkohol, orang tua yang mengalami gangguan mental, ataupun orang tua yang memiliki anak sebelum berusia 20 tahun akibat belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial.
- Lingkungan sosial/komunitas
Faktor lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi terjadinya kekerasan dan penelantaran remaja antara lain ; kemiskinan dalam masyarakat, kondisi sosial ekonomi yang rendah, status wanita yang dianggap rendah, nilai masyarakat yang terlalu individualistis, sistem keluarga patriakal.
9) Bunuh Diri pada Remaja
Bunuh diri pada remaja merupakan fenomena terkini yang cukup mengkhawatirkan.Faktor resiko terjadinya bunuh diri antara lain :
- Faktor Biologis, dimana riwayat bunuh diri, seringkali terkait dengan adiksi zat psikotropika.
- Gangguan mental, dimana anak dengan diagnosis mengalami gangguan mental lebih beresiko melakukan bunuh diri dibandingkan populasi umum
- Penyalahgunaan zat, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol pada remaja memberikan resiko yang lebih tinggi terhadap kejadian bunuh diri karena pengaruhnya terhadap perubahan pola piker yang diakibatkan oleh zat-zat tersebut.
10) Kecelakaan
Kecelakaan merupakan suatu kejadian yang dapat timbul akibat kesengajaan maupun ketidaksengajaan, yang dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh manusia dan dapat diprediksi sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan. Macam dan bentuk kecelakan remaja antara lain :
- Kecelakaan kendaraan bermotor, baik kecelakaan penumpang, pejalan kaki, pengendara motor/sepeda, maupun kecelakaan di luar jalan raya
- Terjatuh, akibat berlari, mendaki, ataupun berjalan
- Luka bakar
- Tenggelam
- Kekerasan, seperti penganiayaan, ataupun bunuh diri
11) Masalah belajar
Keberhasilan dalam bidang pendidikan adalah salah satu tujuan utama pada masa remaja, sebab hal ini akan mempengaruhi keadaan ekonomi dan emosi pada masa dewasa. Dengan adanya gangguan dalam belajar dapat menghambat proses pencapaian keberhasilan tersebut, sehingga akan menimbulkan masalah, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tumbuh kembang remaja. Gangguan belajar dapat disebabkan antara lain oleh masalah penyakit dasar seperti retardasi mental, rasa malas, fokus kepada hal-hal yang menyenangkan saja, masalah emosi atau perilaku sehingga menyebabkan remaja sulit belajar di dalam kelas, masalah emosi dalam keluarga, stress ekonomi, lingkungan dan budaya.
12) Penyalahgunaan Obat
Penggunaan zat atau obat-obatan seperti alkohol, tembakau, heroin dan lain-lain di kalangan remaja sering terjadi, baik di negara berkembang maupun negara maju. Semua remaja memiliki resiko untuk menyalahgunakan obat-obatan. Namun ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan obat di kalangan remaja, antara lain :
- Faktor genetic, dimana remaja dari orang tua pecandu alkoholik/obat-obatan mempunyai resiko 3-4 kali lebih besar dibandingkan remaja lain untuk mengalami penyalahgunaan zat.
- Pola asuh, dimana remaja yang berasal dari keluarga anti sosial dan criminal, ataupun orang tua dengan disiplin yang ketat beresiko mengalami penyalahgunaan zat
- Pengaruh lingkungan, dimana pengaruh teman/orang-orang terdekat lebih besar dibanding orang yang tidak dikenal
- Riwayat depresi/kecemasan, remaja yang mengalami gangguan psikiatri mempunyai resiko penyalahgunaan obat dua kali lebih besar dibandingkan dengan remaja tanpa riwayat gangguan psikiatri
PENANGANAN DAN PENCEGAHAN MASALAH REMAJA
1. KLINIK REMAJA
Suatu tim multidisiplin lebih berhasil untuk menyelesaikan masalah remaja di klinik karena pendekatan tersebut akan menguntungkan. Dengan cara tersebut akan memberikan pelayanan medik sebagai keseluruhan, yaitu dapat mensahkan dan membenarkan adanya pemeriksaan psikologis, menghindari terjadinya perbedaan pendapat antar para professional yang terlibat, mempermudah dalam memeriksa kesehatan remaja secara komprehensif dan akan menyempurnakan hasil penelitian dengan dokumen dan catatan medik yang ada.
Tim spesialis yang perlu dibentuk adalah tim intervensi krisis, tim kekerasan fisik dan seksual, tim nutrisi dan gangguan makan, tim penyalahgunaan obat terlarang, dan tim untuk menyelesaikan masalah stress dan bunuh diri.
2. TERAPI PERILAKU DAN KOGNITIF
Terapi Perilaku adalah terapi yang memfokuskan diri pada mengubah perilaku yang dapat diamati, sementara Terapi Kognitif adalah terapi yang memfokuskan diri pada mengubah pikiran.
Tujuan dari terapi perilaku dan terapi kognitif adalah membantu klien dalam mengubah perilaku dan kognitifnya yang salah, menuju ke hal yang lebih baik, yang dapat diterima oleh lingkungan sosial dan dirinya sendiri.
Peran terapis dan klien haruslah aktif, saling berkolaborasi. Dalam pertemuan terapi, masalah empati, kehangatan dan kelembutan yang akurat harus ditunjukkan oleh terapis. Hubungan baik antara klien dan terapis merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dapat dicapai dengan kerjasama dan saling pengertian antara kedua belah pihak.
3. TERAPI KELUARGA
Terapi Keluarga merupakan bentuk terapi kelompok untuk mengatasi permasalahan keluarga dengan tingkat konflik yang tinggi dan spesifik, dilakukan oleh terapis yang berkompeten bekerja sama dengan keluarga dengan berbagai kolaborasi yang bisa dimanfaatkan, sehingga diperoleh hasil yang optimal.
Semua intervensi yang dilakukan dalam terapi keluarga difokuskan untuk merubah interaksi di antara anggota keluarga dan memperbaiki fungsi keluarga.
Terapi keluarga melibatkan orang tua/keluarga yang sah secara hukum, tidak boleh melibatkan individu-individu yang tidak secara teratur terlibat dalam kehidupan anak/remaja.
Ada enam jenis variasi terapi keluarga, yaitu :
- Psikodinamik
- Experimental/Existential
- Intergenerational/Bowenian(Family system Therapy)
- Struktural
- Strategik
- Terapi Kognitif/Terapi Perilaku
4. TERAPI PSIKOFARMAKO
Terapi Psikofarmako difokuskan pada remaja dengan gangguan kejiwaan. Terapi yang diberikan harus disesuaikan dengan gejala-gejala gangguan jiwa yang timbul.
Saat ini obat psikofarmako yang umum diberikan antara lain :
- Obat Anti psikotik
- Obat Anti cemas
- Obat Anti depresan
- Obat Anti mania
5. IMUNISASI
Imunisasi pada remaja saat ini belum mendapat perhatian dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan oleh :
- Imunisasi yang diberikan pada masa anak-anak dianggap sudah cukup dan akan berlaku untuk seumur hidup
- Daya tahan remaja dianggap sudah baik sehingga apabila sakit tidak akan mengancam jiwa
Sebenarnya, imunisasi pada masa remaja sangat penting, sebab :
- Imunisasi yang diberikan pada masa anak-anak tidak berlangsung seumur hidup
- Penyakit anak-anak masih mungkin diderita oleh remaja, bahkan biasanya lebih berat
- Selain secara alami, penularan penyakit pada remaja/dewasa juga terjadi akibat gaya hidup
- Penyakit yang diderita oleh remaja/dewasa dapat menular ke pasangan dan juga keturunannya.
Jenis imunisasi yang diberikan pada remaja antara lain :
a. Imunisasi Hepatitis B
Hepatitis B merupakan penyakit endemic di hampir seluruh negara di dunia. Pada remaja dan dewasa, pemberian imunisasi HB didahului dengan skrining pra-imunisasi. Tujuannya adalah untuk menghindari imunisasi pada individu yang terbukti mengidap virus HB dan yang telah memiliki kekebalan yang efektif. Dosis vaksin untuk remaja/dewasa yaitu 1cc, disuntukkan intra muscular, jadwal pemberiannya yaitu imunisasi dasar sebanyak 3 kali, dilanjutkan dengan imunisasi kedua 1 bulan setelah imunisasi dasar, dan imunisasi ketiga 6 bulan setelah imunisasi dasar.
b. Imunisasi Tetanus
Pemberian imunisasi tetanus pada remaja tergantung dari status imunisasi, dan hanya dilakukan pada luka yang kemungkinan besar terkontaminasi.
c. Imunisasi Varicella
Varicella jika diderita oleh remaja/dewasa umumnya akan lebih berat, sering disertai infeksi sekunder pada kulit, disertai pneumonia yang dapat berakibat fatal. Untuk itu, pemberian vaksin varicella sangat penting.
KIAT GAYA BERPACARAN YANG SEHAT
Adalah sesuatu yang mustahil, melarang remaja untuk melakukan interaksi dengan lawan jenisnya. Proses interaksi yang lebih lanjut yang diwujudkan dengan berpacaran merupakan hal yang wajar dan baik bagi pengembangan aspek kematangan emosional remaja itu sendiri. Namun, harus ada rambu-rambu yang dipasang agar tidak terjadi berpacaran yang berlebihan, apalagi sampai melakukan hubungan seksual dan terjadi kehamilan yang tidak diinginkan dan pada akhirnya mengambil jalan pintas dengan menggugurkan kandungan. Untuk itu hal-hal di bawah ini perlu mendapatkan perhatian:
1. Hati - hati berpacaran
Setelah melalui fase “ketertarikan” maka mulailah pada fase saling mengenal lebih jauh alias berpacaran. Saat ini adalah saat paling tepat untuk mengenal pribadi dari masing-masing pasangan. Sayangnya, tujuan untuk mengenal pribadi lebih dekat, sering disertai aktivitas seksual yang berlebihan. Makna pengenalan pribadi berubah menjadi pelampiasan hawa nafsu dari masing-masing pasangan. Ungkapan kasih sayang tidak seharusnya diwujudkan dalam bentuk aktivitas seksual.
Saling memberi perhatian, merancang cita-cita serta membuka diri terhadap kekurangan masing-masing merupakan bagian penting dalam masa berpacaran. Aktivitas fisik seperti saling menyentuh, mengungkapkan perasaan kasih sayang, … adalah hal tidak terlalu penting, namun sering dianggap sebagai bagian yang indah dari masa berpacaran. Pada batas-batas tertentu hal ini dapat diterima, namun lebih dari aktivitas tersebut, apalagi pada hal-hal yang menjurus pada hubungan seksual tidak dapat diterima oleh norma yang kita anut. Karena justru aktivitas seksual akan mengotori makna dari pacaran itu sendiri.
2. “No Seks”
Katakan “tidak”, jika pasangan menghendaki aktivitas berpacaran melebihi batas. Terutama bagi remaja putri permintaan seks sebagai “bukti cinta”, jangan dipenuhi, karena yang paling rugi adalah pihak wanita. Ingat, sekali wanita kehilangan kegadisannya, seumur hidup ia akan menderita, karena norma yang dianut dalam masyarakat kita masih tetap mengagungkan kesucian. Berbeda dengan wanita, keperjakaan pria tidak pernah bisa dibuktikan, sementara dengan pemeriksaan dokter kandungan dapat ditentukan apakah seorang gadis masih utuh selaput daranya atau tidak.
3. “Rem Keimanan”
Iman, merupakan rem paling pakem dalam berpacaran. Justru penilaian kepribadian pasangan dapat dinilai saat berpacaran. Mereka yang menuntut hal-hal yang melanggar norma-norma yang dianut, tentunya tidak dapat diharapkan menjadi pasangan yang baik. Seandainya iapun menjadi suami atau istri kelak tentunya keinginan untuk melanggar norma-norma pun selalu ada. Untuk itu, “Say Good Bye” sajalah…! Masih banyak kok pria dan wanita yang mempunyai iman dan moral yang baik yang kelak dapat membantu keluarga bahagia.
4. Bahaya Kehamilan di Usia Muda
Kehamilan terjadi jika terjadi pertemuan sel telur pihak wanita dan spermatozoa pihak pria. Dan hal itu biasanya didahului oleh hubungan seks. Kehamilan pada remaja sering disebabkan ketidaktahuan dan tidak sadarnya remaja terhadap proses kehamilan. Bahaya kehamilan pada remaja:
1. Hancurnya masa depan remaja tersebut.
2. Remaja wanita yang terlanjur hamil akan mengalami kesulitan selama kehamilan karena jiwa dan fisiknya belum siap.
3. Pasangan pengantin remaja, sebagian besar diakhiri oleh perceraian (umumnya karena terpaksa kawin karena nafsu, bukan karena cinta).
4. Pasangan pengantin remaja sering menjadi cemoohan lingkungan sekitarnya.
5. Remaja wanita yang berusaha menggugurkan kandungan pada tenaga non medis (dukun, tenaga tradisional) sering mengalami kematian strategis.
6. Pengguguran kandungan oleh tenaga medis dilarang oleh undang-undang, kecuali indikasi medis (misalnya si ibu sakit jantung berat, sehingga kalau ia meneruskan kehamilan dapat timbul kematian). Baik yang meminta, pelakunya maupun yang mengantar dapat dihukum.
7. Bayi yang dilahirkan dari perkawinan remaja, sering mengalami gangguan kejiwaan saat ia dewasa.
Disamping terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki, seks yang dilakukan sebelum menikah akan mengandung berbagai masalah antara lain tuntutan suami akan keperawanan, berbagai penyakit kelamin (termasuk AIDS), stress berkepanjangan, kemandulan (karena infeksi) dan lain-lain.
5. Kiat Sadar Diri
Yang sering terjadi adalah pasangan lepas kendali karena terbuai aktivitas berpacaran. Untuk itu berikut beberapa tips agar tidak terbuai:
1. Niatkan bahwa tujuan berpacaran adalah untuk saling mengenal lebih dekat.
2. Hindari tempat yang terlalu sepi atau tempat yang mengandung aktivitas seksual.
3. Hindari makan makanan yang merangsang sebelum/selama pacaran.
4. Hindari bacaan/film porno yang merangsang sebelum/selama pacaran.
5. Jangan dituruti kalau pasangan menuntut aktivitas pacaran yang berlebihan, sambil mengingatkan bahwa hal itu akan mengotori tujuan dari berpacaran.
Oleh karena itu bahwa gaya pacaran yang sehat merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Gaya pacaran yang sehat mencakup berbagai unsur yaitu sebagai berikut:
1. Sehat Fisik.Tidak ada kekerasan dalam berpacaran. Dilarang saling memukul, menampar ataupun menendang.
2. Sehat Emosional.Hubungan terjalin dengan baik dan nyaman, saling pengertian dan keterbukaan. Harus mengenali emosi diri sendiri dan emosi orang lain. Harus mampu mengungkapkan dan mengendalikan emosi dengan baik.
3. Sehat Sosial.Pacaran tidak mengikat, maksudnya hubungan sosial dengan yang lain harus tetap dijaga agar tidak merasa asing di lingkungan sendiri. Tidak baik apabila seharian penuh bersama dengan pacar.
4. Sehat Seksual.Dalam berpacaran kita harus saling menjaga, yaitu tidak melakukan hal-hal yang beresiko. Jangan sampai melakukan aktivitas-aktivitas yang beresiko, apalagi melakukan hubungan seks.
——–
Hasil seminar sehari bersama dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS pada peringatan hari AIDS sedunia di UWKS surabaya pada tanggal 24 Desember 2005.
Kutipan dari http://www.antonbahagia.com/modules.php?name=News&file=print&sid=7
BAB III
PENUTUP
Remaja dalam tahap tumbuh kembangnya juga sangat potensial untuk tumbuh menjadi seorang dewasa muda yang memiliki potensi individu yang baik sehingga siap berperan penuh sebagai seorang individu mandiri dan porduktif. Pendekatan yang baik dari keluarga yang tidak dominan bersifat instruktif dan menetapkan disiplin tinggi nampak memberi keberhasilan mengarahkan remaja mencapai tugas perkembangannya.
Pendekatan dengan memberi sedikti kebebasan disertai dengan tanggung jawab terhadap diri maupun terhadap tugas peran remaja sebagai anggota keluarga, maupun sebagai pelajar atau mahasiswa perlu ditekankan keluarga dalam rangka mengarahkan remaja.
Perawat sebagai partner dan advocat keluarga dalam membuat keputusan terkait kesehatan baik sehat maupun sakit, kiranya perlu memberikan pemahaman kepada keluarga mengenai keunikan karakteristik tumbuh kembang pada tahap ini.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan. Edisi 6. 1999. Jakarta : EGC
Friedman, M.Marilyn. Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek. Edisi 3 1998. Jakarta : EGC
Narendra, B Moersintowati dkk. Buku Ajar I : Tumbuh Kembang Anak dan Remaja IDAI Edisi 1 2005 Jakarta : Sagung Seto
Prof.dr. Soetjiningsih, SpA(K), IBCLC. Buku Ajar Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. 2004 Jakarta : Sagung Seto Read More..
